Menyambung Tali Kekeluargaan dengan Kerabat-kerabatnya Meski dari Kalangan Non-Muslim

Wanita Muslimah akan senantiasa memperhatikan petunjuk agamanya sehingga dia melihatnya mengandung kemurahan dan kemanusiaan yang tinggi. Petunjuk ini memerintahkan supaya menyambung tali kekeluargaan meski dari kalangan keluarga non-Muslim. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdulah bin Amru bin Al-Ash , dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam secara lantang bersabda,

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk pendukungku, karena pendukungku adalah Allah dan orang-orang Mukmin yang shaleh, tetapi mereka mempunyai tali kekeluargaan yang aku basahi dengan airnya.”(Muttafaq Alaih).

Ketika turun firman Allah berikut ini, “Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” Rasulullah mengundang orang-orang Quraisy, mereka pun segera berkumpul, lalu beliau berseru dengan seruan umum dan khusus, “Wahai anak cucu Abdi Syams, wahai anak cucu Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai anak cucu Murrat bin Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai anak cucu Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai anak cucu Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai keturunan Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kalian atas keputusan Allalh, tetapi kalian mempunyai kerabat yang akan aku basahi dengan airnya (menyambungnya).” (HR. Muslim).

Petunjuk Nabi yang luhur itu telah terdengar oleh kaum Muslimin dan Muslimat pada awal fajar Islam, dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di mana mereka senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabatnya baik Muslim maupun non-Muslim. Di antara yang menjadi bukti atas hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh lbnu Abdil Bar dalam bukunya yang berjudul Al-Istii’ab dan Ibnu Hajar dalam bukunya yang berjudul AI-Ishabah, bahwa seorang budak wanita kepunyaan Ummul Mukminin Shafiyah, pernah mendatangi Amirul-Mukminin Umar bin Khaththab seraya berkata, “Wahai Amirul-Mukminin, sesungguhnya Shafiyah menyenangi hari Sabtu dan bersilaturahmi kepada orang Yahudi.” Maka Umar bin Khaththab pun segera mengirim utusan kepada Shafiyan untuk menanyakan hal itu, Shafiyah pun menjawab, ” Adapun hari Sabtu, aku tidakmenyenanginya setelah Allah menggantinya dengan hari Jum’at Sedangkan orang Yahudi, karena saya mempunyai kerabat dari kalangan mereka dan aku hendak menyambung tali kekeluargaan dengan mereka.” Kemudian dia menemui budaknya dan menanyakan keberaniannya menuduh bahwa dia (Shafiyah) menyenangi hari Sabtu. Maka budak itu pun menjawab, “Itu adalah bisikan syaitan.” Dan, akhir-nya Shafiyah berkata, Pergilah, karena engkau telah merdeka.”(Ibnu Abdil Barr, Al-Istil’ab, IV/1872. Dan Inbu Hajar, Al-Ishabah, VIII/127, 226)

Umar bin Khaththabsendiri tidak keberatan untuk memberikan hadiah perhiasan kepada saudara seibunya yang diutus Rasulullah menemuinya, padahal saudaranya itu musyrik. (HR. Muslim).

Dari hal di atas, wanita Muslimah mengerti bahwa perasaan kemanusiaan tidak pernah lepas dari hati orang yang mengucapkan dua kalimah syahadah, bahkan rasa kemanusiaan itu mengalir sampai kepada kaum kerabat sebagai wujud bakti dan kebaikan, meskipun mereka itu dari kalangan non-Muslim. Ungkapan Rasulullah yang berbunyi, “Tetapi kalian mempunyai kerabat yang akan aku basahi dengan airnya (menyambungnya), merupakanpuncak sastra Arab, di mana kerabat diserupakan dengan bumi yang disirami dengan penyambungan tali kekeluargaan dan kebaikan, hingga akhirnya membuahkan cinta dan kasih sayang. Di lain pihak, bumi itu akan kering disebabkan karena pemutusan tali kekeluargaan, hingga akhirnya membuahkan kebenciaan dan permusuhan. Orang Muslim sejati senantiasa disayang dan dicintai semua orang, karena mereka melihat akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji pada dirinya.

Islam telah memerintahkan supaya berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtua, meski keduanya musyrik. Demikian pula Islam memerintahkan untuk berbuat kepada kaum kerabat, meski mereka bukan dari kalangan keluarga Muslim, dengan bertolak dari rasa kepedulian, kemanusiaan dan rahmat yang dibawa oleh agama ini bagi sekalian umat manusia.

Dan, Kami tidak mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (A1-Anbiya’: 107)

Saudariku, Allah telah memberikan petunjuk berupa Al-Qur’an kepada hambanya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu petunjuknya yaitu perintah menyambung tali kekeluargaan meskipun dari kalangan non-muslim. Sebagai bentuk kemurahan dan kemanusiaan yang tinggi.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 225-227))

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan