Terkadang aku membayangkam diriku berada di antara dua qunung api neraka (Abu Sulaiman Ad-Darani)
Ini adalah satu sarana di antara sarana-sarana tarbiyah yang ada pada generasi tabi’in, yaitu tarbiyah pemisalan diri. Tujuan tarbiyah ini adalah berusaha mengikat hati dengan akhirat. Sebagaimana diriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata, “Ibrahim At-Taimi berkata, “Aku memisalkan diriku seakan-akan di atas api neraka, menghadapi rantai dan belenggunya, makan buah zaqqum, minum air yang terlampau dingin dan nanah. Aku berkata kepada diriku, Apa yang kamu inginkan?” Dia menjawab, Kembali ke dunia untuk mengerjakan amalan yang bisa menyelamatkan aku dari siksa ini’. Aku juga memisalkan diriku seakan-akan di surga. Hidup senang bersama bidadarinya. Memakai pakaian sutera halus dan sutera tebal. Kemudian aku bertanya kepada diriku, ‘Apa yang kamu inginkan? Dia menjawab, ‘Kembali ke dunia untuk mengerjakan amalan yang bisa menambah pahala ini’. Aku berkata, “Kamu sedang berangan-angan, maka sekarang beramallah!'”
Patutlah kiranya seorang mukmin menyikapi peristiwa-peristiwa tarbiyah yang menarik ini dengan rasa kagum dan sedih. Kagum atas kemauan dan semangat yang tinggi ini, serta penemuan metodologi tarbiyah yang tinggi. Sedih karena melihat kondisi kita dan hasil tarbiyah yang selama ini kita peroleh, yaitu badan yang berat untuk beribadah, hati yang keras, dan jiwa yang kering.
Ma’la Al-Waraq mengatakan, “Suatu ketika kami duduk bersama Malik bin Dinar. Tatkala Malik sedang berbicara datanglah Abu Ubaidah dengan membawa tali dari sabut yang pada kedua ujungnya ada dua tali yang melingkar. Lingkaran yang satu dilemparkan ke leher Malik dan yang satu lagi dia masukkan ke lehernya sendiri. Kemudian Malik berkata, “Anggaplah aku dan kamu berada di hadapan Allah, lalu apa yang akan engkau katakan?” Maka beliau menangis g dan orang-orang pun ikut menangis.”
Tabiin yang lain juga mempraktikkan cara tarbiyah semacam ini, sebagaimana diriwayatkan dari Haitsam bin Adi. Dia berkata, “Aku mendengar Huwail bin Muhammad yang merupakan seorang ahli ibadah. Seakan-akan Huwail berdiri menghadapi hisab hari kiamat, maka dikatakan kepadanya, Hai Huwail, kami telah menghidupkanmu selama 60 tahun, apa yang engkau perbuat di dalamnya? Lalu dijumlahkan semua tidur malam dan siangnya maka hasilnya sebagian umurku habis untuk tidur. Kemudian dijumlahkan pula waktu untuk makan maka hasilnya, sebagian umurku habis untuk makan. Kemudian dijumlahkan waktu wudhuku maka hasilnya, sebagian umurku habis untuknya. Kemudian dilihat shalatku, ternyata shalatku banyak yang kurang. Begitu pula puasaku, banyak yang bolong. Maka tidak ada pilihan lain kecuali pengampunan dari Allah atau kebinasaan.”
Dengan jiwa yang penuh semangat ini dan sensitivitas yang tinggi, generasi tabiin hanya mau berada di puncak dan menjadi pemimpin dalam segala kebaikan. Mereka telah melukiskan langkah-langkah tarbiyah dan telah mendahului kita dengan contoh.
Siwar Abu Ubaidah berkata, “Istri Atha’ As-Salimi berkata kepadaku, “Tegurlah Atha’ karena dia banyak menangis.’ Akupun menemui Atha’ dan menegurnya. la berkata kepadaku, Wahai Siwar, engkau mencelaku atas sesuatu yang aku tidak kuasa atasnya? Sungguh, apabila aku ingat penghuni neraka serta azab Allah yang menimpa mereka, aku membayangkan kalau diriku ada bersama mereka. Bagaimana nasib seseorang yang tangannya terbelenggu ke leher? Lalu diseret ke neraka di atas wajahnya? Tidakkah ia berteriak dan menangis? Bagaimana nasib seseorang yang disiksa, tidakkah ia menangis? Celaka wahai Siwar, alangkah sedikit manfaat tangisan baginya jika Allah tidak merahmatinya?”
Abu Sulaiman Ad-Darani pernah berkata, “Terkadang aku membayangkan diriku berada di antara dua gunung api neraka. Aku juga membayangkan terjatuh ke dalam jurang antara dua gunung tersebut sampai di dasarnya. Maka, bagaimana mungkin dunia bisa bersenang-senang dengan orang yang keadaannya seperti ini.”
Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Aku pernah menggambarkan kepada saudariku, Abdah, tentang jembatan yang melintas di atas neraka Jahannam. Maka selama sehari semalam dia berteriak tiada henti. Kemudian ia diam, namun setiap kali aku mengingatkan hal itu maka dia kembali berteriak. Aku tanyakan apa penyebab dia berteriak. Ia menjawab, ‘Aku memisalkan diriku berada di atas jembatan yang kemudian terbalik bersamanya’.”
Al-Junaid bin Muhammad pernah berkata, “Suatu ketika terlintas di dalam benakku, aku memisalkan diriku sebagai Nabi Yusuf, sedang aku sebagai Nabi Ya’qub, maka aku bersedih tatkala kehilangan diriku (sebagai Yusuf) sebagaimana sedihnya Nabi Ya’ qub atas kehilangan Nabi Yusuf. Oleh karena itu, aku giat beramal.”
Saudaraku, bayangkan kalau dirimu berada di salah satu sudut neraka Jahannam, dan Anda terus menangis sementara semua pintunya tertutup, begitu juga atapnya. Keadaannya gelap gulita, hitam mencekam, tidak ada teman yang mendampingi dan tidak ada kawan tempat mengadu, tidak ada tidur untuk sejenak pun, dan tidak ada seorang pun di sana.
Ka’ab berkata, “Sesungguhnya para penghuni neraka memakan tangan mereka hingga ke pundak sebagai penyesalan atas kelalaian yang telah mereka kerjakan di dunia, sedang mereka tidak merasa. Wahai yang terusir dari pintu rahmat wahai yang dihalau dengan cambuk tirai, andaikan engkau menepati perjanjianmu dengan Kami maka Kami tidak akan melemparimu. Andai dahulu engkau memohon ampun kepada Kami dengan air mata penyesalan maka Kami akan mengampuni dosamu yang telah lalu.”
Saudaraku, ini merupakan salah satu sarana tarbiyah yang menarik yang diwarisi oleh para tabi’in yang sangat patut kita amalkan agar hati-hati kita akan senantiasa terikat dengan akhirat. Sehingga akan tercipta semangat yang sangat besar untuk melakukan ibadah kepada Allah demi mendapatkan kedudukan mulai di akhirat kelak dan akan pula tercipta rasa takut untuk melakukan dosa sehingga ia akan memperhatikan dan mengawasi dirinya dengan sangat teliti agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa yang akan mengantarkannya pada jurang neraka.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 94-97
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































