MUJAHIDDAKWAH.COM, PONOROGO – Kiprah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren. Sejumlah alumni tercatat mengambil peran dalam pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan.
Peran tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gontor dalam mengawal umat dan peradaban. Hal itu disampaikan Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Khoirul Umam.
Khoirul menjelaskan, keterlibatan alumni Gontor dalam perjalanan bangsa telah berlangsung sejak masa sebelum kemerdekaan. Mereka mengambil peran dalam berbagai bidang sesuai dengan pengabdian masing-masing.
Ada yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, pemerintahan, hingga dakwah. Menurutnya, kiprah tersebut menunjukkan luasnya kontribusi alumni Gontor di tengah masyarakat.
Salah satu tokoh yang disebut adalah Jenderal Hasan Basry. Alumni tersebut dikenal memiliki peran dalam perjuangan memerdekakan Kalimantan. Atas kiprahnya, Jenderal Hasan Basry kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
“Pra-kemerdekaan, alumni banyak sekali berperan, salah satunya tentu yang sangat kita kenal adalah Jenderal Hasan Basry. Beliau menjadi Pahlawan Nasional karena memerdekakan Kalimantan,” kata Khoirul Umam, ditulis Rabu (20/9/2026).
Selain tokoh perjuangan, alumni Gontor juga disebut mengisi sejumlah posisi dalam pemerintahan. Khoirul menyampaikan adanya alumni yang pernah menjadi menteri agama, wakil menteri, dan duta besar.
Di bumi Kabupaten Ponorogo itulah, mentalitas, intelektualitas dan keahlian diplomasi Kiai Idham Chalid digembleng hingga kelak mengantarkannya menjadi salah satu pilar utama perjalanan politik serta keagamaan di Indonesia.
Bagi Idham Chalid muda, Gontor bukan sekadar tempat mengaji. Di sana, ia menyerap pola pikir modern, penguasaan bahasa asing, hingga disiplin organisasi yang ketat.
Kecerdasannya yang menonjol menarik perhatian langsung Pendiri Gontor – KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi – yang dikenal sebagai Trimurti.
Kedekatannya dengan Trimurti berkembang bukan sekadar relasi antara kyai dan santri, melainkan hubungan bimbingan spiritual dan kepemimpinan yang mendalam. Trimurti melihat potensi kepemimpinan besar pada diri Kiai Idham Chalid hingga dipercaya memimpin di usia 34 tahun PBNU 1956 hingga dekade 1980-an. Puncak khidmatnya pada bangsa semakin kokoh kala beliau dilantik menjadi Ketua MPR RI merangkap Ketua DPR RI periode 1971–1977.
Peran tersebut tersebar di berbagai bidang pengabdian. Dia menilai kiprah itu menjadi salah satu penanda keterlibatan alumni Gontor dalam kehidupan berbangsa.
“Belum lagi tercatat ada menteri agama, ada wakil menteri, belum lagi duta-duta besar Indonesia di negara sahabat,” ungkapnya.
Kiprah alumni Gontor juga terlihat dalam organisasi kemasyarakatan. Khoirul menyebut K.H. Hasyim Muzadi yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama selama 2 periode.

Dia juga menyebut K.H. Din Syamsuddin yang pernah memimpin Muhammadiyah. Selain itu, alumni Gontor turut berperan di Jam’iyat Al-Irsyad, dan Mathla’ul Anwar.
“Kita tentu mengenal K.H. Hasyim Muzadi yang 2 periode memimpin NU, K.H. Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah, belum lagi di Jam’iyat Al-Irsyad, belum lagi di Mathla’ul Anwar. Banyak ormas-ormas, semua alumni Gontor berperan,” jelasnya.
Menurut Khoirul, kiprah tersebut tidak terlepas dari prinsip pengabdian yang menjadi bagian dari perjalanan Gontor. Sejak awal berdiri, Gontor menempatkan khidmat sebagai landasan dalam menjalankan pendidikan. Prinsip itu juga tertuang dalam piagam wakaf Gontor. Fokusnya adalah kepentingan umat, kemanusiaan, dan masyarakat.
“Sehingga kalau ditanya bagaimana menjalin hubungan dengan pemerintah, dari awal Gontor lahir untuk khidmat. Dan itu tertuang secara langsung di piagam wakaf, bagaimana Gontor terus berperan dan memfokuskan diri untuk kepentingan umat, kemanusiaan, dan masyarakat,” ungkap Khoirul.
Dia menegaskan, pengabdian alumni Gontor menjadi bagian dari kontribusi pesantren bagi bangsa. Peran tersebut mencakup berbagai bidang dan tidak terbatas pada satu lingkungan saja.
Melalui kiprah para alumni, nilai pendidikan dan pengabdian Gontor terus dibawa ke tengah masyarakat. Komitmen itu menjadi bagian dari perjalanan menuju peringatan 100 tahun PMDG.
Laporan: Humas Gontor
















































































