MUJAHIDDAKWAH.COM, YOGYAKARTA – Saladin Camp ke-7 yang diselenggarakan oleh Saladin Community dan Ummah Internasional sukses terlaksana di Yogyakarta, mulai dari Level Beginner, Intermediate I dan II, Level Advance dan Tingkat Eksekutif, mulai pada tanggal 3-15 Safar 1948 H / 17 – 29 Juli 2026.
Kegiatan yang bertempat di Asrama Haji dan BLPT Yogyakarta ini diikuti 413 peserta disemua tingkatan, dengan berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pengusaha, aktivis, mahasiswa hingga ibu rumah tangga, dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Riau, Makassar, Bandung, Solo dan mayoritas peserta dari Yogyakarta.
“Saladin Camp adalah bagian dari program Saladin Community yang berada di bawah organisasi Ummah Internasional. Kita bergerak di atas prinpip bahwa ilmu pengetahuan membawa pada perubahan, pembebasan dan peradaban. Saya mengajak kepada kita semua untuk bergabung di Ummah Internasional untuk menjadi generasi pembebas Masjid al-Aqsa dan Baitul Maqdis di masa yang akan datang,” ujar Ghufran Mustaqin dalam salah satu sambutannya.
Ummah International adalah sebuah gerakan tajdīd (pembaharuan Islam), di mana para pengusaha, profesional, dan intelektual menempuh pertumbuhan spiritual, intelektual, dan fisik demi membentuk generasi pemimpin yang layak menyandang gelar Amīn al-Ummah (mereka yang dapat dipercaya oleh umat). Kaderisasi ini terwujud dalam Saladin Camp, yang hingga kini telah meluluskan 1000 lebih alumni.
“Selama Saladin Camp ini, kita telah hidup dengan ilmu dan ilmu hidup bersama kita. Ilmu bertransformasi menjadi amal dan aksi yang nyata. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal dan menjadi sumber harapan, serta membentuk identitas,” ungkap Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi.

“Ilmu membawa perubahan dan perubahan itu di mulai dari kita sendiri, yang akhirnya dari perubahan kita secara konfrehensif akan membawa pada pembebasan dan peradaban. Karenanya, seorang al-Maqdisi adalah mereka yang memikul amanah dan tanggungjawab yang besar untuk pembebasan, dan dia berjuang dinegaranya sesuai dengan kemampuan yang dia miliki,” tambahnya.
Al-Nāṣir Ṣalāḥuddīn membebaskan Baitul Maqdis dengan pena Al-Qāḍī al-Fāḍil. Seperti pengamatan Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi, bawha pena Al-Qāḍī al-Fāḍil adalah sebuah institusi. Dan institusi tersebut sekarang adalah Saladin Community dan Ummah International dengan cita-cita menjadi pena itu untuk pembebasan yang akan datang.
“Kita adalah pilihan Allah swt untuk mengisi kekosongan perjuangan yang telah terlupakan oleh umat ini selama 108 tahun. Umat telah melakukan berbagai upaya politik dan militer namun terus mengalami kegagalan, karena melupakan salah satu pondasi dasar yaitu persiapan ilmu (I’dad Ma’rifi). Maka tugas utama kita adalah melakukan I’dad Ma’rifi, dan Indonesia adalah leader utama yang akan memainkan peran besar untuk pembebasan di masa yang akan datang,” tegas Prof. Abd al-Fattah.

Pada Kelas Eksekutif, Prof. Abd al-Fattah mendorong peserta untuk berdiskusi secara strategis mengenai perluasan I’dād Ma’rifi di seluruh Indonesia dan secara global, serta meemberi nasehat tazkiyah kepada para peserta.
“Tazkiyah diri kita, bahwa sepanjang apapun umur kita. Maka kembali kepada Allah adalah jalan terkahir kita. Banggalah dengan sesuatu yang Allah swt muliakan kita dengannya yaitu Islam. Buat Nabi Muhammad saw bangga kepada diri kita atas perjuangan yang kita lakukan saat ini, saat kita berjumpa di kehidupan akhirat. Yakinlah bahwa kitalah generasi pembebas Baitul Maqdis itu dan kembalikan segala pujian dan kekuatan hanya kepada Allah swt,” ujarnya dengan penuh haru bersama seluruh peserta.
Materi-materi yang dibahas dalam Saladin Camp adalah Apa Bencana yang dialami Umat Muslim, Pembebasan Akal dengan Ilmu, Perbedaan Ilmu dan Ma’rifah, Perhatian Al-Quran terhadap Baitul Maqdis, Strategi dan Langkah Pembebasan Baitul Maqdis Rasulullah saw, Teori Lingkaran Berkah Baitul Maqdis, Tadabbur Surat Al Isra’, Pendalaman terkait Amaan Theory, ‘Uhdah Al-‘Umariyyah (Piagam Umar), serta Peta geopolitik terkini negara-negara di sekitar Baitul Maqdis dan analisis mutakhir terhadap peristiwa-peristiwa yang berkembang serta Arah untuk membentuk masa depan.
Laporan: Saladin Community











































































