Dalam hadits Amru bin Anbasah yang cukup panjang yang mencakup beberapa kaidah dan etika lslam, dia menceritakan, “Aku pernah datang menemui Nabi di Makkah, yaitu pada awal awal kenabian, lalu aku tanyakan kepadanya, “Siapakah engkau ini?”
Beliau menjawab, “Aku ini seorang Nabi!”
Aku bertanya lagi, “Apa itu Nabi?”
Nabi Menjawab, “Aku diutus oleh Allah!”
Selanjutnya aku bertanya, “Dengan apa Dia mengutusmu?”
Beliau pun menjawab, “Dia mengutusku dengan (baca; untuk) menyambung slaturahmi, menghancurkanberhala, dan mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (HR. Muslim).

Dalam penjelasan singkatnya mengenai pentingnya prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah lslam dalam hadits di atas, jelas bahwa Rasulullah mendahulukan silaturahmi, karena silaturahmi mempunyai kedudukan tinggi dalam manhaj agama yang diturunkan Allah sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.

Bertolak dari hal tersebut banyak nash-nash yang memerintahkan kita untuk menyambung tali silaturahmi dan memperingatkan agar tidak memutuskannya.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, día menyebutkan bahwa pernah ada seorang laki laki yang berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku mengenai suatu perbuatan yang dapat memasukkan aku ke surga!”
Maka Nabi menjawab, “Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyambung tali persaudaraan.”
(Muttafaq Alaih).

Begitu agung silaturahmi itu. Alangkah berat timbangannya dalam mizan amal perbuatan manusia. Di mana ia disebutkan bersamaan dengan ibadah kepada Allah, pengesaan-Nya, penegakan shalat, dan pengeluaran zakat. Dengan demikian silaturahmi merupakan amal shaleh yang dapat memasukkan pelakunya ke surga dan melindunginya dari api neraka.

Dari Anas Radhiallahu Anhu, Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan diperpanjang umurnya maka hendaklah dia bersilaturahmi.” (Muttafaq Alaih)

Ternyata silaturahmi membawa berkah dalam rezeki dan umur bagi pelakunya, sehingga akan bertambah harta kekayaannya dan umurnya panjang dan diberkahi.

Ibnu Umar pernah berkata, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahmi, maka ajalnya diperpanjang dan ditam-bah harta kekayaannya serta dicintai keluarganya.“(HR. Bukhari)

Tidak pernah hilang dari ingatan wanita Muslimah bahwa setiap wanita dituntut untuk bersilaturahmi, sebagaimana halnya denganlaki-laki, karena khithab nash-nash tersebut di atas diarahkan kepada setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan, sebagaimana dalam kewajiban-kewajiban syari’at lainnya. Bertolak dari hal tersebut, maka setiap wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa mau bersilaturahmi dengan penuh kejujuran dan kesungguhan serta kehangatan. Tidak dipalingkan darinya karena berbagai kesibukan, tugas dan aktivitas lainnya.

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar dan disinari pancaran cahaya hidayah lahi senantiasa mengetahui bahwa silaturahmi yang dilakukannya akan memberikan berkah pada rezeki dan umurnya serta mendatangkan rahmat Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, dan menarik simpati orang lain kepadanya. Sebaliknya, memutuskan silaturahmi akan mendatangkan keburukan dan malapetaka serta hinaan dari Allah Subhanahu Wata’ala dan juga manusia, serta menjauhkannya dari surga di akhirat kelak. Cukuplah baginya mendengarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai orang-orang yang memutuskan silaturahmi,

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” (Muttafaq Alaih).

Dan, hendaklah dia mengetahui bahwa rahmat Allah Subhanahu Wata’ala menjauh dari orang yang memutuskan silaturrahmi, dan tidak akan turun kepadanya, tetapi akan turun kepada kaum yang di antara mereka senantiasa menyambung tali silaturahmi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

“Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya terdapat orang yang memutuskan silaturahmi.” (Muttafaq Alaih)

