Setiap manusia dilahirkan dalam keadaa suci tanpa dosa. Dalam agama Islam, ketika manusia telah beranjak dewasa dan mencapai masa akil balig barulah dimulai pencatatan dosa dan kebaikan sampai ia meninggal dunia.

Saat manusia itu telah menjalani kehidupannya maka akan lahir dua sisi sifat yaitu manusia yang baik dan manusia yang jahat. Perbuatan jahat inilah disebut tindak kriminal. Cesare Lombroso, seorang kriminolog Italia yang pada tahun 1876 menjelaskan teori ‘determinisme antropologi’ yang menyatakan kriminalitas adalah ciri yang diwariskan atau dengan kata lain seseorang dapat dilahirkan sebagai “kriminal”.

Ciri kriminal dapat diidentifikasi dengan ciri fisik seseorang, contohnya: rahang besar, dagu condong maju, dahi sempit, tulang pipi tinggi, hidung pipih atau lebar terbalik, dagu besar, sangat menonjol dalam penampilan, hidung bengkok atau bibir tebal, mata licik, jenggot minim atau kebotakan dan ketidakpekaan terhadap nyeri, serta memiliki lengan panjang.

Ia menyimpulkan juga kebanyakan kejahatan dilakukan oleh laki-laki. Perempuan yang melakukan kejahatan artinya terjadi degenarasi atau kemunduran. Ia berpandangan harusnya sikap pasif, kurangnya inisiatif dan intelektualitas perempuan membuatnya sulit melakukan kejahatan.

Namun teori ini tentu tidaklah mutlak adanya. Karena seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman membuat manusia juga ikut mengalami revolusi. Manusia-manusia yang bersifat jahat tidak bisa lagi dilihat dan dinilai dari penampilan luarnya saja, sesuai yang dikatakan oleh Cesare Lombroso sebelumnya.

Karena zaman sekarang kita mudah tertipu oleh penampilan. Lihat saja para tikus berdasi itu, mereka adalah manusia-manusia cerdas, berpendidikan dan tentunya good looking tapi sungguh suatu fakta yang sudah menjadi rahasia umum bahwa di balik kemeja berdasi itu adalah manusia-manusia jahat yang tega dan tanpa malu telah mencuri uang rakyat demi memperkaya dirinya sendiri.

Contoh tindak kejahatan lain yang tak kalah mengejutkan dan membuat hati ini miris. Masih ingat berita yang viral beberapa waktu silam yaitu seorang wanita cantik, Isabella Guzman yang membunuh ibunya dengan menikamnya sebanyak 79 kali.

Lalu bagaimana dengan aksi terorisme berkedok ‘jihad’ yang sedang marak terjadi saat ini? Tentu tindakan tersebut adalah sebuah kejahatan, tidak hanya melanggar norma hukum positif tapi juga menyimpang dari ajaran agama terutama agama Islam.

Sebelum melangkah pada pembahasan lainnya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian terorisme itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Aksi terorisme dimaknai sebagai usaha seseorang atau sekelompok orang menciptakan kengerian, ketakutan, dan kekejaman kepada seseorang atau golongan tertentu, terutama tujuan politik. Jika merujuk pada pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 terkait pemberantasan tindak pidana terorisme dimaknai sebagai aksi atau perbuatan yang melanggar ketentuan hukum untuk menghancurkan dan membahayakan kedaulatan Negara dilakukan dengan kekerasan atau ancaman sehingga menimbulkan teror dan ketakutan serta dapat menimbulkan korban secara massal.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa aksi terorisme merupakan suatu aksi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok untuk memberikan rasa takut dan tidak segan melukai atau menimbulkan korban jiwa.

Sedangkan pengertian jihad, dalam buku Al-Jihadu Sabiluna, karya Abdul Baqi Ramdhun, jihad berarti usaha dan peperangan. Ini merupakan bentuk kesanggupan dan kemampuan lain dalam peperangan melawan orang-orang kafir, baik secara langsung mau tidak. Baik dalam bentuk penyediaan materi, memberikan pendapat, memperbanyak jumlah tentara maupun bentuk lainnya.

Definisi jihad menurut Hasan Al-Banna, seperti yang dikutip Yusuf Qardhawi, jihad adalah salah satu kewajiban muslim yang berkelanjutan hingga hari kiamat, tingkat terendahnya berupa penolakan hati atas keburukan atau kemungkaran dan tingkat tertinggi adalah berperang di jalan Allah.

Ahmad Warson Munawir mengartikan jihad sebagai kegiatan mencurahkan segala kemampuan. Jika lafal jihad dirangkai dengan lafal fi sabilillah, berarti berjuang, berjihad dan berperang di jalan Allah. Jadi kata jihad artinya perjuangan. (Jihad menurut Sayid Qutub dalam Tafsir Zhilal, karya Drs. Muhammad Chirzin.)

Dari pengertian inilah dapat kita simpulkan bahwa aksi terorisme bukanlah jihad melainkan tindak kejahatan kemanusiaan yang terlaknat.

Aksi terorisme yang sedang marak terjadi di berbagai negara adalah suatu fenomena yang tidak bisa dianggap remeh. Kita tidak bisa lagi menutup mata akan hal tersebut. Karena semakin kita menutup mata maka semakin jelas jalan itu terlihat. Aksi terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang ini telah berhasil mengubah sedikit banyaknya tatanan kehidupan bernegara.

Jika sebelumnya hanya ada aturan hukum tentang tindak kriminal secara umum namun munculnya aksi terorisme memaksa agar dibuatkan peraturan khusus terkait tindak kejahatan terorisme. Contohnya di Indonesia yaitu ditetapkannya UU No. 15 tahun 2013 tentang Terorisme. Usaha ini dilakukan demi memerangi musuh negara yaitu para pelaku terorisme.

Karena aksi ini bukan hanya mengakibatkan korban jiwa tapi mengancam keselamatan, keamanan dan ketenteraman negara. Kita bisa lihat banyaknya terjadi aksi terorisme di negara kita Indonesia, bom Bali 2002 silam, ledakan bom mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta, bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia saat itu, juga aksi terorisme baru-baru ini di awal 2021 bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Semua pelaku merupakan anggota dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang juga melakukan serangkaian teror di Surabaya pada 2018. Kemudian terakhir terjadi penembakan di Mabes Polri, 31 Maret 2021.

Semua aksi terorisme ini tentu menimbulkan dampak besar dalam kehidupan masyarakat. Kerugian materi, hilangnya nyawa, korban luka-luka, hancurnya fasilitas umum dan kerugian lainnya. Hingga akhirnya memengaruhi pola pikir masyarakat atas aksi terorisme ini. Munculnya stigma di kalangan masyarakat awam bahwa pelaku terorisme adalah seorang atau sekelompok muslim yang mengatasnamakan jihad tidak dapat dihindari lagi.

Mereka yang menyatakan pendapatnya bukan hanya orang non muslim tapi sungguh miris ternyata yang mengaku muslim itu sendiri ikut menyalahkan agamanya.

Inilah yang menjadi masalah terbesar dan tugas berat bagi para pendakwah untuk menjelaskan kepada masyarakat awam bahwa terorisme bukanlah bagian dari Islam. Tindak terorisme adalah perbuatan menyimpang baik secara hukum negara terlebih hukum agama.

Membunuh manusia dengan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at merupakan dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. QS Al-Isra:33.

Pada pembahasan sebelumnya mengenai defenisi jihad yaitu memerangi kaum kafir di jalan Allah maka bagaimana dengan aksi terorisme berkedok jihad yang selama ini bersarang diotak pelaku teror?

Tidak semua orang kafir memusuhi kaum muslimin. Oleh karena itu, agama Islam mengajarkan sikap yang berbeda terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin dengan orang-orang kafir yang tidak memerangi.

Orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin, mereka berhak mendapatkan balasan yang setimpal. Sebagaimana firman Allah:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 190).

Adapun orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, Allah Azza wa Jalla berfirman : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Oleh karena itu, Islam melarang membunuh orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin, yaitu orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man.

Membunuh orang kafir dengan tanpa haq dilarang, lalu bagaimana jika yang dibunuh dengan sengaja adalah jiwa seorang mukmin? Tentu, lebih terlarang lagi dan dosanya lebih besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman berat, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (QS. An-Nisa`:93).

Hal inilah yang dilakukan saat ini oleh zionis Israel terhadap Palestina. Aksi terorisme yang telah terjadi bertahun-tahun tanpa ada titik kejelasan kapan akan berakhirnya aksi terorisme tersebut. Tujuan mereka ingin menghancurkan tanah Al Quds, Palestina secara perlahan dengan melakukan aksi teror membuat rakyat Palestina setengah mati.

Ini adalah tindak kejahatan yang nyata adanya harus mendapat pembelaan. Namun nyatanya, tak semua negara melakukannya. Hanya negara-negara yang benar-benar memiliki rasa kemanusian masih memberi pembelaan dan bantuannya kepada Palestina.

Lalu bagaimana dengan negara lain, bukan hanya karena tidak adanya lagi rasa kemanusian itu tapi stigma yang telah bersarang di otak mereka bahwa Islam itu sendirilah yang teroris lalu untuk apa peduli? Atau pendapat lain mengatakan untuk apa membantu Palestina jika hidup kita pun masih susah? Kalimat itu bahkan keluar dari mulut seorang muslim.

Padahal perintah jihad jelas dalam Al Qur’an sebagaimana firman Allah, “Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. At-Tahrim: 9).

Sesuai defenisi jihad yaitu berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir (musuh Islam) serta mengerahkan segala kemampuan baik fisik dan materi, inilah yang seharusnya kita lakukan. Bukan hanya karena rasa kemanusian tapi kita paham bahwa kewajiban sesama muslim kita harus saling tolong menolong dalam kebaikan.

Itulah jihad yang sesungguhnya jika kita mengaitkan dengan peperangan usaha membela agama Allah. Bukan jihad yang dikatakan oleh mereka berpaham radikalisme dengan membunuh orang-orang yang mereka anggap wajib dibunuh dengan iming-iming masuk syurga tanpa penghalang.

Pemahaman semacam inilah yang perlu diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman, agar dapat mencegah berkembangnya bibit radikalisme dengan aksi terorisme berkedok jihad. Tugas ini tidak hanya untuk para pendakwah tapi tugas penting bagi aparat pemerintah, aparat keamanan serta tenaga pendidik untuk memberikan edukasi kepada anak-anak bangsa sedini mungkin tentang bahaya terorisme.

***********

Penulis: Andi Marlina

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan