MUJAHIDDAKWAH.COM, YOGYAKARTA – Jamaah Masjid Jogokariyan Yogyakarta antusias mengikuti Kajian Road to Baitul Maqdis yang disampaikan oleh Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi, seorang ulama kelahiran Baitul Maqdis dan Pakar Geopolitik Hubungan Internasional, Kamis, (30/7/8).
Mengawali materinya, Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi menyampaikan bahwa kiblat pertama umat Islam pada periode dakwah di Makkah adalah Masjid al-Aqsa, hal ini ditegaskan saat perintah salat lail pada Surah Al-Muzammil diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dan ketika seseorang salat maka membutuhkan kiblat, dan kiblat pada saat itu adalah Baitul Maqdis.
Menurutnya, inilah yang menjadi awal-awal kaum muslimin di Makkah terjalin koneksi dengan Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis dengan melaksanakan salat dengan kiblat kepadanya.
Setelah hijrah ke Madinah, kaum muslimin masih melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah kiblat Baitul Maqdis selama kurang lebih 16 bulan lamanya dan saat itu Masjid al-Aqsa masih dalam cengkeraman penjajahan imperium Kristen Ortodoks Byzantium.
Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi kemudian melanjutkan materinya dengan membahas tentang sejarah Nabi Muhammad saw membangun Budaya Baitul Maqdis di Madinah al-Munawwarah.
Hal pertama yang Nabi saw lakukan adalah Pembentukan konsep dan terminologi dasar Islam: Qur’ani dan Nabawi (Al-Ardh al-Muqaddasah, Al-Ardh al-Mubarakah, dan Baitul Maqdis).
“Langkah keilmuan paling awal yang bersifat fundamental yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam kerangka rencana strategisnya untuk pembebasan tanah suci adalah pemberian sebuah konsep dan istilah Nabawi yang baru bagi wilayah suci dan diberkahi tersebut. Rasulullah saw meletakkan batu pertama sekaligus inti awal bangunan keilmuan untuk membentuk suatu cara pandang, visi, rujukan, identitas, budaya, dan spirit baru terkait tanah suci,” ujarnya.
Prof Abd al-Fattah el-Awaisi melanjutkan bahwa langkah kedua yang ditempuh Nabi Muhammad saw adalah menanamkan harapan dan memberikan kabar gembira, khususnya dalam kondisi sulit dan ketika harapan tampak sirna (keputusasaan). Oleh karena itu, salah satu langkah paling awal dalam pembangunan ilmu pengetahuan oleh Rasulullah saw adalah menanamkan harapan dalam jiwa para sahabat.
“Rukun kedua dari budaya Baitul Maqdis di Madinah ini menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar kerinduan terhadap suatu tempat suci, melainkan sebuah tujuan strategis yang jelas, terbuka, dan terkonfirmasi. Kabar-kabar gembira bukan hanya sarana untuk meningkatkan moral, tetapi merupakan bagian dari perencanaan strategis yang matang, guna menanamkan keyakinan bahwa pembebasan bukan sekadar kemungkinan, melainkan sebuah kepastian yang ditetapkan,” ungkapnya.
Harapan dan kabar gembira itu tertanam dalam sanubari kaum muslimin. Sehingga, mereka yakin sepenuhnya bahwa pembebasan Baitul Maqdis adalah amanah di pundak mereka. Dan, mereka akan mampu merealisasikannya berdasar kabar gembira tersebut.
Budaya Baitul Maqdis ketiga yang dilakukan Rasulullah saw adalah membaca Surah al-Isra’ setiap malam dan Surah al-Kahfi setiap Hari Jumat. Salah satu sunah Nabi Muhammad saw yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari secara umum, dan i’dad ma’rifi untuk pembebasan Baitul Maqdis secara khusus adalah tradisi membaca dan mentadabburi surat Al-Isra’ sebelum beranjak tidur malam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kebiasaan Nabi saw adalah beliau tidak tidur di atas kasur beliau, sampai beliau selesai membaca setiap malam surat Bani Israil dan surat Az-Zumar.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Langkah terakhir atau keempat adalah memviralkan persoalan Baitul Maqdis dan menjadikannya trending topic di seluruh lapisan masyarakat Madinah. Perhatian dan pembicaraan Rasulullah saw yang cukup intens tentang persoalan Baitul Maqdis di berbagai tempat, forum, dan waktu, dengan audience yang beragam menjadikan Baitul Maqdis trending topic di seluruh wilayah Madinah. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, orang merdeka dan budak, sama-sama membincangkan Baitul Maqdis. Baitul Maqdis menjadi bahan obrolan masyarakat di masjid, pasar, jalan raya, kebun, dalam rumah tangga, dan tempat umum lainnya.
Prof Abd al-Fattah el-Awaisi menegaskan bahwa dialog dialog mendalam ini menyingkap hubungan erat antara Ka’bah di Makkah dan Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis. Hubungan erat ini menelusuri sejarah hingga fajar umat manusia, pada zaman Nabi Adam ‘alaihi al salām, yang menjadi manusia pertama yang membangun Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis setelah Masjidil Haram di Makkah selama empat puluh tahun.
Di akhir materinya, Prof Abd al-Fattah berharap agar budaya Baitul Maqdis yang telah di lakukan Nabi Muhammad saw di Madinah dapat juga diterapkan dan di amalkan oleh umat Islam di Indonesia, karena pengamalan terhadap ke empat budaya ini akan menyongsong kita pada pembebasan Baitul Maqdis di masa yang akan datang.
Laporan: Saladin Community










































































