Berpuasalah dari dunia dan jadikan kematian sebagai waktu berbuka (Salim bin Abdullah bin Umar)
Setiap hari Abu Hazim melewati buah-buahan di pasar, dia berkata kepada dirinya, “Waktumu (makan buah) adalah nanti di surga.”
Dalam bermuamalah dengan nafsunya, seorang Muslim mempunyai sikap-sikap, yaitu memeranginya, memaksanya, meluruskannya, memperhatikannya, mensucikannya, menata dan melengkapi kekurangannya sehingga terkendali dan sempurna. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”(As-syams: 9-10).
Setiap orang yang sangat membutuhkan tahapan-tahapan di atas dalam mensikapi nafsu dan meluruskan apa yang menjadi kecenderungannya. Sebab, tabiat nafsu adalah condong kepada dunia.
“Perumpamaan tabiat nafsu yang condong kepada dunia adalah ibarat air yang mengalir. la selalu mengalir ke bawah, dan untuk mengalirkannya ke atas tentu memerlukan usaha yang keras.”
Barang siapa yang memahami kaidah ini maka dia akan mengatur nafsunya, berlaku lembut untuk mensiasatinya dan menjanjikannya suatu janji yang indah agar bersabar dalam menjalani apa yang dibebankan. Sebagian kaum salat berkata kepada nafsunya, “Demi Allah, aku mencegahmu dari apa yang engkau cintai ini tak lain karena sayang kepadamu.
Generasi tabi’in sangat memahami kaidah dalam bermuamalah dengan nafsu karena mereka telah memahami hakikat nafsu dan mencegah pengaruhnya sehingga mereka bisa memahami hakikat dunia yang mereka tinggali dan tidak tertipu dengannya. Begitu pula generasi setelah mereka, mereka tidak seperti kita yang terpedaya. Mereka benar-benar mengetahui, tanpa keraguan sedikit pun bahwa dunia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan akhirat. Orang yang berakal adalah yang mengetahui penyakit nafsunya sehingga keluar dari dunia ini dengan selamat. Abu Yazid Rahimahullah mengatakan, “Aku tetap terus menggiring nafsuku kepada keridhaan Allah meskipun dia menangis sampai suatu saat nanti aku menggiringnya dan dia tertawa.”
Seorang penyair berkata:
“Hadapi peristiwa dalam hari-hari dengan kesabaranmu
niscaya engkau dapatkan keringanan dari Yang Maha Esa”
Amru bin Musa bin Fairuz mengatakan, “Aku melihat Bisyr bersama seseorang. Ketika orang tersebut melangkah ke sumur ingin minum air darinya, Bisyr menariknya dan berkata, Minumlah dari sumur yang lain’, kejadian tersebut berulang hingga di tiga sumur, maka orang tersebut berkata, “Wahai Abu Nashr, aku haus’. Bisyr berkata, ‘Diam, beginilah cara menahan nafsu terhadap dunia’.”
Seorang pendidik besar Bisyr bin Al-Haris Al-Hafi ingin mengajarkan kepada muridnya suatu pelajaran yang tidak ada dalam kitab dan tidak tersebut di dalam khutbah-khutbah. Beliau ingin mengajarkan kepadanya bagaimana menyikapi nafsunya dalam meniti jalan menuju Allah. Beliau ingin mengajarkan kepadanya hakikat dunia ini, yang merupakan tangga menuju akhirat.
Salim bin Abdillah bin Umar sangat memahami makna ini, beliau berkata, “Berpuasalah dari dunia dan jadikan kematian sebagai waktu berbuka.”
Di antara manusia, ada yang menjadikan kematian sebagai akhir hidupnya, dan ada pula yang menjadikan kematian sebagai awal kehidupannya. Oleh karena itu, harus ada yang mendidik dan selalu berupaya meluruskan nafsu, mengobati penyakitnya dan menyabarkannya, serta terkadang juga berlaku lembut kepadanya sehingga berhasil melewati dunia yang fana ini menuju alam yang kekal abadi.
Seperti itu juga Imam Ahmad bin Hambal mendidik diri dan pengikutnya di atas manhaj yang mulia ini. Ahmad bin Hawari mengatakan, “Abu Sulaiman (Imam Ahmad bin Hambal) berkata kepadaku, ‘Sedikit lapar, sedikit telanjang, sedikit terhina, sedikit fakir, dan sedikit sabar. Dengan itulah hari-hari di dunia berlalu darimu’.”
Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya makanan di dunia adalah makanan rendahan, pakaian rendahan, dan hari-hari yang sebentar. Maka jangan engkau menoleh kepada kenikmatan yang dinikmati orang-orang yang hidup mewah, namun lihatlah akibat yang akan mereka alami. Jangan sampai kesulitan hidup memudarkan kesabaranmu. Gerakkanlah onta dengan menghalaunya maka dia akan berjalan.”
Seringkali nafsu itu menolak kecuali kepada kehinaan. Oleh karena itu, perlu adanya sikap bijak dan kelembutan secukupnya, karena nafsu memiliki semangat saat malas. Apabila rombongan kafilah sudah lelah maka yang terdepan menghentikannya. Beristirahat sejenak untuk Suatu amalan yang besar akan mengembalikan semangat baru. Penyelaman seorang perenang untuk mencari mutiara harus disertai pula naik untuk ambil nafas. Berjalan terus-menerus akan mengakibatkan onta letih. Perjalanan untuk menjadi juara itu susah.”
Nafsu Utbah Al-Ghulam mendesaknya untuk makan daging maka ia berkata kepadanya, “Bersabarlah sampai nanti. Beliau terus menahan hasratnya selama tujuh tahun, hingga pada tahun ke tujuh beliau mengambil 1/6 dirham dan setengah lalu membawanya kepada salah seorang kawannya yang juga termasuk shahabat Abdul Wahid, seorang pembuat roti. Beliau berkata kepadanya, Nafsuku telah mendesakku untuk makan daging sejak tujuh tahun yang lalu. Aku malu kepadanya karena telah beberapa kali aku menjanjikannya dan selalu menangguhkannya. Maka, tolong belikan dua potong roti dan sepotong daging dengan uang ini.
Tatkala kawannya itu datang membawa pesanan beliau, tiba-tiba datang seorang anak kecil. Beliau bertanya, “Wahai fulan, bukankah kamu anak fulan, dan ayahmu sudah lama tiada? Anak tadi menjawab, ‘Iya’. Maka beliau menangis dan mengusap kepala anak yatim tersebut dan berkata, “Penyejuk mataku dari dunia, biarlah apa yang aku inginkan masuk ke dalam perut anak yatim ini.”
Maka beliau memberikan apa yang beliau bawa kepada anak itu, kemudian membaca ayat, ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. “(Al-Insân: 8)
Seorang tabi’in lain terus berusaha menyabarkan dirinya, hingga apabila nafsunya tetap enggan maka dia berhutang kepadanya. Habib bin Abi Tsabit mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang aku cintai untuk berhutang melebihi nafsuku. Aku katakan kepadanya, ‘Berilah tangguh kepadaku sampai terpenuhi sesuai keinginanku’.”
Seorang tabi’in lain juga menangguhkan keinginan nafsunya hingga bisa menurutinya. “Suatu ketika Abu Hazim melewati seorang jagal. Ia berkata kepada beliau, “Wahai Abu Hazim, belilah daging ini karena ia dari hewan yang gemuk. Beliau menjawab, “Aku tidak punya uang.” Tukang jagal berkata, “Engkau bisa menangguhkan pembayarannya.” Beliau menjawab, “Aku telah menangguhkan nafsuku.”
Di samping bersikap keras terhadap nafsu serta berbuat lembut kepadanya, perlu juga menerangkan kepada dirinya hakikat nafsu, agar terbongkar kejelekannya apabila dia tidak mau bersabar. “Suatu ketika, Daud At-Tha’i melewati lorong rumah Amru, beliau melihat ruthob (korma muda) tertata rapi. Sepertinya nafsunya mendorongnya untuk membeli. Maka beliau mendatangi salah seorang penjual dan berkata kepadanya, ‘Aku beli satu dirham’. Si penjual berkata, Mana uang satu dirhamnya? Beliau menjawab, ‘Besok aku beri’. Si penjual menolak keinginan beliau dan berkata, Pergilah sana!”
Salah seorang yang mengenal Daud melihat kejadian tersebut lalu mendatangi penjual tersebut dan mengeluarkan kantong yang di dalamnya berisi seratus dirham, dia berkata, Kejarlah orang tadi, kalau dia mau beli satu dirham maka ini untukmu.’ Penjual tadi bergegas mengejar Daud dan mendapati beliau berkata kepada dirinya sendiri, ‘Kenapa engkau menawar dunia ini dengan satu dirham sedang engkau menginginkan surga.’ Penjual tadi berusaha membujuk beliau untuk kembali, namun beliau menolaknya.”
Bersabarlah dan bersabarlah, wahai pencari kemuliaan Kenikmatan bersenang-senang dengan hawa natsu atau dengan pengangguran akan segera sirna dan yang tinggal adalah duka lara. Imam Syafi’i a mengatakan:
“Wahai jiwa, itu hanyalah kesabaran sesaat
seakan-akan lamanya hanya sekilas mimpi
Wahai jiwa, laluilah dunia dengan segera
tinggalkan, karena kehidupan itu ada di sana. “
Allah mempunyai suatu kaum yang selalu mengerjakan apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka dilarang berbuat dosa maka mereka menjauhinya. Apabila dunia hadir maka mereka pergi, namun apabila dunia berpisah maka mereka hadir. Apabila Anda melihat keadaan mereka pada hari kiamat ketika mereka dikumpulkan: “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka.” (Al-Mukminûn: 111).
Saudaraku, seseorang tidak akan sampai pada satu tempat kecuali setelah melalui perjalanan yang panjang. Mereka tidak akan merasakan nikmatnya istirahat kecuali setelah merasakan pedihnya kepayahan. Ukiran nama raja pada uang dinar tidak akan diperoleh kecuali setelah batangan emas bersabar berkali-kali dipanggang di atas bara sehingga meleleh semua kotorannya. Kemudian bersabar dipotong-potong menjadi beberapa keping dinar. Kemudian bersabar ditempa di atas cap uang. Setelah itu barulah tampak ukiran tulisannya. ‘Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka’. “(Al-Mujâdalah: 22)
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 83-88
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































