Innalillahi wa innailaihi rajiuun. Telah meninggal dunia, Bapak Mohammad Siddik, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Periode 2015-2020. Berikut sepenggal kenangan, dan catatan  penulis tentang sosok pejuang dakwah yang karib disapa Pak Siddik. Selamat membaca:

Drs. Mohammad Siddik, MA , lahir di Kuala Simpang, Aceh, pada 15 Januari 1942. Memulai pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tanjung Pura, Langkat, lalu melanjutkan ke SMA di Medan. Sejak di bangku SMA mulai bersentuhan dengan kegiatan da’wah, yakni melalui aktivitasnya di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dia mulai dari ranting SMA Negeri, ke cabang PII Kota Besar Medan, ke PII wilayah, sampai akhirnya pada 1962 duduk di PB PII.

Siddik Pindah ke Jakarta setelah ikut melaksanakan Muktamar PII ke X di Medan, karena pengalamannya ditarik menjadi pengurus PB PII 1962-1964 berlanjut sampai ke periode Alm Syarifudin Siregar (1964-1966) sampai Alm Husein Umar (1966-1968). Semua kegiatan di PII, dia anggap bagian dari kegiatan dakwah karena ia sering mengisi pelatihan dengan ceramah mengenai berbagai topik yang dihubungkan dengan konsep Islam Sambil Aktif di organisasi, Siddik melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ekonomi UI dan FSEP UNAS.

Kuliah Sambil Bekerja

Pada bulan Desember 1963, ayahandanya wafat. Saat itu Siddik sedang menghadiri Musyawarah Wilayah PII Sulawesi Utara di Manado. Karena kelangkaan komunikasi pada waktu itu, Siddik tidak tahu jika ayahnya meninggal dunia.

“Tugas menghadiri Musywil PII di Manado belum selesai, namun seperti ada desakan untuk saya segera pulang. Karena tiket pesawat mahal, maka segera saya naik kapal laut. Lima hari kemudian, baru tiba di Jakarta. Saat itulah saya mendapat kabar wafatnya ayah. Saya segera mengusahakan pulang ke Medan, dan tiga hari perjalanan lagi baru tiba di kampung halaman,” kenang Siddik.

Setelah ayahnya meninggal dunia, pada mulanya Siddik merasa tidak mungkin lagi kembali ke bangku kuliah. Sebagai anak lelaki tertua dari delapan bersaudara, Siddik merasa harus menggantikan peran almarhum ayahnya, ketimbang melanjutkan kuliah dengan bekerja untuk membantu keluarga.

Namun, ibundanya terus mendorong Siddik agar tetap melanjutkan kuliah di Jakarta. Karena dorongan ibundanya itu, Siddik memutuskan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Maka, Siddik pindah kuliah ke Fakultas Sosial, Ekonomi dan Politik Universitas Nasional (UNAS) yang membuka kuliah petang. Pada pagi harinya, Siddik bekerja sebagai staf lokal bagian pers Kedutaan Pakistan di Jakarta.

Selain karena pertimbangan harus bekerja, ada juga alasan lain. Di masa itu UI dan kebanyakan universitas negeri sudah mulai melakukan indoktrinasi. Kuliah yang diberikan sudah tidak murni ilmiah, dan tidak netral. Ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno (PBR) diindoktrinasikan dan menjadi pegangan Pemerintah dan diajarkan di berbagai Politik, Ekonomi dan semua yang terangkum dalam Manipol Usdek (Manifesto Politik, Undang Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan kepribadian Indonesia) dan Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) jadi mata kuliah wajib. Kampus UNAS yang pada waktu itu dipimpin oleh cendekiawan yang berintegritas, masih mampu menjaga independensinya.

Pada akhir tahun 1967, Siddik menyelesaikan kuliahnya di UNAS. Dia pun segera “melapor” kepada gurunya, Allahuyarham Mohammad Natsir untuk mendapatkan nasihat beliau. Natsir mengajaknya untuk bergabung di Dewan Da’wah yang waktu itu baru saja didirikannya di Masjid Al-Munawarah Tanah Abang Jakarta. Siddik menerima tawaran itu, sampai kemudian bekerja di lembaga internasional untuk waktu yang cukup panjang. Meskipun demikian, dalam aktivitasnya di luar negeri, Siddik tidak pernah putus komunikasi dengan Dewan Dakwah, khususnya dengan Natsir.

Sekretaris Jenderal Komite Pemuda Indonesia (KPI)

Pada tahun 1966, ketika Siddik masih aktif di PB PII, ia pernah mengundang Sekretaris Jenderal Muktamar Alam Islami, Dr Inamullah Khan, untuk menghadiri Muktamar ke-12 PII di Bandung. Dalam perjalanan memenuhi undangan WAY, Siddik sempat menjadi tamu Mufti Besar Palestina, Syeikh Haj Al-Amin Al Husaini di markasnya waktu itu di Beirut, Libanon. Pada tahun 1968, Siddik juga berjumpa dengan tokoh Ikhwanul Muslimin, Dr. Said Ramadhan, di Jenewa, Swiss.

Siddik juga Pernah bertemu Pangeran Hassan, ketika itu Putra Mahkota Jordan; bertemu dengan Sekjen Muktamar Al-Quds dan pernah menjadi Menteri Wakaf Jordan, Dr Kamil Sharif. Tahun 1969 berjumpa dengan Direktur Jendral Urusan Islam Mesir, Dr. Taofiq Awaeidah, bersilaturrahmi dengan Sekretaris Jenderal Rabithah Al-Alam Al-Islami, Syeikh Ali Al Harakan, dan lain lain. Pertemuan dan silaturrahmi itu dapat terjadi antara lain karena rekomendasi Alm Dr. M. Natsir.

Meskipun kuliah sambil bekerja, kesenangan berorganisasi tetap dilanjutkan Pada tahun 1966 Siddik terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Komite Pemuda Indonesia (KPI) yang berafiliasi kepada World Assembly of Youth (WAY), Organisasi yang sebelum peristiwa G.30.S/PKI dibubarkan oleh Bung Karno karena dianggap berafiliasi ke Barat. WAY berpusat di Brussel, Belgia. KPI ini merupakan organisasi yang mewadahi para pemuda dan pelajar yang berhaluan kanan, antikomunis. Ada sekitar 17 organisasi pemuda pelajar dan mahasiswa yang bergabung dalam KPI.

Sebagai Sekjen KPI, Siddik terobsesi melatih pemuda dan mahasiswa Indonesia agar bisa tampil dalam dinamika dunia internasional. Dia mengirimkan pemuda dan mahasiswa ke luar negeri, antara lain Lukman Harun, Arif Rahman, dan Asnawi Latif ke Eropa, Umar Basalim ke India, Mansur Amin ke Srilanka. Mereka kemudian pulang dan membawa pengalaman training-training yang mereka di luar negeri. Setelah pemilu 1971 KPI direkayasa oleh Golkar, Pemenang Pemilu dan Pemerintah menjadi wadah tunggal organisasi pemuda bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai bagian dari politik penyeragaman Orde Baru untuk mewujudkan Sistem politik mayoritas tunggal.

Setelah empat tahun menjadi Sekjen KPI, pada tahun 1970. Siddik terpiih menjadi salah satu dari lima delegasi sekaligus juru bicara delegasi Indonesia pada Kongres Pemuda sedunia yang diadakan oleh PBB di New York. Kongres itu diselenggarakan sekaligus dalam rangka ulang tahun PBB yang ke-25.

Dengan persetujuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang menyusun delegasi RI bersama Departemen Iuar Negeri, Siddik kemudian meneruskan studi Magister dalam Internasional Development Studies di Fairleigh Dickinson University, New Jersey. Karena datang tanpa beasiswa, untuk membiayai kuliah dan kehidupannya di rantau serta keluarga yang ditinggalkan, Siddik bekerja di restoran, menjadi satpam, pegawai toko buku, dan bekerja di toko swalayan. Siddik menyelesaikan studi magisternya pada pertengahan 1971 dalam waktu setahun. Kembali ke Jakarta pada tahun itu, Sidik kembali mengabdi di Dewan Da’wah sambil mengajar di IKP Jakarta (Sekarang UNJ) dan Lembaga Indonesia Amerika (LIA)

Dari New York ke Katmandu

Setelah itu, dalam rentang waktu tahun 1973 hingga 2002, Siddik bekerja di UNICEF, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), di New York dan Katmandu, Nepal, di Organisasi Konferensi Islam (OKI), di Jeddah dan di Islamic Development Bank (IDB) juga bermarkas di Jeddah, Saudi Arabia.

