Berbicara tentang Filsafat tentu tidak lepas dari peran serta filosof ulung asal yunani yakni Plato dan muridnya Aristoteles. Beberapa pengertian Filsafat diantaranya, filsafat didefinisikan sebagai studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.

Filsafat tidak didalami dengan eksperimen dan percobaan ilmiah, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis dengan berbagai premis dan aksioma, mengajukan beberapa solusi, lalu memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses itu dimasukkan kedalam dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berfikir rasional dan logika bahasa (Prof Dr, Ing Fahmi Amhar, Media Umat, hal. 21). Kata falsafah atau filsafat merupakan serapak dari bagasa Arab Falsafah, yang juga diambil dari bahasa yunani, (philia = persahabatan, cinta), (shopia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harfiahnya berarti seorang “pecinta kebijaksanaan”.

Di Universitas atau perguruan tinggi, mata kuliah Filsafat Ilmu telah dijadikan sebagai pelajaran wajib bagi mahasiswa, khususnya pada tingkat pascasarjana. Namun, Pembahasan tentang filsafat ilmu, belum begitu familiar disebagian Universitas atau perguruan tinggi, jika ditinjau cabang ilmu ini penting sebagai pengantar untuk cabang ilmu-ilmu yang lain.

Sebelum mahasiswa mempelajari ilmu, menggali disiplin ilmu yang telah dipilih sesuai minat jurusannya, filsafat ilmu semestinya menjadi suguhan awal agar mahasiswa menyadari hakikat dari ilmu yang akan ia pelajari, untuk apa dan harus bagaimana mempergunakan ilmu yang dipelajarinya.

Banyak buku tentang Filsafat Ilmu telah ditulis dan diterbitkan. Kuatnya dominasi sekularisme yang menolak campur tangan agama dalam bidang keilmuan kontemporer, turut berpengaruh dalam perumusan konsep Filsafat Ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi saat ini (hal. xv). Buku filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam yang ditulis oleh Dr. Adian Husaini, dkk, telah memberi warna pada kencah pergulatan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

Jika filsafat diartikan sebagai pemikiran yang menyeluruh dan mendasar, maka sejak awal turunnya Al-Qur’an, Islam telah menyajikan konsep-konsep tentang Tuhan, alam, manusia, dan moral, secara mendasar dan menyeluruh. Bedanya dengan filsafat sekuler Barat, “Filsafat Islam” tidak bersifat spekulatif, karena menerima wahyu sebagai sumber ilmu.

Jika filsuf Yunani dan banyak filsuf lainnya masih berspekulasi tentang asal mula dan masa depan kehidupan, maka filsafat dalam Islam yang berdasarkan wahyu sudah memberikan ilmu yang jelas dan tidak spekulatif. Asal-usul manusia sudah sangat jelas, yaitu berasal dari keturunan Adam A.S. Ketika manusia menolak informasi wahyu, maka secara otomatis, mereka akan berspekulasi. Malangnya, berspekulasi kemudian diberi nilai yang sangat tinggi, yaitu sedang berfilsafat (hal. xx).

Ilmu sebagai dasar kehidupan, semestinya dimengerti dan dipahami dengan baik apa dan seperti apa itu ilmu, karena masyarakat pada umunya, dan para pencari ilmu sekalipun kebanyakan dari mereka tidak mengerti. Dalam buku ini, tulisan Dr. Syamsuddin Arif membahasnya secara gamblang. Selain itu, Dr. Syamsuddin Arif juga mengeritiki beberapa pendefinisian ilmu yang diusungkan oleh Oxford English Dictionary (yang pasti sudah disusun oleh sebuah tim penulis terdidik yang cakap) dianggapnya problematik (hal: 72).

Bagian penting dalam pembahasan filsafat ialah Epistemologi. Epistemology, biasa didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat yang membahas ilmu pengetahuan secara menyeluruh dan mendasar. Epistemology berbicara tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana manusia bisa meraih ilmu. Sementara itu, knowledge atau ilmu pengetahaun merupakan sesuatu yang mendasar dalam kehidupan manusia.

Islam agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Alqur’an adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini misalnya, tergambar dari penyebutan kata “al-ilm” dan derivasinya yang mencapai 823 kali. (hal. 27-28). Bahkan, yang diajarkan pertama kali kepada Nabi Adam a.s adalah pengetahuan tentang nama-nama benda (2:31).

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wasallam, berkaitan dengan perintah membaca (Iqra’) dan menulis yang disimbolkan dengan “pena” (qalam). Wahyu ini pun sudah berbicara tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari “al-alaq” (sesuatu yang melekat).

Tetapi, sejak awal sudah diingatkan bahwa proses membaca dan belajar tidak boleh dipisahkan dari dasar keimanan. Semua harus dilakukan dengan nama Allah (Iqra’ bismirabbikalladzii Khalaq). Karena itulah, tradisi ilmu dalam islam sejak awal sudah bersifat “tauhidiy”, tidak sekuler, tidak mendikotonomikan antar unsur dunia dan unsur akhirat; antara ilmu-ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua ilmu itu bermuara pada satu tujuan, yaitu untuk mengenal (ma’rifah) kepada Allah Subhanahuwata’ala dan mencintai ibadah kepada-Nya. (hal. 28) .

