MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan keputusan Pemerintah Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang tetap memberikan izin penyelenggaraan konser penyanyi Andrea Bocelli, di Candi Borobudur dan Jakarta.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menilai keputusan tersebut tidak konsisten dan bertentangan dengan komitmen yang sebelumnya disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata RI, Bayu Aji, untuk menghormati dan mengikuti sepenuhnya keputusan serta arahan MUI mengenai konser Andrea Bocelli.
“Yang paling penting, saya ingin menyampaikan bahwa pemerintah, masyarakat secara umum, dan saya kira juga masyarakat internasional mengetahui bahwa MUI bersama elemen masyarakat, lembaga, ormas-ormas Islam, serta lembaga-lembaga yang memiliki kepedulian terhadap Palestina tidak mendukung adanya konser Bocelli ini,” ujarnya di Kantor MUI, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan sumber kelompok zionis di Amerika Serikat, Bocelli tercatat pernah tampil dalam acara penggalangan dana untuk tentara Israel (IDF) pada 2010.
Dia menyebut Tentara Israel (IDF) dengan sangat nyata, dan semua orang tahu, adalah pelaku kejahatan yang sangat brutal dan sadis, yaitu genosida yang berlangsung sampai hari ini.
“Bocelli memang bukan zionis dan lirik-lirik lagunya bagus, melainkan tindakannya tampil bernyanyi di acara penggalangan dana FIDF membuktikan dukungannya kepada mesin pembunuh zionis,” ujar Prof Sudarnoto.
Prof Sudarnoto menegaskan, sebagai penyanyi internasional, Bocelli diyakini paham siapa IDF saat menyanggupi tampil dalam acara tersebut.
Oleh karena itu, penolakan MUI dan elemen masyarakat didasarkan pada alasan kemanusiaan dan penolakan terhadap penjajahan, bukan alasan lainnya.
“Saya sungguh heran Indonesia bisa dijadikan tempat konser bagi seseorang yang nyata telah memberikan dukungan kepada pasukan penjajah,” tutur dia.
Padahal, kata dia, amanat Pembukaan UUD 1945 sangat jelas. Seharusnya pemerintah menunjukkan komitmen sungguh-sungguh untuk menghapuskan penjajahan, bukan malah menerima seseorang yang nyata mendukung tentara penjajah.
Ia menegaskan, persoalan tersebut semestinya mendapatkan penjelasan langsung dari Andrea Bocelli maupun pihak promotor. Pemerintah juga dinilai perlu memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, bukan sekadar mendukung penyelenggaraan konser.
Konser tetap digelar sesuai jadwal. Sementara itu, masyarakat terus menyampaikan penolakan dan mengecamnya melalui berbagai cara yang tertib dan terhormat.
Laporan: MUI Digital


















































































