Hari ini adalah zaman serba media. Dimana segala aktivitas manusia sudah tidak bisa terlepas dari yang namanya media.
Tahukah kita? Keberadaan media yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, terutama jarak jauh, hari ini keberadaannya jauh lebih besar dari sekedar itu.
Perlu kita ketahui, media hari ini telah menjadi medan peperangan. Media dapat membentuk persepsi dan mendesain ulang masyarakat. Suatu kelompok akan mampu melemahkan dan mengalahkan kelompok lainnya melalui media.
Inilah yang kemudian digunakan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan islam.
“Nyatanya Engkau sedang berada di tengah perang. Siap tidak siap, mereka akan menyerang. Jangan keluar kecuali menjadi pemenang!” pernyataan tegas itu ditulis Jihad Turbani tentang media yang hari ini yang telah menjadi medan perang.
Melalui media yang hari ini sudah tidak bisa lagi terkendali. Seseorang akan mencintai dan membenci apa yang disukai dan dibenci oleh musuh-musuh Islam.
Bagaimana cara menghentikannya? Media hanya bisa dilawan dengan Media. Derasnya arus informasi yang menyesatkan melalui media harus dilawan dengan informasi kebaikan yang tak kalah banyaknya. Ibarat perang, jumlah kita harus sepadan dengan lawan.
Disinilah pentingnya media yang banyak orang tidak menyadarinya. Mereka diperangi namun tidak melakukan perlawanan karena mereka tidak sadar akan hal itu. Bukankah itu suatu kekeliruan?
Musuh-musuh islam sekarang ini sibuk dengan strategi-strateginya perangnya. Akankah kita akan menjadi orang yang celaka, berada dalam medan peperangan tanpa ada senjata satupun? Tentu tidak.
Jika sekarang, media hanya kita gunakan untuk sekedar hiburan, tempat mengekspresikan kegalauan, maka bersiaplah menjadi orang-orang yang gugur di medan peperangan. Orang-orang yang kemudian terpengaruh oleh serangan-serangan musuh-musuh islam. Hal ini sering kita kenal dengan ghuwzul fikr (perang pemikiran) yang terdiri dari fun, fashion, film, food dan masih banyak lagi perang pemikiran lainnya yang kemudian menyebabkan umat islam kehilangan jati dirinya.
Jihad media adalah suatu hal yang nyata adanya. Jihad yang memerlukan pemikiran, ide-ide yang kemudian bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap musuh-musuh islam.
Menyebarkan pemikiran akan indahnya islam, ditengah banyaknya stigma yang disebarkan oleh musuh-musuh agama ini bahwa islam itu beban, ini dilarang, itu dilarang sehingga muncul kecemasan padahal realitanya islam adalah agama yang sempurna, penuh cinta dan kasih sayang. Agama yang menuntun dan mengajak pada kebaikan dan menjauhkan kita dari kejahatan bukan sebaliknya.
Berada dalam perjuangan media dakwah adalah sama halnya dengan berjihad dan itulah bentuk jihad hari ini.
Sayyid Quthb pernah berkata bahwa, “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala.”
Setelah kita renungkan kata-kata diatas, kita mengerti bahwa tulisan memiliki pengaruh terhadap orang yang membacanya. Pengaruh yang begitu besar yang tidak sadari oleh banyak orang. Itulah peran media. Jangan sampai engkau biarkan dirimu tertinggal dan tidak mengambil bagian dari perjuangan ini.
***********
Gowa, 11 Februari 2022
Penulis: Wahyuni Subhan
(Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pengurus Mujahid Dakwah Media)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