Lain halnya epistemology yang diwariskan oleh pemikiran Barat. Pada Abad pertengahan di Eropa, Epistemologi berada dalam pengaruh Aristoteles dan Platonisme, yang mempertahankan konsep pengetahuan dengan keabadian obyek-obyek (berdasarkan necessity dan universalitasnya) sebanyak metode-metode diskursif (demonstratife teori).

Refleksi abad pertengahan dalam sains (scientia) tujuan utamanya melalui pengelaborasian teori dari pengetahuan demonstrative yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Aristotelian, yaitu analisa a posteriori. Tradisi ini, yang menekankan pada prosedur deduktif dimana sains harus ditempatkan, kemudian diperkuat dengan catatan Aristoteles tentang sains sebagai nilai epistemic (epistemic virtue), sebagai kebiasaan yang memiliki karakteristik kepermanenannya dan kecenderungannya kepada kebenaran sebagai tandingan opini belaka. (hal. 6).

Epistemology Barat modern-sekuler semakin bergulir dengan munculnya filsafat dialektika Hegel (m. 1831) yang terpengaruh oleh kant. Bagi Hegel, pengetahuan adalah ongoing process, di mana apa yang diketahui dan aku yang mengetahui terus berkembang; tahap yang sudah tercapai “disangkal” atau “dinegasi” oleh tahap baru. Bukan dalam arti bahwa tahap lama itu tak berlaku lagi, tetapi tahap lama itu, dalam cahaya pengetahuan kemudian, kelihatan terbatas. Dari epistemology Barat yang mewariskan sekularisme, kini melahirkan paham ateisme. Akibatnya, paham ateisme menjadi fenomena umum dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi Yahudi-Kristen, sains, sosiologi, psikologi, politik ekonomi, daln lain-lain (hal. 9).

Maka tidak heran jika keluar pernyataan bahwa Tuhan tidak berperan dalam penciptaan (Charles Robert Darwin-m.1882). bagi Darwin, asal mula sepsis (origin of species) bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan” (adaptation to the environment). Menurutnya lagi Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesies yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dengan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam (natural conditions).

Buku Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam yang ditulis oleh Dr. Adian Husaini, dkk, merupakan kompilasi dari makalah-makalah para penulisnya, buku ini membahas berdasarkan tema-tema tertentu dengan penulis yang berbeda, diantara pembahasan buku ini yaitu : Sekularisasi Ilmu (Adnin Armas, M.A dan Dr. Dinar Dewi Kania), Filsafat Islam dan Tradisi Keilmuan Islam (Dr. Syamsuddin Arif dan Dr. Dinar Dewi Kania), Urgensi Epistemologi Islam (Dr. Adian Husaini), Konsep Ilmu dalam Islam (Nashruddin Syarif, M.Pd.I), Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu (Dr. Syamsuddin Arif), Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu (Dr, Dinar Dewi Kania), Prinsip-Prinsip Dasar Epistemologi Islam (Dr. Syamsuddin Arif) Konstruk Epistemologi Islam: Telaah Bidang Fiqh dan Ushul Fiqh (Dr. Nirwan Syafrin), Metodologi Ilmiah dalam Islam (Adnin Armas, M.A), Ilmu dan Adab dalam Islam (Dr. Ahmad Alim, Lc, M.A), Makna “Adab” dalam Perspektif Pendidikan Islam (Dr. Adian Husaini), Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Ir. Budi Handrianto, M.Pd.I).

Sebagai buku yang merupakan kompilasi dari makalah-makalah tentulah memiliki kelemahan yaitu pembahasannya tidak begitu sistematis, terlebih lagi kompilasi ini berdasarkan penulis yang berbeda-beda, sehingga membuat alur pembahasan buku ini semakin tidak sistematis. Demikian, selain pembahasan yang tidak sistematis sebagian pembahasannya terdapat pengulangan data meski dalam konteks yang berbeda, namun pada dasarnya berawal dari akar pembahasan yang sama.

Pada sisi lain, buku jenis seperti ini juga mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh jenis buku lainnya, yaitu terbukanya peluang untuk mengulang data sehingga memudahkan dalam pemahaman kandungan buku, apalagi untuk banyak orang, pembahasan soal filsafat Ilmu merupakan persoalan yang baru.

Buku yang dibahas dengan gaya bahasa kas para penulisnya, merupakan keunikan tersendiri dari buku ini. Para penulis yang merupakan para pakar pemikir Islam, yang tak diragukan lagi kefaqihan dalam ilmunya, berupaya mengembalikan ilmu dalam perspektif yang benar dan mengungkapkan kelemahan metodologi keilmuan Barat melalui sanggahan-sanggahan terhadap teori-teori mereka secara ilmiah. Dengan disandari oleh referensi buku-buku falid dan berkualitas. Diawali dengan pembahasan sekularisasi ilmu dan ditutup dengan pembahasan islamisasi ilmu pengetahua, semakin membuat buku ini layak untuk dibaca oleh para penuntut ilmu yang sedang mencari kebenaran.

Referensi: Buku Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam
Penulis : Dr. Adian Husaini; Dr. Syamsuddin Arif; Dr. Nirwan Syafrin; Dr. Ahmad Alim; Dr. Dinar Dewi Kania; Adnin Armas, M.A; Nashruddin Syarif, M.Pd.I; Ir. Budi Handrianto, M.Pd.I

*************

Penulis: Masykur, Sos,.I
(Pengurus Pelajar Islam Indonesia, Seorang Penulis dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan