MUJAHIDDAKWAH.COM, PONOROGO – Satu abad lalu, di sebuah desa terpencil di Kabupaten Ponorogo, tiga bersaudara KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi mengikrarkan sebuah niat tulus.
Dikenal sebagai Trimurti, mereka tidak hanya mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada tahun 1926, tetapi juga meletakkan batu pertama sebuah bangunan peradaban.
Kini, seratus tahun berlalu, nama-nama pejuang telah berganti dan tantangan zaman kian kompleks, namun fondasi itu tetap berdiri kokoh.
Perjalanan Gontor bukanlah narasi statis, melainkan sebuah kisah estafet yang hidup. Setiap generasi kepemimpinan hadir menjawab tantangan zamannya, tanpa pernah mengikis ruh dan nilai dasar yang diwariskan para pendiri.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan global, Gontor membuktikan bahwa nilai keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan berpikir tetap menjadi kompas yang tak pernah berubah.
Seperti yang pernah dikatakan Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, bahwa kekuatan utama pondok terletak pada konsistensi memegang teguh amanah kepengasuhan dan nilai-nilai kelembagaan.
”Gontor itu berdiri di atas nilai, ruh, dan sistem. Tokoh boleh berpulang, zaman boleh berubah, tetapi ruh dan cita-cita pendiri tidak boleh bergeser sedikit pun. Estafet ini adalah tentang menjaga amanah agar kilau keikhlasan itu tetap memancar bagi ummat,” tegasnya.
Putra pendiri Gontor KH Ahmad Sahal ini juga menyampaikan, estafet kepemimpinan di Gontor memastikan bahwa pendidikan karakter dan kaderisasi perekat umat terus berlangsung secara berkesinambungan.
Prinsip ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’ menjadikan lembaga ini terus relevan melintasi berbagai dinamika era, dari zaman pergerakan nasional hingga era digital hari ini.
Menyongsong pilar sejarah satu abad Gontor, momentum ini dimaknai bukan sekadar sebagai perayaan pencapaian, melainkan refleksi mendalam atas perjalanan panjang yang telah ditempuh.
Wakil Ketua Panitia 100 Tahun Kesyukuran Gontor, KH Khoirul Umam, menyampaikan bahwa peringatan seratus tahun ini adalah momentum menguatkan komitmen pengabdian.
”Peringatan 100 Tahun Kesyukuran ini adalah wujud rasa syukur atas pemeliharaan Allah terhadap pondok ini,” ujar KH Khoirul Umam.
“Ini bukan panggung kesombongan, melainkan ajang konsolidasi niat bagi seluruh alumni dan santri untuk meneruskan estafet perjuangan Trimurti menatap abad kedua,” imbuhnya.
Satu abad telah berlalu sejak benih itu ditanam di tanah Gontor. Estafet panjang ini akan terus berlanjut, membawa amanah luhur melintasi zaman, melahirkan generasi penerus yang siap merawat ruh Islam dan membangun peradaban dunia.
Laporan: Humas Gontor

















































































