Mandiri adalah salah satu karakter yang wajib dimiliki seorang manusia. Tidak suka bergantung pada makhluk, atau tawakkal hanya kepada Allah merupakan nilai plus dalam diri seorang muslim.

Berusaha sebisa mungkin untuk bisa menanggung hidup baik dari segi aktivitas sehari-hari serta meminimalkan dari meminta bantuan pada orang lain dapat dijadikan batu loncatan untuk menjadi pribadi muslim mandiri yang sempurna.

Buat kamu yang masih menempuh pendidikan atau masih bersama orang tua, mulailah berlatih dengan mengerjakan aktivitas pribadi seperti mencuci baju atau membeli barang-barang khusus yang kamu butuhkan secara mandiri. Dengan begitu, kemandirian tersebut dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit dengan terus melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan sendiri.

Sikap kemandirian, enggan meminta tolong dan malu meminta-minta adalah salah satu ciri pribadi muslim yang istimewa. Keistimewaan ini di uangkapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

Artinya: “Seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya itu lebih baik dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis), apakah ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.” [Riwayat Bukhari].

Para sahabat dididik oleh Nabi ﷺ dengan sikap kemandirian ini. Salah satunya adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Seperti layaknya para muhajirin lainnya yang meninggalkan kota mekkah, Abdurrahman bin ‘Auf meninggalkan kota kelahirannya untuk hijrah ke madinah dengan tidak membawa sedikitpun dari harta kekayaan yang ia miliki.

Ketika tiba di kota Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad merasa terenyuh dengan kondisi Abdurrahman, maka ia pun berkata padanya, “saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan ambil separuh hartaku. Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat menikahinya.” Jawab Abdurrahman bin ‘Auf, “Semoga Allah memberkati Anda.

Namun, tunjukkan padaku letak pasar agar aku dapat berdagang di dalamnya.” Sa’ad bin Rabi’ menunjukan pasar, maka Abdurrahman melakukan transaksi jual beli sehingga di sore hari ia telah mendapatkan laba dan telah mampu membeli keju dan minyak samin. Tidak terlalu lama di korta Madinah, ia kemudian datang menghadap kepada Rasulullah dalam kondisi berminyak wangi.

Lalu Rasulullah Muhammad ﷺ bertanya, “Apa gerangan yang terjadi denganmu?” ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah menikah.” Rasulullah bertanya, “Apa maharnya?” ia menjawab, “Emas sebesar biji kurma”. Nabi pun menganjurkannya, “Buatlah pesta walaupun dengan menyembelih satu ekor kambing”.
Sikap kemandirian Abdurrahman bin ‘Auf itulah salah satu yang patut diteladani oleh muslim hari ini. Ia ingin mengambil yang terbaik dan tak ingin bergantung pada orang lain. Nabi ﷺ juga bersabda:

”Tidaklah seseorang memakan suatu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Daud makan dari hasil kerja keras tangannya.” [Riwayat Bukhari].

Yah, sikap kemandirian itulah yang dicontohkan seluruh Nabi dan Rasul yang Allah utus, yang hanya rela bergantung pada Allah, tidak pada makhluk. Begitu juga di ikuti oleh para sahabatnya.

***********

Penulis: Dwi Narlinda

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan