Tantangan keimanan generasi hari ini semakin kompleks
Arus informasi digital dinilai membawa tantangan baru bagi ketahanan iman generasi muda Muslim. Ateisme kini tidak hanya hadir sebagai sikap hidup sekuler, tetapi juga sebagai konstruksi pemikiran yang menawarkan argumentasi filosofis, ilmiah, dan rasional yang mudah beredar melalui media sosial.
Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor, Prof Syamsuddin Arif, mengatakan fenomena tersebut perlu direspons serius oleh lembaga pendidikan Islam. Generasi muda, menurut dia, tidak cukup hanya dibekali doktrin keagamaan, tetapi juga kemampuan memahami dan menguji argumentasi yang mempertanyakan keberadaan Tuhan.
“Ateisme hari ini tidak bisa kita sederhanakan sebagai orang yang tidak mau shalat atau tidak percaya Tuhan karena malas. Ia adalah sebuah konstruksi pemikiran yang sistematis, yang punya logika, premis, dan kesimpulan. Maka melawannya tidak cukup dengan doktrin, harus dengan ilmu dan nalar kritis,” kata Syamsuddin dalam kuliah umum di Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Garut, Jawa Barat, pada Selasa (30/9/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen, mantan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu mengatakan tantangan keimanan generasi hari ini semakin kompleks. Jika pada masa lalu tantangan lebih sering berkaitan dengan moral dan perilaku, kini sebagian tantangan masuk ke wilayah epistemologis, yakni mempertanyakan dasar pengetahuan dan alasan seseorang mempercayai Tuhan.
Menurut Syamsuddin, kondisi tersebut semakin penting diperhatikan karena anak muda hidup dalam ekosistem digital yang mempertemukan mereka dengan berbagai gagasan tanpa batas. Ateisme, agnostisisme, nihilisme, maupun relativisme moral dapat muncul setiap saat melalui video pendek, podcast, forum diskusi, maupun unggahan media sosial.
Ia menilai persoalan menjadi lebih serius ketika narasi tersebut tampil menggunakan bahasa sains dan logika. Tanpa bekal intelektual memadai, anak muda dapat menganggap sebuah argumen benar hanya karena disampaikan dengan istilah ilmiah atau dikemas secara meyakinkan.
Tujuh Pintu Argumen Ateisme
Syamsuddin memetakan sedikitnya tujuh bentuk argumentasi yang kerap digunakan dalam pemikiran ateisme kontemporer. Tujuh pendekatan itu adalah empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, eternalisme, infinitisme, problem of evil atau persoalan kejahatan, serta agnostisisme.
Empirisisme, menurut dia, bertolak dari anggapan bahwa sesuatu dianggap ada hanya apabila dapat ditangkap pancaindra. Dari titik itulah muncul pertanyaan, jika Tuhan ada, mengapa manusia tidak dapat melihat-Nya?
Syamsuddin menilai argumentasi tersebut mengandung lompatan logika. Manusia, kata dia, dalam kehidupan sehari-hari mengakui banyak realitas yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi keberadaannya diketahui melalui tanda atau akibat yang ditimbulkannya.
“Kita tidak pernah melihat gravitasi, energi listrik, akal, rasa sakit, cinta, atau bahkan bau itu sendiri. Tapi kita yakin ia ada karena kita melihat dampak dan tandanya. Prinsip yang sama berlaku untuk keberadaan Tuhan. Ketidakmampuan mata melihat bukan dalil ketiadaan,” ujarnya.
Pendekatan kedua adalah evidensialisme, yakni tuntutan agar keberadaan Tuhan dibuktikan dengan bukti ilmiah dalam pengertian laboratoris. Syamsuddin menilai tuntutan tersebut berangkat dari penyempitan makna bukti hanya menjadi bukti empiris.
Dalam tradisi ilmu pengetahuan, kata dia, bukti dapat berbentuk rasional, logis, faktual, historis, kesaksian, pengalaman maupun tekstual. Karena itu, sesuatu yang tidak dapat diuji melalui laboratorium tidak otomatis dapat dinyatakan tidak ada.
“Harus dibedakan antara ‘belum terbukti’ dengan ‘tidak ada’. Ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan. Ini kaidah logika yang paling dasar,” katanya.
Islam Tidak Takut Pertanyaan
Syamsuddin menilai pendidikan tinggi Islam memiliki dua mandat yang harus berjalan bersamaan. Pertama, memperkuat keimanan. Kedua, menghidupkan tradisi intelektual Islam yang kritis, logis, dan terbuka terhadap pertanyaan.
Ia mengatakan perjumpaan dengan ateisme tidak seharusnya selalu direspons dengan ketakutan atau kecaman. Sebaliknya, sebuah gagasan perlu dibaca, dipahami strukturnya, kemudian diuji dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.”
Setiap ide harus kita baca, kita bedah, dan kita uji. Islam tidak pernah takut pada pertanyaan. Justru tradisi keilmuan Islam dibangun di atas pertanyaan-pertanyaan besar tentang Tuhan, alam, dan manusia,” kata Syamsuddin.
Menurut dia, ketahanan iman di tengah masyarakat digital pada akhirnya sangat berkaitan dengan ketahanan intelektual. Semakin terbuka ruang informasi, semakin besar kebutuhan generasi muda untuk memahami bukan hanya apa yang mereka yakini, tetapi juga alasan mengapa mereka meyakininya.
Kuliah umum tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab. Para mahasiswa antara lain menggali cara menghadapi keraguan keagamaan serta argumentasi ateistik yang semakin mudah ditemukan di ruang digital.
Jangan Hanya Berikan Jawaban Hafalan
Syamsuddin menekankan lembaga pendidikan Islam tidak cukup sekadar mengatakan kepada mahasiswa apa yang harus mereka yakini. Perguruan tinggi perlu mengajarkan bagaimana sebuah keyakinan dipahami, diuji dan dipertahankan melalui argumentasi.
“Mahasiswa kita tidak cukup hanya diberi jawaban hafalan. Mereka harus dilatih membaca struktur argumentasi: apa premisnya, apakah premis itu valid, apakah kesimpulannya logis mengikuti premisnya. Ini yang disebut dengan ketahanan intelektual,” ujarnya.
Kemampuan tersebut dinilai semakin penting karena algoritma media sosial dapat membawa seseorang dari satu konten ke konten lain dalam waktu sangat singkat. Anak muda dapat bertemu dengan beragam pemikiran tanpa terlebih dahulu memiliki perangkat untuk membedakan argumentasi kuat, asumsi tersembunyi, kesalahan logika, ataupun retorika belaka.
Menurut Syamsuddin, keterbukaan informasi karena itu menjadi pedang bermata dua. Dakwah dapat menjangkau masyarakat jauh lebih luas, tetapi gagasan yang menentang agama juga memperoleh saluran distribusi yang sama.
Jika kemampuan berpikir kritis lemah, kata dia, pengguna media sosial berisiko menjadi konsumen pasif dari setiap gagasan yang tampil meyakinkan di layar mereka. Tantangannya bukan lagi sekadar membatasi akses terhadap sebuah pemikiran, melainkan membangun kemampuan untuk menilai pemikiran tersebut.
Evolusi hingga Problem of Evil
Syamsuddin kemudian menyoroti evolusionisme dan eternalisme. Dalam argumentasi ateistik tertentu, teori evolusi digunakan untuk menyingkirkan peran pencipta, sementara eternalisme beranggapan alam semesta bersifat kekal sehingga tidak membutuhkan penyebab pertama.
Menurut dia, persoalan muncul ketika teori ilmiah digunakan melampaui batas metodologinya untuk membuat kesimpulan metafisik. Sains dapat menjelaskan proses tertentu di alam, tetapi menurutnya tidak otomatis dapat menjawab seluruh pertanyaan mengenai mengapa realitas itu ada.
Argumen lain adalah infinitisme, terutama melalui pertanyaan populer: jika segala sesuatu membutuhkan sebab, siapa yang menyebabkan Tuhan?
Syamsuddin mengatakan pertanyaan tersebut lahir dari kesalahpahaman terhadap konsep Wajibul Wujud dalam filsafat Islam. Tuhan tidak ditempatkan sebagai salah satu mata rantai dari rangkaian sebab yang membutuhkan sebab lain, melainkan sebagai realitas yang keberadaannya tidak bergantung kepada apa pun.
Ia juga membahas problem of evil, yakni gugatan terhadap keberadaan Tuhan dengan menunjuk adanya penderitaan, kejahatan, bencana dan ketidakadilan di dunia. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kuasa membiarkan penderitaan terjadi.
Menurut Syamsuddin, persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konsep kebebasan manusia, tanggung jawab moral, ujian kehidupan, serta keterbatasan manusia dalam memahami keseluruhan hikmah sebuah peristiwa. Karena itu, keberadaan kejahatan tidak serta-merta menjadi bukti tidak adanya Tuhan.
Sementara itu, agnostisisme mengambil posisi berbeda. Pendekatan ini tidak selalu mengatakan Tuhan tidak ada, tetapi menganggap manusia tidak memiliki kemampuan memadai untuk memastikan apakah Tuhan ada atau tidak.















































