Sebagai seorang staff junior di PBB, Siddik terbiasa membantu para seniornya dari kalangan Muslim memersiapkan beberapa kegiatan keagamaan rutin di Markas Besar PBB seperti diskusi tentang Islam, shalat Jum’at berjamaah untuk staff dan delegasi yang pada awalnya menggunakan salah satu ruang serbaguna yang kecil.

Ia juga biasa mempersiapkan logistik untuk pengajian rutin dan ikut membantu pengajian masyarakatan dan mahasiswa Muslim yang diadakan oleh Muslim Students Association (MSA) cabang Columbia University Yang waktu itu diketuai oleh Mohammad Kamal Hassan, Kelak menjadi rektor Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia.

Khusus di kalangan masyarakat Indonesia, Siddik mengambil Inisiatif mengdakan pengajian rutin dari rumah ke rumah, yang alhamdulillah, karena masyarakat Indonesia di New York berhasil berkembang pindah ke aula Konsulat Jenderal RI di New York. Lebih kurang 20 tahun yang lalu membangun Masjid Komunitas Indonesia, Al-Hikmah di bilangan Queens.

Ketika bertugas di Katmandhu, sebagai Staf PBB(UNICEF) di Nepal selama dua tahun ia juga berusaha mengadakan aktifitas dakwah di sana bersama teman-teman cendikiawan Muslim yang jumlahnya sangat sedikit karena Muslim di Nepal memang minoritas. Ketika itu sangat sedikit informasi mengenai keberadaan kaum muslimin di daerah-daerah terpencil.

Untuk mencari data dan informasi yang diperlukan untuk membuat perencanaan, terutama di pedalaman Nepal, Siddik mengutus beberapa dosen muda pergi ke pedalaman untuk mencari data dan membuat studi sedehana tentang kaum Muslimin yang tinggal terisolir di kampung-kampung. Siddik juga ikut membantu mensponsori penerjemahan dan penerbitan buku-buku tentang Islam kedalam bahasa Nepal yang pada waktu itu sangat langka di daerah pegunungan tinggi Nepal.

Membidani Kelahiran WAMY

Melalui berbagai pertemuan internasional di forum World Assembly of Youth (WAY), pada akhir 1960-an Siddik dengan beberapa kawan mengajak delegasi Muslim dari berbagai negeri yang berafiliasi kepada WAY, seperti Anwar Ibrahim dari Malaysia untuk mendirikan semacam WAY untuk dunia Islam. Maka setelah itu Siddik dengan beberapa kawan seperjuangan membuat pernyataan bersama untuk menyatakan komitmen mendirikan organisasi pemuda Islam sedunia yang juga dirasakan oleh pemuda dan mahasiswa Muslim di negeri-negeri lain di luar forum WAY.

Pada tahun 1973, Presiden Libya, Moammar Qadhafi, mengadakan Konfrensi Pemuda Islam Sedunia di Trapoli. Siddik dan beberapa tokoh pemuda dan mahasiswa dari Indonesia hadir pada Konferensi tersebut. Sayang pertemuan Tripoli tidak berhasil, karena Qadhafi ingin menerapkan “teori alam ketiga” dan Kitabul Akhdar (Buku Hijau) yang menjadi dasar gerakan Pan Arabisme, sedangkan mayoritas delegasi menghendaki dasar Islam saja. Sekadar untuk diketahui, teori alam ketiga itu membagi dunia atas tiga lapis atau tiga lingkaran. Lapis inti adalah dunia Arab, lingkaran kedua dunia Islam, dan lingkaran terluarnya adalah negara berkembang.

Baru pada pada pertemuan yang diadakan di Saudi Arabia atas inisiatif Menteri Pendidikan Tinggi Sheikh Hasan Al Sheikh, gagasan membentuk organisasi pemuda Islam sedunia ini dapat direalisir dengan lahirnya World Assembly of Moslem Youth (WAMY) dengan kegiatan utamannya da’wah dalam pengertian mengajak atau mengundang melalui seminar, Penerbitan, pendistribusian buku-buku, bantuan pendidikan/beasiswa, ceramah, dan lain-lain.

Beasiswa untuk Negeri Minoritas Muslim

Pada tahun 1979 setelah berhenti dari PBB, Siddik bekerja di OKI, Jeddah, Saudi Arabia dari 1979 hingga 1984. Ketika itu Siddik merasa kurang puas, karena OKI tidak berbuat banyak mengatasi konflik antar negeri-negeri Islam terutama antara Iran dan Irak. Meskipun OKI berhasil menjalin solidaritas dan Kerjasama antar negeri-negeri Islam.

Oleh karena itu, ketika pada tahun 1984 ada kesempatan pindah ke Islmic Development Banking (IDB), Siddik segera berkonsultasi dengan Duta Besar RI di Saudi Arabia, Letnan Jenderal (Purn) H. Achmad Tirtosudiro. Siddik pun hijrah dan bekerja di IDB selama 17 tahun di kantor pusat di Jeddah, dan empat tahun di Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai Direktur IDB untuk wilayah Asia Pasifik.

Selama di OKI, dan kemudian di IDB, Siddik selalu membantu Dewan Da’wah dengan mengirim informasi mengenai kegiatan dakwah di berbagai belahan dunia Islam dan terus memelihara hubungan baik dengan Bapak Mohammad Natsir.

Setelah menyelesaikan tugas di Kuala Lumpur dirinya ditarik mengisi posisi sebaga Direktur Technical Cooperation dan ketika memasuki umur 60 tahun pengabdiannya, Siddik mengundurkan diri karena sudah berniat akan berkiprah di Tanah Air.

Pada awal di IDB Siddik diberi tugas mengembangkan program beasiswa IDB untuk masyarakat di negeri-negeri minoritasas Muslim, terutama untuk pendidikan kedokteran, tehnik, pertanian dan eksakta lainnya. IDB memillih program tersebut sebagai sebuah terobosan untuk membangun sumber daya insani di negeri negeri Muslim minoritas yang memang sangat ketinggalan.

Survey yang diadakan di negeri negeri seperti Filipina, Myanmar, Kamboja, Sri Langka, Nepal, Ghana, Tanzania, Nigeria, Kenya, Siera Leone, Malawi dan lain lain; menunjukkan sangat sedikit atau hampir tidak ada profesi dokter, insinyur, ahli pertanian, dan profesi pembangunan lainnya yang dipegang oleh orang Muslim. Para orang enggan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah umum, karena sejak awal didirikan oleh para missionaris atau zending yang bertujuan memengaruhi agama anak didiknya.

Melalui program beasiswa dokter gigi IDB, selama 20 tahun terakhir sudah ada lebih dari dua ribu dokter, insinyur ahli pertanian, dan lain-lain. Di Indonesia dewasa puluhan mahasiswa IDB dari Myanmar, Vietnam dan Kamboja yang belajar di UGM, UI, IPB, Universitas Brawijaya (Unibraw). dan lain-lain.

Naluri dakwah Siddik, mendorong terlaksananya program conselling untuk mahasiswa yang sedang belajar. Untuk Itu di setiap negeri dia mengangkat Consellor Kehormatan dan kalangan akademisi dan gerakan yang berwawasan Islami untuk memberi bimbingan rohani dengan pengajian (taklim) setiap dua pekan, minimal sebulan sekali, dan mengarahkan mereka untuk terus memperkaya bekal ilmu agama dan kepemimpinan agar bila mereka kembali dapat memimpin masyarakat Muslim di negaranya masing-masing.

Pengalaman Siddik selama mengelola training di PII dan HMI, dikombinasi dengan pengalaman ahli-ahli pengembangan masyarakat dan conselling yang direkrut khusus untuk menguatkan aspek ini. Banyak peserta program IDB ini yang sekarang menjadi dokter, insinyur, ahli pertanian, apoteker, dan lain-lain, memainkan peranan manajerial dalam pembangunan negeri mereka.

Kembali ke Dewan Dakwah

Setelah melanglang buana selama hampir 30 tahun, Siddik berusia 60 tahun, Siddik memutuskan pulang ke Indonesia. Dia ingin mengabdi ke Tanah Air yang sudah lama ditinggalkan, Siddik kembali ke markas habitatnya, Dewan Da’wah Indonesia yang sejak masih muda ia banyak menimba ilmu dan ketauladan dari tokoh-tokoh Masjumi pendiri Dewan Dakwah itu.

Saat kembali ke markas besar, Siddik diamanahi menjadi salah seorang ketua Dewan Dakwah. Pada periode berikutnya, Sidik diberi amanah menjadi Ketua Badan Pengawas sesuai UU Yayasan yang baru. Siddik juga sempat diamanahi sebagai Direktur Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh (LAZIS) Dewan Da’wah yang diresmikan oleh Menteri Agama RI bulan September 2002 sesuai dengan Undang-undang No. 38 tahun 1999 tentang Zakat.

