Seorang pelajar Palestina berusia 15 tahun, Tala Mohammed Awad, yang selamat dari genosida Israel di Jalur Gaza, berhasil meraih medali emas pada tahap kedua Olimpiade Matematika Sekolah Negeri Negara Bagian São Paulo (OMASP) 2026, Brasil, dilansir dari Middle East Monitor, Rabu (8/7/2026).
Tala meraih penghargaan tertinggi setelah tampil gemilang dalam kompetisi matematika tingkat sekolah negeri di seluruh negara bagian São Paulo. Prestasi ini menjadi pencapaian luar biasa bagi seorang siswi yang harus meninggalkan Gaza akibat perang dan memulai kehidupan baru di Brasil.
Sejak tiba di Brasil, Tala dengan cepat mempelajari bahasa Portugis serta beradaptasi dengan sistem pendidikan dan lingkungan sosial yang baru. Keberhasilannya mencerminkan ketangguhan dan semangatnya untuk terus belajar meski pernah mengalami trauma akibat perang.
Berdasarkan pengumuman yang beredar dalam bahasa Portugis, Tala berhasil meraih medali emas pada Fase II kompetisi, yaitu tahap seleksi tingkat kota. Hasil tersebut membuatnya berhak melaju ke babak kompetisi tingkat negara bagian.
OMASP merupakan salah satu ajang pendidikan bergengsi di São Paulo yang bertujuan meningkatkan kemampuan matematika siswa sekolah negeri sekaligus mendorong prestasi akademik di sistem pendidikan publik.
Prestasi Tala mendapat perhatian luas bukan hanya karena kecerdasannya di bidang matematika, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang penuh ujian. Setelah selamat dari genosida di Gaza, berpindah ke Brasil, mempelajari bahasa baru, dan beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang berbeda, ia berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dalam kompetisi tersebut.
Semua Kerja Keras Saya Terbayar
Dalam wawancara dengan Middle East Monitor (MEMO), Tala mengaku sangat terharu atas pencapaiannya.
“Saya sangat bahagia, bahkan pada awalnya tidak percaya. Saya merasa semua kerja keras dan waktu belajar saya akhirnya membuahkan hasil. Hal pertama yang saya pikirkan adalah memberi tahu ayah dan ibu, karena mereka selalu menyemangati saya dan mengatakan bahwa saya bisa berhasil dalam keadaan apa pun,” ujarnya.
Bagi Tala, medali emas itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar prestasi akademik.
“Penghargaan ini sangat berarti bagi saya karena saya adalah anak Palestina dari Gaza yang pernah mengalami masa-masa sangat sulit akibat perang. Saya tidak pernah membayangkan suatu hari bisa berdiri di negara lain dan memenangkan medali emas,” katanya.
Ia juga merasa membawa nama seluruh rakyat Palestina saat menerima penghargaan tersebut.
“Saya merasa bukan hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga Palestina dan setiap anak Palestina yang bermimpi untuk berhasil meskipun menghadapi segala keterbatasan.”
Meski berharap memperoleh hasil yang baik, Tala mengaku medali emas tetap menjadi kejutan besar baginya.
“Saya berharap bisa mendapatkan hasil yang baik, tetapi medali emas adalah kejutan yang sangat indah.”
Berjuang Belajar Bahasa Portugis
Tala mengakui proses beradaptasi di Brasil tidak mudah, terutama karena harus mempelajari bahasa Portugis dan mengikuti sistem pendidikan yang sama sekali baru.
“Pada awalnya bahasa Portugis sangat sulit bagi saya. Kadang saya merasa takut karena tidak memahami semuanya.”
Namun, ia bersyukur mendapat dukungan dari guru dan teman-temannya.
“Guru-guru dan teman-teman banyak membantu saya dan sangat sabar mendampingi saya.”
Ia juga menuturkan bahwa kedua orang tuanya berperan besar dalam membangkitkan semangatnya untuk terus belajar.
“Ayah dan ibu membantu saya setiap hari, menyemangati saya untuk terus belajar dan tidak kehilangan harapan. Seiring waktu, saya mulai memahami lebih banyak dan semuanya menjadi lebih mudah.”
Pesan untuk Anak-Anak Gaza
Tala menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak Palestina yang masih berada di Gaza.
“Jangan pernah kehilangan harapan. Saya tahu perang sangat berat karena saya pernah mengalaminya. Tetapi jangan berhenti bermimpi.”
Ia mendorong anak-anak Gaza untuk tetap bersekolah dan mengejar cita-cita mereka.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan pertahankan impian kalian, karena kesuksesan tetap mungkin diraih bahkan setelah melewati keadaan yang paling sulit.”
Ayah Tala: “Ia Mengembalikan Kebahagiaan yang Dirampas Perang”
Ayah Tala, Mohammed Awad, mengaku keluarga mereka menerima kabar tersebut dengan tangis haru.
“Kami menerima kabar itu dengan air mata kebahagiaan bahkan sebelum mampu mengucapkan sepatah kata pun. Saya merasa hati saya tidak cukup besar untuk menampung rasa bangga ini. Tala bukan hanya memenangkan medali, tetapi juga mengembalikan sebagian kebahagiaan yang telah dirampas perang.”
Ia mengenang masa-masa mencekam yang dialami keluarganya di Gaza.
“Saat melihat Tala meraih prestasi ini, saya teringat ketakutan kami di Gaza, suara bom yang terus berdentuman, dan malam-malam ketika kami tidak tahu apakah masih hidup keesokan paginya. Saya melihat putri saya bangkit dari rasa takut dan kehancuran hingga kini berdiri dengan kepala tegak. Ini bukan kemenangan biasa, melainkan kemenangan seorang anak atas perang.”
Menurut Awad, putrinya perlahan mulai pulih dari trauma perang sejak tinggal di Brasil.
“Di Gaza, perang merampas masa kecil anak-anak. Namun di Brasil, Tala menemukan tempat yang aman untuk belajar, bermimpi, dan membuktikan kemampuannya. Saya melihatnya hidup kembali sedikit demi sedikit.”
Ia juga mengenang beratnya perjalanan meninggalkan Gaza.
“Kami meninggalkan Gaza dengan membawa rasa takut, luka, dan kenangan yang menyakitkan. Kami meninggalkan rumah, keluarga, dan seluruh kehidupan kami. Memulai hidup di Brasil berarti memulai dari nol, tetapi juga menjadi kesempatan menyelamatkan anak-anak kami dari kematian dan ketakutan.”
Palestina Tetap Menjadi Identitas
Meski kini membangun kehidupan baru di Brasil, Awad menegaskan Palestina tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas keluarganya.
“Palestina bukan sekadar tempat. Palestina adalah kenangan, darah, dan identitas. Kami membesarkan Tala agar memahami bahwa keberhasilannya di Brasil juga merupakan keberhasilan bagi Palestina.”
Menurutnya, keluarga mereka terus menjaga bahasa, sejarah, dan akar budaya Palestina.
“Kami ingin anak-anak kami berhasil di Brasil dan menjadi bagian yang dihormati masyarakat di sana, tetapi tetap setia kepada asal-usul dan perjuangan mereka.”
Menutup wawancaranya, Awad menyampaikan pesan kepada warga Gaza.
“Saya tahu penderitaan yang kalian alami sangat besar dan perang telah merenggut begitu banyak hal. Namun perang tidak pernah mampu merampas martabat maupun semangat hidup kalian. Hari ini Tala membuktikan bahwa seorang anak dari Gaza dapat bangkit dari bawah reruntuhan dan mengubah rasa takut menjadi sebuah prestasi. Ke mana pun kami pergi, kami akan selalu membawa Gaza di hati kami dan mengharumkan nama Palestina dengan cara apa pun yang kami bisa.”
Sumber: Middle East Monitor














































































