Wanita Muslimah Menyambung Tali Kekerabatan Sesuai dengan Petunjuk Islam

Wanita Muslimah yang menyadari petunjuk agamanya tidak akan pernah melupakan silaturahmi, tetapi sebaliknya dia akan senantiasa menyambungnya. Dia tidak dilupakan oleh kesibukan sebagai seorang ibu tidak juga oleh tugas mengurus rumah dan suaminya. Di sana dia senantiasa mengatur waktu untuk mengunjungi kerabatnya sesuai dengan mengikuti petunjuk lslam yang mendahulaukan kerabat terdekat. Dengan memulai dengan mengunjungi ibu, kemudian bapak, selaniutnya kerabat-kerabat dekat lainnya, seperti yang telah dijelaskan oleh hadits Nabi berikut ini.

Ada seseorang yang datang kepada Nabi seraya bertutur “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?
Rasulullah menjawab, “lbumu!”
Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?
Ibumu!” jawab beliau.
“Lalu siapa lagi? tanya orang itu
Beliau pun menjawab, “lbumu!”
Selanjutnya bertanya, “Lalu siapa?”
Beliau menjawab, “Bapakmu, dan kemudian keluargamu yang terdekat.” (Muttafaq Alaih)

Wanita Muslimah dalam berbuat baik kepada kaum kerabatnya dan bersilarurahmi kepada mereka mendapatkan dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah. Apabila dia dari kalangan orang kaya, dia akan memberikan sebagian kekayaan jika mereka membutuhkannya. Dengan sebagian kekayaan itu dia dapat menundukkan had kerabatnya untuk mencintai dan mendoakannya. Dan, itulah yang sangat disenangi islam, dan diserukan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Zainab Ats-Tsaqaffiyah, istri Abdullah bin Mas’ud , dia menceritakan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, pernah bersabda

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah meski dengan perhiasan kalian!” Lalu Zainab berkata, kemudian aku kembali ke rumah menemui Abdullah bin Mas’ud, dan aku katakan kepadanya, “Sesungguhaya engkau adalah laki-laki miskin, dan Rasulullah telah memerintah kami untuk bersedekah. Karenanya datanglah dan tanyakan kepadanya, bolehkah aku
memberikan sedekah kepada engkau? Jika tidak, akan kuberikan sedekah itu kepada orang lain.” Abdullah bin Mas’ud pun berujar, “Engkau saja yang pergi.” “Kemudian aku pun pergi,” demikian lanjut Zainab, ternyata ada seorang wanita Anshar berada di depan pintu Rasulullah untuk keperluan yang sama. Karena merasa segan kepada Rasululah, maka keluarlah Bilal menemui kami, lalu kami berkata, “Menghadaplah kepada Rasulullah, beritahukan kepada beliau ada dua wanit di depan pintu yang menanyakan kepada engkau tentang satu hal, apakah boleh bagi keduanya untuk bersedekah kepada suaminya dan juga kepada anak-anak yatim yang ada di rumahnya? Tetapi jangan engkau beritahukan siapa kami.” Selanjutnya Zainab berkata, Kemudian Bilal masuk untuk menemui Rasulullah dan rnenanyakan hal itu kepadanya, lalu beliau bertutur kepadanya, “Siapa kedua wanita tadi?” Bilal menjawab, “Seorang wanita dari Anshar dan Zainab. “Rasulullah bertanya, Zainab yang mana? Bilal pun menjawab Zainab istri Abdullah bin Mas’ud” Hingga akhirmya Rasulullah bersabda, “Keduanya mendapatkan dua pahala, yaitu pahala kekerabatan dan pahala sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga bersabda,

Sedekah kepada orang miskin hanya sebuah sedekah, sedangkan kepada kerabat adalah dua; sedekah dan silaturahnmi.” (HR. Tirmidzi)

Sedangkan dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Ummul-Mukminin Maimunah binti Ummi Al-Harits Radhiallahu Anhu permah memberitahukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa dia memerdekakan hamba sahaya tanpa meminta izin dahulu kepadanya. Ketika tiba hari giliran Rasulullah kepadanya, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku telah memerdekakan budakku?”
Beliau bertanya, “Apakah engkau telah melakukannya?
Dia menjawab, “Benar!”
Beliau pun berkata, “Tidakkah engkau tahu, seandainya dia engkau berikan kepada bibimu maka engkau akan mendapatkan pahala lebih besar”

Rasululah telah mempertegas keutamaan berbuat baik kepada kaum kerabat pada setiap kesempatan, dan bahkan setiap saat. Ketika turun firman Allah Subhanahu Wata’ala. “Kalian sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.“(QS. Ali-Imran: 92)

Abu Thalhah menghadap kepada Rasulullah seraya berucap “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat; Kalian sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menalkahkan sebagian harta yang kalian cintai, dan di antara harta kekayaanku yang paling aku cintai adalah kebun kurmaku, dan aku akan menyedekahkannya karena Allah ta’ala dengan harapan balasan kebaikan dan sebagai simpanan di sisi Allah. Oleh karena itu, wahai Rasulullah diberikan kepada siapa yang menurutmu layak?

Lalu Rasulullah bertutur, “Aduhai, itu merupakan harta keberuntungan, itu harta keberuntungan. Dan, aku telah mendengar apa yang engkau sampaikan, menurutku engkau serahkan kebunmu itu kepada kerabat-kerabatmu.

Maka Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan melak sanakannya.” Lalu Abu Thalhah pun membagikan kepada kaum kerabatnya dan juga kepada keponakan-keponakannya. (Muttafaq Alaih).

Sepanjang zaman Rasulullah tetap berpesan supaya umatnya tetap menyambung tali kekeluargaan, yaitu ketika beliau berpesan kepada penduduk Mesir dalam hadits berikut ini,

“Kalian semua akan membebaskan Mesir, apabila kalian telah membebaskannya, hendaklah kalian berbuat baik kepada penduduknya, karena mereka mempunyai dzimmah dan kerabat. Atau beliau berkata, “…Atau dzimmah dan hubungan kerabat melalui perkawinan.” (HR. Muslim)

Dalam menjelaskan hadits tersebut para ulama berkata, “Kekerabatan yang ada adalah Hajar, ibu Nabi Ismail termasuk penduduk Mesir. Sedangkan hubungan kekerabataan melalui perkawinan maksudnya adalah masih termasuk mereka.” Mariyah, ibu Ibrahim putra Rasulullah masih termaduk mereka.”

Sesungguhnya hal ini merupakan pemenuhan kenabian yang cukup besar, merupakan kebaikan yang penuh kecintaan yang sangat luas. Hal Itu juga merupakan seruan kemanusiaan yang berkembang dan meluas sampai kepada anak cucu yang senantiasa memperhatikan ke dua hubungan kekerabatan tersebut (rahim dan musharah) dari kurun ke kurun.

Saudariku, mari senantiasa kita menyambung tali kekeluargaan kepada kaum kerabat yang kita miliki dengan memberikan cinta kasih yang murni, menjalin hubungan yang tiada pernah putus, serta saling memberikan kebaikan yang tiada pernah henti kepada mereka.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 222-224)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan