MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA — AQL Humanity berkolaborasi dengan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) mengirimkan tim kemanusiaan ke wilayah terdampak gempa bumi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim terdiri atas relawan tanggap darurat dan jurnalis yang akan membantu penanganan sekaligus melakukan peliputan langsung dari lokasi bencana.
Pelepasan tim gabungan dilakukan di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Pembina AQL Humanity Ustaz Bachtiar Nasir atau UBN mengatakan pengiriman tim tersebut merupakan bentuk empati terhadap masyarakat yang harus mengungsi karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman ditempati.
“Mungkin berada di pengungsian, mungkin sedang putus harapan karena rumah tempat tinggal bukan lagi tidak bisa ditumpangi, tetapi mungkin akan menjadi ancaman jika berada di dalam,” kata UBN.
Menurut dia, warga di pengungsian menghadapi berbagai persoalan, mulai keterbatasan air dan sanitasi hingga kebutuhan bayi, lansia, dan pasien.
“Di sinilah Allah, Tuhan kita Yang Maha Kuasa, menguji keindonesiaan kita. Terutama menguji empati dan solidaritas keindonesiaan kita,” ujarnya.
Dalam misi tersebut, AQL Humanity memberangkatkan tiga personel. Mereka terdiri atas koordinator lapangan, relawan AQL Humanity, dan jurnalis yang mewakili SAJID.
Jurnalis akan melakukan peliputan langsung dengan mengutamakan data, fakta, dan sumber primer.
“Yang akan memproduksi informasi dari lokasi secara langsung, dari sumber-sumber primer, dan dari kenyataan fakta di lapangan,” kata UBN.
Salah satu personel yang diberangkatkan adalah Ananda Putra, kader AQL sekaligus mahasiswa STIQ Ar-Rahman. Putra seharusnya mengikuti prosesi wisuda dalam waktu dekat.
Namun, orang tua Putra menjadi bagian dari masyarakat terdampak dan berada di pengungsian di Maumere. Kampus kemudian memberikan izin kepada Putra untuk bergabung dalam misi kemanusiaan dan mengikuti wisuda secara jarak jauh.
UBN mengatakan keputusan tersebut menjadi bagian dari penerapan nilai pendidikan melalui pengabdian kepada masyarakat.
“Ukuran keberhasilan sebuah pendidikan bagi kami adalah ketika para mahasiswa kami siap untuk diterjunkan ke lapangan,” katanya.
Menurut UBN, Putra juga menjalankan misi berbakti kepada orang tua sekaligus membantu masyarakat terdampak.
“Sudah waktunya untuk mengamalkan ilmunya dan pada saat yang sama sudah waktunya untuk birrul walidain,” ujarnya.
UBN menyampaikan berdasarkan informasi yang diterima AQL, lebih dari 30 orang mengalami luka-luka di sejumlah wilayah NTT, termasuk Sikka, Ende, dan Manggarai Barat. Sejumlah bangunan dan fasilitas publik juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Di Ende, sejumlah rumah dan bangunan pemerintah dilaporkan roboh atau mengalami keretakan. Akses transportasi Ende-Bajawa dan jalur Trans Ende-Maumere juga dilaporkan terganggu.
Sementara di Manggarai dan Manggarai Timur, sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat.
Seperti diketahui, pada Sabtu (15/8/2026) pagi terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT. BMKG mencatat gempa terjadi pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA, dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo 2,5 hingga 6,2.
Tim AQL Humanity dan SAJID selanjutnya akan melakukan asesmen kondisi masyarakat dan memetakan kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
“Kita ingin hadir bersama mereka, melihat langsung kondisi mereka, mengetahui kebutuhannya, dan kemudian membantu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” ujar UBN.
Laporan: Humas SAJID













































































