Kita selalu membiasakan diri mengerjakan sesuatu hingga terbiasa dengannya.
Sesungguhnya orang-orang yang dipuji Rasulullah dalam sabda beliau, “Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya,” sungguh mereka adalah manusia yang paling mengetahui cara mendidik diri. Mereka telah meninggalkan warisan yang agung tentang cara dan sarana tarbiyah. Mereka mewariskan kepada kita sebaik-baik bekal tarbiyah.
Di antara sarana tarbiyah pada generasi tabi’in adalah tarbiyah melatih diri, karena mereka sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mubarak, “Sesungguhnya jiwa orang- orang saleh terdahulu mudah diajak berbuat baik, sedangkan jiwa kita tidak mau tunduk kecuali dengan paksaan. Maka, sudah sepatutnya kita memaksanya.”
Latihan Zikir
Nafsu tidak mengerjakan ketaatan atas kesadarannya sendiri. Akan tetapi, melalui tarbiyah dan latihan sehingga ketaatan menjadi karakter dan sifatnya.
Ahmad bin Tsa’labah mengatakan, “Aku mendengar Salim Al-Khawas berkata, ‘Dahulu aku membaca Al-Qur’an tapi tidak merasakan kenikmatannya. Aku pun berkata kepada diriku, Bacalah seakan-akan engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah, maka aku merasakan sedikit kenikmatannya. Kemudian aku berkata kepada diriku, Bacalah seakan-akan engkau mendengarnya dari Jibril ketika mengabarkannya kepada Nabi, maka bertambahlah kenikmatan yang aku rasakan. Kemudian aku berkata kepada diriku, ‘Bacalah seakan-akan engkau mendengarnyaketika Allah berfirman dengannya’, maka aku merasakan kenikmatan yang sempurna.”
Begitulah tabi’in yang satu ini berhasil merasakan nikmatnya ibadah dengan melalui beberapa tahapan. Penyakit kaum muslimin hari ini ialah mereka mengerjakan ibadah, namun tidak menegakkannya dan tidak merasakan kenikmatan darinya.
Berapa banyak waktu yang kita lewati tanpa diisi ketaatan. Lain halnya dengan generasi yang unik ini, jiwa mereka tidak suka menganggur. Oleh karena itu, semangat sekali mereka melatih para pengikut mereka untuk mengikuti kebiasaan ini.
Abdullah bin Abdul Malik mengatakan, “Ketika aku bersama ayah di atas kendaraan, beliau berkata kepada kami, Bacalah tasbih hingga kalian sampai pohon itu’, maka kami bertasbih hingga sampai tempat tersebut. Apabila tampak pohon lain di depan maka beliau menyeru dan berkata, ‘Bacalah takbir hingga kalian sampai pohon itu Beliau selalu melakukannya kepada kami.”
Begitulah mereka melakukan itu hingga tasbih dan tahmid menjadi tabiat yang selalu melekat pada mereka. Orang-orang shaleh mengatakan, “Kita selalu membiasakan diri mengerjakan sesuatu hingga kita terbiasa dengannya.”
Abu Adi berkata, “Daud bin Abi Hindun mendatangi kita dan berkata, ‘Wahai pemuda, aku kabarkan sesuatu kepada kalian semoga di antara kalian ada yang mengambil manfaat darinya. Dahulu ketika masih kecil, aku bolak-balik pergi ke pasar. Apabila pulang ke rumah, aku menyuruh diriku untuk berzikir hingga sampai tempat ini dan ini. Apabila aku telah sampai pada tempat tersebut maka aku kembali memerintahkan diriku untuk berzikir hingga sampai di tempat ini dan ini hingga aku sampai rumah.”
Latihan Shalat dan Ceramah
Ada sebuah metode yang bagus dalam melatih anak mengerjakan shalat, yaitu seperti yang telah diperbuat oleh seorang tabi’in besar yang bernama Zubaid Al-Yami. Beliau adalah seorang muazin. Beliau berkata kepada anak-anak, “Kemarilah dan kerjakan shalat! Aku akan memberi kalian jauz (sejenis kacang).” Maka mereka datang ke masjid dan shalat kemudian mengelilingi beliau. Aku bertanya kepada beliau, “Mengapa Anda melakukan hal ini?” Beliau menjawab, “Tidak masalah, aku membeli jauz seharga lima dirham dan mereka bisa terbiasa shalat.”
Cara baru juga dicontohkan seorang tabi’in yang bernama Sulaiman At-Taimi. Beliau mengajak salah seorang anaknya yang bernama Al-Mu’tamir berkeliling ke masjid-masjid di malam hari. Keduanya sekali shalat di masjid ini dan sekali di masjid yang lain. Tujuannya untuk mengajarinya shalat. “
Kalau semacam ini bentuk latihan mereka untuk shalat, tentu ada latihan lain untuk menyampaikan tausiyah dan tampil di depan umum. Hal semacam ini sangat dibutuhkan dalam mengelola lembaga-lembaga pendidikan, yaitu memperhatikan unsur latihan. Sebab, fenomena tidak percaya diri ketika berdiri di depan umum yang melanda putra-putra kita adalah karena tidak adanya latihan dalam masalah ini. Akibatnya, bisa kita bila mereka diminta menyampaikan kultum atau tausiyah mereka gugup dan memilih menghindar dari berbagai perkumpulan atau organisasi.
Suatu hari, Hasan Al-Basri mengunjungi rumah saudaranya, beliau berkata kepada salah seorang anak saudaranya, “Nak, berikan ceramah kepada kami!” la pun menjawab, “Abu Said, kita belum sampai pada tahapan ini.” Maka Hasan berkata, “Siapa di antara kita yang sudah sampai pada tahapan itu? Sungguh setan bergembira kalau kita sampai kepada musibah ini”. Demi Allah, seandainya Allah tidak mengambil perjanjian dari para ulama maka aku tidak akan berbicara.”
Latihan Menangis
Sudah berapa banyak mata yang kering dari air mata dan menjadi tandus sementara kita tidak melatihnya untuk menangis. Generasi tabi’in mempunyai cara tersendiri dalam melatihnya. Shaleh Al-Murri mengatakan, “Sesungguhnya menangis itu ada pemicunya, yaitu memikirkan dosa. Apabila hati sudah larut maka melelehlah air mata. Apabila hal itu tidak mampu menembus hati maka ajaklah untuk membayangkan huru-hara kiamat sehingga hati meresponsnya. Kalau tidak mampu juga maka bayangkanlah ketika jasad dibolak-balik di
atas api neraka. Kemudian beliau berteriak histeris lalu pingsan, dan suara tangisan para jamaah terdengar dari segala penjuru masjid.”
Oleh karena itu, apabila Anda merasakan kekeringan pada mata Anda maka berlatihlah untuk menangis sebagaimana yang dikerjakan para tabi’in ini.
Begitulah kebanggaan, wahai gelora para tokoh.
Kemarilah dan lihatlah bagaimana derajat yang tinggi.
Saudaraku, jalan kepada penyucian jiwa adalah dengan membiasakan diri dengan amalan-amalan yang dikerjakan dari jiwa yang suci dan sempurna. Apabila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan karena telah berulang kali dikerjakan maka itu akan menjadi tabiat. Maka ringanlah baginya apa yang dahulu terasa berat. Barang siapa ingin mempunyai sifat dermawan maka dia harus terus memaksa dirinya untuk berbuat derma, dan terus membiasakan dirinya untuk mengerjakannya sehingga menjadi dermawan dan sifat tersebut menjadi tabiat dirinya. Begitu pula dengan akhlak dan ibadah lainnya.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 89-93
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=2sfrwtwcNUwQ7kNvwFG_A-I&_nc_oc=AdqlIh4qz3xPHZXYEZr4cTCGDdLwSkiD_tWTr9SmlQmGhSABPCJFClC12UHjzOeVrpY&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=mt6AW0KU0Qnd_z0tMDWFaw&_nc_tpa=Q5bMBQIIApm7V3b4pk7w53gMgTbGlBmJyzTBnlO07e3QAmk0mnjSz-mAk6ACA4FoB92Ha5Wc8jHGlST9&oh=00_AQGgjqTjSSqlk0zC02pok5jVwPMFhOokwlipK9AW3qylpA&oe=6A958AF6)