Oleh karena seorang sahabat yang setia, Abu Hurairah tidak mau berdoa di dalam suatu majelis yang di dalamnya terdapat orang yang memutuskan silaturahmi, karena hal itu menjadi penghalang turunnya rahmat Allah dan pengabulan doa. Beliau ini telah mengatakan dalam salah satu majelisnya pada hari Kamis sore, “Aku senantiasa tidak mempersulit setiap orang vang memutuskan untuk pergi dari majelis kita ini.” Tetapi tidak seorang pun beranjak dari tempat itu, hingga beliau mengutarakan kata-kata itu tigakali. Kemudian datanglah seorang pemuda kepada bibinya yang telah memutuskan hubungan dengan bibinya itu selama dua tahun. Maka pemuda itupun menemui bibinya, lalu bibinya bertutur, “Wahai keponakanku, apa maksud kedatanganmu?
Sang pemuda itu berucap, “Aku telah mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Begini dan Begitu.'”
Bibinya itu pun menyuruhnya: “Kembali dan tanyakan kepadanya, mengapa dia mengatakan demikian itu?”
Setelah menemuinya kembali, Abu Hurairah berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

Sesungguhnya amal perbuatan anak cucu Adam diperlihatkan kepada Allah setiap hari Kamis sore malam Jum’at, dan tidak diterima amal perbuatan orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR.Bukhari)

Wanita Muslimah yang perasaannya tersentuh oleh ajaran-ajaran Islam, dan menjadikannya senantiasa menoleh kepada amal shaleh, niscaya akan tergugah oleh nash-nash dan terlihat olehnya keburukan pemutusan silaturahmi yang mengakibatkan ditutupnya rahmat Allah dari si pemutus silaturahmi, tidak dikabulkannya doa, dan amalnya tidak akan mendatangkan manfaat. Dan, sesungguhnya hal itu merupakan malapetaka yang sangat besar yang menimpa orang yang memutuskan tali silaturahmi. Oleh karena itu, wanita Muslimah yang senantiasa diselimuti kemurnian Islam tidak mungkin menjadi pemutus hubungan silaturahmi.

Sesungguhnya memutuskan silaturahmi merupakan perbuatan dosa, yang tidak akan ditanggung oleh wanita Muslimah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang jiwanya senantiasa disinari hidayah llahi, dan ruhnya merasakan manisnya taat kepada-Nya. Sebaliknya, dia akan menjauh darinya, khususnya jika dia mengetahui bahwa silaturahmi merupakan perbuatan dosa yang siksaannya didahulukan di dunia sebelum di akhirat, seperti yang diisyaratkan dalam sebuah hadits,

Tidak ada satu dosapun yang lebih pantas untuk didahulukan Allah siksaannya bagi pelakunya di dunia -selain siksaan di akhirat-selain dosa memutuskan silaturahmi dan berbuat aniaya.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan isnad Shahih)

Yang demikian itu karena pemutusan silaturahmi dan perbuatan aniaya merupakan perbuatan yang tidak sama. Oleh karena itu Rasulullah menyatukan keduanya dalam hadits di atas, sebagai penegasan hubungan erat antara pemutusan silaturahmi dengan kezhaliman. Demi Allah, pemutusan silaturahmi merupakan kezhaliman besar Kezhaliman apa yang lebih besar dari pemutusan hubungan kekerabatan dan tali cinta kasih.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah melukiskan hubungan kekerabatan yang mengadu kepada Allah dari kezhaliman dan pemutusan tali kekerabatan, lalu Allah menanggapi pengaduannya tersebut dan menyambung orang yang menyambung tali kekeluargaan dan memutus orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.

Sesungguhnya hubungan kekeluargaan adalah kekerabatan yang saling bertalian dari Allah, yang mengadu, “Ya Rabb-ku, aku ini dizhalimi, Ya Rabb-ku, aku ini diputuskan, dan aku… “Lalu Dia menjawab, “Bukankah engkau rela Aku memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskanmu dan Aku menyambung dengan orang yang menyambungmu?” (HR. Bukhari)

Sedangkan dalam hadits qudsi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengangkat kedudukan hubungan kekerabatan, di mana beliau memberitahukan bahwa Allah memberi nama “rahim” (kekerabatan) dari nama-Nya, sebagai penghormatan, penghargaan, dan pengagungan baginya,

Akulah Ar-Rahman dan telah Aku dapatkan Ar-Rahim. Aku ambil nama untuknya dari nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambung orang itu, dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskan orang itu.” (HR. Imam Bukhari)

Saudaraku, pada nash-nash di atas merupakan suatu penegasan yang tegas bahwa orang yang menyambung tali kekerabatan akan hidup bahagia, dicintai, dan dihormati, yang diberikan kenikmatan dengan keridhaan dan rahmat-Nya. Sedangkan orang yang memutuskan hubungan kekerabatan akan hidup sengsara, terhina dan jauh dari rahmat Rabb-nyn serta di- haramkan baginya ampunan dan keridhaan-Nya.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 118-222)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

,

Tinggalkan Balasan