MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA — Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, mengungkapkan strategi masa depan peradaban Nahdlatul Ulama (NU).
Menurutnya, NU harus mampu mengolaborasikan kekuatan ilmu, akhlak, dan tata kelola sistem yang solid untuk menjawab berbagai tantangan global di masa mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Cholil Nafis saat hadir sebagai narasumber dalam forum bedah buku karya Idrus Marham berjudul “Nahdlatul Ulama, dan Tantangan Peradaban” yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (24/8/2026) malam.
Kiai Cholil membedah secara mendalam peta jalan peradaban NU.
Rais Syuriah PBNU ini mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar dalam memimpin peradaban terletak pada keseimbangan elemen dasar penggeraknya.
”Peradaban tidak dibangun hanya dengan kemajuan materi, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan sistem. Ilmu memberi arah dan kemampuan, akhlak memberi nilai dan kemuliaan, sedangkan sistem memastikan nilai dan ilmu itu bekerja secara teratur untuk kemaslahatan bersama,” tegas Kiai Cholil di hadapan para tokoh dan peserta yang hadir.
Untuk mengoperasionalkan strategi peradaban tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini memaparkan tiga watak utama yang wajib melekat dan berjalan secara bersisian dalam tubuh NU, yaitu ‘ilmiyah, wasathiyah, dan tajdidiyah.
Watak pertama, ‘ilmiyah, bermakna bahwa setiap langkah dan respons peradaban NU harus selalu berakar pada tradisi keilmuan yang kokoh, rasional, dan berbasis data serta argumentasi syariat yang kuat.
Watak kedua, wasathiyah, menjadi fondasi dalam menjaga keseimbangan, keadilan, serta moderasi di tengah arus polarisasi dan perbedaan yang semakin tajam.
Sedangkan watak ketiga, tajdidiyah, merupakan ruh pembaruan yang memastikan ajaran serta nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tetap relevan dan sigap merespons dinamika perkembangan zaman.
”Karena itu, membangun peradaban Nahdlatul Ulama membutuhkan tiga watak yang harus berjalan bersama: ‘ilmiyah, wasathiyah, dan tajdidiyah. ‘Ilmiyah berarti peradaban harus berakar pada ilmu dan tradisi keilmuan yang kokoh; wasathiyah berarti menjaga keseimbangan, keadilan, dan moderasi dalam menghadapi perbedaan; sedangkan tajdidiyah berarti terus melakukan pembaruan agar ajaran dan nilai Islam mampu menjawab perubahan zaman,” paparnya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menegaskan bahwa kebesaran sejarah masa lalu tidak boleh membuat warga nahdliyin terlena.
Kebesaran peradaban justru dinilai dari bagaimana generasi masa kini mengolah warisan para ulama pendiri bangsa dengan pendekatan yang progresif.
”Peradaban yang kuat bukan sekadar mewarisi masa lalu, tetapi memahami warisan dengan ilmu, menjaganya dengan sikap wasathiyah, dan mengembangkannya melalui tajdid,” jelasnya.
Kiai Cholil Nafis menilai bahwa keharmonisan antara kapasitas intelektual, keluhuran budi pekerti, keteraturan organisasi, serta keberanian melakukan pembaruan adalah kunci utama agar NU tidak hanya menjadi penonton, melainkan penggerak utama peradaban dunia.
”Dengan ilmu kita mengetahui yang benar, dengan akhlak kita mengamalkannya, dengan sistem kita menegakkannya, dan dengan tajdid kita membawanya menuju masa depan. Ilmu membangun kecerdasan, akhlak membangun kemanusiaan, sistem membangun keteraturan; ‘ilmiyah, wasathiyah, dan tajdidiyah mengantarkan semuanya menjadi peradaban,” kata Kiai Cholil.
Laporan: MUI Digital











































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=2sfrwtwcNUwQ7kNvwFG_A-I&_nc_oc=AdqlIh4qz3xPHZXYEZr4cTCGDdLwSkiD_tWTr9SmlQmGhSABPCJFClC12UHjzOeVrpY&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=mt6AW0KU0Qnd_z0tMDWFaw&_nc_tpa=Q5bMBQIIApm7V3b4pk7w53gMgTbGlBmJyzTBnlO07e3QAmk0mnjSz-mAk6ACA4FoB92Ha5Wc8jHGlST9&oh=00_AQGgjqTjSSqlk0zC02pok5jVwPMFhOokwlipK9AW3qylpA&oe=6A958AF6)