“Melalui LAZIS, kami ingin menghadirkan perananan Dewan Dakwah menangani korban bencana alam di hampir seluruh Indonesia, memberikan pelayanan kesehatan Gratis, membuat program rehabilitasi ekonomi untuk korban bencana alam,” kenang Siddik.

Dengan pengalaman dan networking yang luas, melalui LAZIS Dewan Da’wah Siddik berusaha mencari dukungan untuk pendanaan da’i Dewan Da’wah yang ditempatkan diberbagai daerah di seluruh Tanah Air. Siddik juga sempat diberi amanah memimpin perusahan travel biro pelayanan Haji dan Umrah milik Dewan Da’wah sebagai bagian dari kegiatan Dewan Da’wah yang kelebihan pendapatannya untuk mendukung kegiatan Dewan Da’wah.

Tahun 2015, Dewan Pembina sepakat memilih Siddik menjadi Ketua Umum Dewan Da’wah menggantikan K. H. Syuhada Bahri yang menyatakan mengundurkan diri. “Tugas ini sangat berat” kata Siddik berterus terang. Menurut Siddik, tugas memimpin Dewan Dakwah terasa berat bukan saja karena dia harus belajar dari kepemimpinan, kesahajaan, dan keitiqomahan para pendiri Dewan Dakwah.

Di era kepemimpinan Dewan Da’wah saat ini Siddik juga dituntut untuk terus berjuang Dengan tantangan dakwah yang semakin kompleks melalui tiga pilar da’wah, masjid, pesantren dan kampus, mulai kebodohan, kedhu’afaan, sampai kepada tantangan-tantangan ideologis seperti Komunisme, Kristenisasi, dan aliran-aliran yang Menyimpang. Tentu kerangka Dewan Da’wah dengan gerakan bina’an wa difa’an harus terus dilakukan sepanjang zaman.

Hadza Min Fadhli Rabbi

Sejak kecil pria berdarah Pakistan ini suka merenungkan kata-kata hikmah dan mutiara bijak yang sering ia lihat di beberapa surat kabar dan majalah. Salah satu renungan hikmah yang menjadi inspirasinya adalah: “hiduplah sebelum kelahirannmu dan matilah sebelum meninggalmu.”

Artinya jadilah orang yang baik yang selalu diidamkan orang dan selalu dikenang orang. Orang baik itu sebelum tiba di suatu tempat atau sebelum ia dilahirkan di tempat itu, orang sudah mendengar kebaikannya dan orang mengharapkan kehadirannya, dengan kata lain ia sudah hidup sebelum kehidupannya di tempat itu.

Selanjutnya meskipun nanti si orang baik itu pindah dari tempat itu, orang sudah mengenang dirinya karena kebaikan dan jasa-jasa serta sumbangannya untuk masyarakat yang ditinggalkannya itu, seolah-olah dia masih hidup dan masih belum meninggalkan tempat itu. “Tapi ini adalah motto kehidupan, atau filsafat kehidupan yang saya dambakan dan suatu keinginan yang tidak mudah diwujudkan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai dan menolong kita merealisasikan mimpi” kata Siddik.

Dalam usia 78 tahun, Siddik masih terlihat segar, meskipun pada tahun 2005 Sempat mengalami Operasi bedah jantung. “Alhamdulillah, ini semua karena Allah, hadza min fadli Rabbi,” katanya merendah dan dengan penuh rasa syukur

Pria yang lahir dari keluarga sederhana ini dan Aceh, tumbuh dan besar dalam lingkungan yang sangat peduli kepada pendidikan dan dakwah. Itu pulalah yang membuatnya beraktifitas di organisasi dakwah tingkat nasional hingga internasional. Siddik yang banyak disapa Bang Siddik, Ustadz Siddik, dengan kegiatannya yang banyak terkadang sedih karena tidak bisa selalu bersama anak cucu.

Kini, Selasa 29 Juni 2021, Pak Siddik telah meninggalkan kita semua. Kita doakan Bersama agar Allah merahmati dan mengampuninya, dan generasi kini dapat meneladani perjuangan beliau

***********

Penulis: Hadi Nur Ramadhan
(Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan