Pada bagian akhir buku “Historical and Fiction”, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan peranan para sayyid atau syarif dari Hadramaut yg datang ke Melayu Nusantara untuk tugas yang mulia, menyebarkan agama Islam.

“These missionaries of the Bani ‘Alawi of Hadramaut were not amateurs; they were professional missionaries par excellence; men learned in the Sacred Law and gifted with spiritual and intellectual discernment, eminently competent to carry out the task of establishing the early Islamic kingdoms. They came not in a manner disorganized, nor haphazard, but in a manner planned to ensure the continuity of their mission,” tulis Prof. Al-Attas.

Mereka bukan orang-orang amatir. Mereka dai profesional. Ahli dlm hukum agama Islam. Memiliki kemampuan mendirikan kerajaan.

Prof. Al-Attas menyebut abad-abad penting. Yaitu abad ke-12 dan ke-17. Pada abad ke-17 inilah puncak Islamisasi di Melayu Nusantara dengan ditandai lahirnya budaya pemikiran rasional dan tradisi keilmuan tinggi.

Menegakkan agama sampai pada level tinggi perlu masa berabad-abad.

Setelah sekian lama negeri-2 Muslim dijajah bangsa Eropa, meningglkan pengaruh yang hingga kini kita rasakan. Puncaknya ketika sekularisme sebagai program filsafat mengelirukan ilmu. Melahirkan pemimpin-pemimpin palsu.

Di kondisi sulit ini, muncullah Prof. Al-Attas menyampaikan gagasan Islamisasi Pengetahuan Kontemporer pada tahun 70-an.

Beliaulah yang menemukan akar masalah umat Islam kontemporer. Prof. Al-Attas hadir sebagai pelanjut dari datuk-datuknya yg datang dari Hadramaut untuk meneruskan kembali pengislaman pemikiran di Melayu Nusantara.

Tanggal 5 September 2021 beliau menginjak usia 90 tahun.

Semoga beliau sehat wal afiyat dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

**************

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel:www.mujahiddakwah.com(Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan