Pemain muda fenomenal FC Barcelona, Lamine Yamal, menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia setelah mengibarkan bendera Palestina di tengah euforia perayaan Barcelona meraih gelar juara Liga Spanyol.
Tindakan sederhana namun penuh makna itu langsung viral dan menuai beragam reaksi, termasuk dari Negara Palestina sendiri.
FC Barcelona resmi mengunci gelar juara Liga Spanyol setelah mengalahkan Real Madrid 2-0 dalam laga El Clásico yang dramatis. Kemenangan itu membuat Barcelona tak terkejar dengan tiga hari pertandingan tersisa. Ratusan ribu pendukung setia Blaugrana kemudian memadati jalan-jalan Barcelona untuk merayakan keberhasilan tim kebanggaan mereka.
Sekitar 750.000 orang menyambut para pemain yang berkeliling kota dengan bus terbuka pada Senin (11/5). Di atas bus itulah, Lamine Yamal, yang saat ini masih dalam masa pemulihan cedera namun tetap dipanggil untuk membela Spanyol di Piala Dunia, melakukan aksi yang menggetarkan jutaan pasang mata.
Ia dengan lantang mengibarkan bendera Palestina.
Sontak saja, aksi Lamine Yamal ini tidak luput dari perhatian netizen. Akun resmi pemerintah Palestina di media sosial X turut merespons dengan penuh apresiasi. Unggahan itu dengan cepat mendapatkan ribuan tanda suka dan dukungan dari warganet di seluruh dunia.
Para politisi Eropa juga angkat bicara. Gabriel Rufián, juru bicara partai Catalan sayap kiri ERC di Parlemen Spanyol, menyampaikan, “Lamine Yamal memiliki 42 juta pengikut di Instagram. Dampaknya sangat besar pada jutaan orang di seluruh dunia. Mungkin hari ini, banyak dari mereka yang tadinya acuh tak acuh, menjadi tergerak untuk mengecam genosida di Gaza, hanya karena dia mengibarkan bendera Palestina.”
Pernyataan Rufián menyentuh esensi dari aksi simbolis yang dilakukan oleh pesepak bola berusia belasan tahun ini. Sebuah bendera kecil yang berkibar di atas bus juara, ternyata mampu mengguncang hati nurani global.
Tidak hanya di Spanyol, politisi Prancis François Piquemal dari partai kiri La France Insoumise juga ikut berkomentar. Dengan nada setengah bercanda namun penuh makna, ia mengatakan bahwa rakyat Prancis tentu akan mendukung tim nasional mereka sendiri di Piala Dunia nanti. Namun ia menambahkan, “Jika Spanyol yang menang, itu juga tidak apa-apa. Atau Lamine Yamal, Borja Iglesias, Pedro Sánchez, dan yang lainnya.”
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ditanya oleh wartawan tentang pendapatnya terkait aksi Lamine Yamal. Dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom, yang membahas wabah hantavirus, Sánchez menyempatkan diri untuk memberikan tanggapan.
Ia mengingatkan kembali bahwa Spanyol secara konsisten mengakui hak Palestina untuk eksis. Bahkan Spanyol termasuk salah satu pemimpin di komunitas internasional yang paling vokal mendefinisikan tindakan Israel di Gaza sebagai genosida.
Dengan kata lain, aksi Lamine Yamal tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gelombang kesadaran yang lebih besar di kancah Eropa, di mana semakin banyak suara-suara penting yang menolak diam melihat penderitaan rakyat Palestina.
Simbol Kecil, Makna Besar
Lamine Yamal bukanlah pesepak bola pertama yang menunjukkan dukungan untuk Palestina. Namun karena popularitasnya yang luar biasa, terutama di kalangan anak muda, serta jangkauan media sosialnya yang mencapai puluhan juta pengikut, aksinya kali ini terasa begitu istimewa.
Di tengah gempuran berita tentang konflik, politik, dan krisis global, seorang remaja yang baru berusia 17 tahun (pada tahun 2025) telah mengingatkan dunia bahwa solidaritas tidak pernah mengenal usia, profesi, atau batas negara.
Dalam setiap kibaran bendera Palestina yang ia tunjukkan, ada harapan. Ada doa. Ada seruan bahwa keadilan harus ditegakkan, bahwa genosida harus dihentikan, dan bahwa rakyat Palestina pantas mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.
Pesan Kemanusiaan
Di hari ketika Barcelona merayakan kejayaan sepak bola, di saat yang sama ada sebuah pesan kemanusiaan yang melambung tinggi. Lamine Yamal mengajarkan kita bahwa tidak ada perayaan yang lengkap tanpa kepedulian terhadap sesama.
Semoga aksi sederhana ini terus menginspirasi banyak orang untuk tidak pernah berhenti mengangkat isu Palestina, baik di atas panggung dunia, di lapangan hijau, maupun di setiap sudut kehidupan kita. Free Palestine. Visca Barça. Visca la humanidad !
Penulis: Ali Farkhan Tsani (MINA)













































































