Kewajiban Wanita Muslimah terhadap Kerabat idak pernah lepas dari ingatan wanita Muslimah yang senantiasa disinari hidayah agamanya bahwa kerabatnya memiliki hak atas dirinya, dan dia dituntut untuk mempererat hubungan dan berbuat baik terhadap mereka. Yang dimaksud dengan kerabat adalah semua orang yang memiliki hubungan nasab, baik dari ahli waris maupun non ahli waris.

Penghormatan Islam terhadap Kaum Kerabat

Islam telah sedemikian besarnya memberikan penghormatan terhadap kerabat, yang semua orang tidak akan mendapatkannya pada agama, hukum positif, sistem atau filsafat non Islam. Di mana Islam menganjurkan untuk melakukan hubungan kekerabatan dan sangat membenci orang yang menolak atau memutuskan hubungan kekerabatan tersebut.

Penghormatan Islam terhadap kerabat ini terlihat pada gambaran yang dilukiskan Rasulullah dalam hadits tentang menyambung tali kekerabatan di dunia ini, dan beliau senantiasa menjauhkan diri dari memutuskannya. Allah telah memberikan jaminan bahwa Dia akan menyambung orang yang menyambung tali persaudaraan, dan memutuskan orang yang memutuskan persaudaraan. Hal itu disampaikan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ,

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, hingga ketika selesai menciptakan mereka itu, kaum kerabat berdiri seraya berkata Ini adalah tempat kembalinya orang yang kembali kepada-Mu setelah memu-tuskan silaturahmi.’ Dia befirman, ‘Benar, apakah engkau rela aku menyambung orang yang menyambung tali persaudaraan denganmu, dan memutuskan orang yang memutuskan tali persaudaraan denganmu? kaum kerabat bertutur, “Tentu.’ Maka Allah befirman, ‘Yang demikian itu untukmu.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Kalau berkehendak, bacalah ayat,

Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka. ” (Muhammad: 22-23)

Telah banyak ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim yang menegaskan kedudukan kerabat dalam Islam, dan memerintahkan supaya berlaku baik kapada mereka dan memperingatkan agar tidak berbuat jahat kepada mereka, baik dengan menyakitinya. Di antara ayat tersebut adalah,

Dan, bertakwalah kepada Allah yarng dengan mempergunakan Nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. ” (An-Nisa’: 1)

Melalui ayat tersebut Allah telah memerintahkan manusia supaya bertakwa kepada Allah dan memuji kerabat sebagai penghormatan bagi-nya, sekaligus sebagai penegasan atas kedudukannya yang penting dan sebagai perintah untuk segera menyambungnya. Agar penyebutan tali kekeluargaan ini tetap hidup dan segar dalam ingatan kaum Muslimin, Allah memerintahkan dalam banyak ayat supaya menyambung tali kekeluargaan dan berbuat baik kepada kerabat setelah menyebut iman kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua,

“Dan, Rabb-mu telah memerintahkan supaya kalian tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapakmu.” (Al-Isra’: 23)

Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga dekatmu akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara bows.” (Al- Isra’: 26)

Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan, berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, 14 teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An-Nisa’: 36)

Pada ayat di atas, berbuat baik kepada kerabat menduduki peringkat setelah berbuat baik kepada orang tua, di mana bimbingan Al-Qur’an menggunakan urutan dari peringkat tertinggi ke peringkat terendah, dengan menerangkan urutan hubungan kemanusiaan. Di mulai dari orang tua, kerabat, anakyatim, orang miskin, ibnu sabil, dan tetangga.

Demikian itulah perbuatan baik bertolak dan semakin meluas, di mana kebaikan akan tertuju kepada kerabat kita yang terdekat secara berurutan pula dan meluas sampai kepada semua orang yang membutuhkan dalam kehidupan dunia ini. Bimbingan Al-Qur’an itu mengurutkan seperti itu sesuai dengan kecenderungan manusia yang memulai berbuat baik dari orang yang paling dekat darinya, dan sekaligus sebagai pengamalan terhadap manhaj Islam dalam mengatur masyarakat Islam, di mana manhaj Islam telah menjadikan tanggung jawab sosial dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian ke lingkungan kerabat, dan selanjutnya meluas sampai ke lingkungan sosial, dalam rangka merealisasikan hubungan kekerabatan, kasih sayang dan tali silaturahmi antarmanusia, dengan menyebar kebahagiaan, kegembiraan dan rasa optimisme dalam kehidupan. Di antara penghormatan Islam terhadap kerabat ini adalah dia menjadikan beberapa pinsip dan pokok-pokok terbesar dalam penyambungan tali kekeluargaan ini, yang telah diperlihatkan Islam kepada umat manusia dari sejak hari pertama perjalanan kehidupan Rasulullah menunaikan titah Allah dengan menjelaskan dasar-dasar agama yang baru ini seraya menerangkan ajaran-ajarannya, di mana dia menjadi-kan prinsip hubungan kekeluargaan ini sebagai satu ajaran yang paling tarnpak dan jelas, Hal itu dapat kita temukan dalam hadits Abu Sufyan yang panjang bersama raja Heraklius, pada saat mana Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan, “Apa yang diperintahkan Nabi kalian?”
Abu Sufyan menjawab, “Dia memerintahkan kami, beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkanlah apa yang diyakiní oleh nenek moyang kalian. Beliau juga memerintah kami supaya mengerjakan shalat, jujur, memelihara kesucian diri, dan menyambung tali kekeluargaan.” (Muttafaq Alaih).

Saudaraku, Silaturahmi (menyambung tali kekeluargaan) termasuk ajaran pokok dalam agama ini, beranjak dari pengesaan Allah, kemudiaan mendirikan shalat, berpegang pada kejujuran dan kesucian. Bertolak dari hal tersebut, silaturahmi termasuk keistimewaan agama ini seperti yang dipaparkan Abu Sufyan kepada raja Heraklius yang bertanya tentang Islam pada saat pertama kali, untuk menanyakan suatu hal terpenting dari apa yang dibawa lslam.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 215-118)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

,

Tinggalkan Balasan