Berapa banyak orang yang dalam hidup ini ingin menjadi yang terbaik. Akan tetapi apakah mereka benar-benar telah memahami apa yang sesungguhnya benar-benar terbaik bagi manusia. Ini pertanyaan yang mendalam.
Bagi Ronaldo alias CR7, yang terbaik adalah berlatih dan bertanding dengan penampilan maksimal. Sementara bagi seorang siswa atau mahasiswa yang terbaik adalah belajar dengan mendalam dan bisa menjawab ujian kelas dengan meraih nilai tertinggi.
Dua contoh itu adalah hal yang baik dan terbaik. Tapi versinya sangat terbatas, pada ruang dan waktu yang sangat sempit. Nah, dalam bahasan kali ini kita akan mengkaji ungkapan tentang yang terbaik bagi manusia dalam pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyah.
3 Aspek Mendasar
Dalam kitabnya “Fawaidul Fawaid” Ibn Qayyim menjelaskan ada tiga aspek yang bisa membuat seseorang berada dalam kondisi terbaik.
Pertama, memiliki amalan lahir dan batin. Mengutip ungkapan orang-orang arif, Ibn Qayyim menegaskan bahwa orang yang sibuk melakukan amalan lahiriyah, tapi lupa menempa hati (amalan batiniyah) maka orang itu tidak meraih kemajuan apapun.
Kedua, seseorang mesti memiliki wawasan yang luas. Ini berarti kita harus tekun membaca, berpikir kritis dan tentu saja berinteraksi dengan berbagai pihak. Langkah ini penting agar perspektif kita dalam melihat kehidupan terus berkembang.
Ketiga, memiliki keimanan yang mendalam. Mengapa keimanan perlu? Karena orang yang cerdas, punya gelar akademik tinggi, kalau rapuh imannya ia akan mengambil keputusan yang destruktif.
Mengapa bisa melakukan hal demikian? Tidak lain karena orang yang lemah imannya merasa hidupnya aman-aman saja, meski telah melakukan kejahatan. Yang penting orang tidak tahu. Padahal Allah selalu mengawasinya.
Menata Hari Menuju Pribadi Terbaik
Selagi masih bernapas, kita punya kesempatan menjadi yang terbaik dalam pandangan Allah SWT.
Oleh karena itu mulailah hari dengan salat berjamaah, tilawah, zikir, dan doa. Jaga niat dalam setiap pekerjaan.
Selanjutnya mari bekerja dengan disiplin dan penuh amanah. Sisihkan waktu untuk membantu sesama. Imam An-Nawawi memberi teladan melalui ibadah, ilmu, dan karya setiap hari. Beliau tidak memisahkan amal lahir dari kebersihan hati.
Sediakan Waktu Khusus
Lebih dari itu, sediakan waktu khusus untuk membaca setiap hari. Bacalah Al-Qur’an, hadis, dan buku bermutu. Kenapa perlu waktu khusus, karena orang sekarang mudah terdistraksi oleh konten media sosial. Padahal membaca dan menatat pelajaran penting adalah aktivitas yang memberi begitu banyak keuntungan. Terus setelah itu renungkan maknanya. Diskusikan bersama sahabat.
Ibn Qayyim, Al-Ghazali, dan Ibn Taimiyah membangun keluasan pandangan melalui tradisi membaca, menulis, dan mengajar tanpa henti.
Dengan demikian mari rawat iman sepanjang dua puluh empat jam.
Awali setiap aktivitas dengan mengingat Allah. Jaga salat tepat waktu. Perbanyak syukur saat lapang. Perkuat sabar saat sempit. Selanjutnya tutup malam dengan muhasabah dan istigfar.
Hari seperti itu akan membentuk amal, ilmu, dan iman menjadi satu kesatuan. Yang menjadi pupuk bagi hati untuk terus kokoh dalam iman dan amal saleh. Insya Allah dari sanalah pribadi terbaik mulai tumbuh. Dan semoga itu adalah kita semua.
*************
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































