Aku melihat ombak lautan bergelombang bersusun-susun maka aku teringat lapisan-lapisan neraka dan kedalamannya
Keinginan seorang mukmin selalu terikat dengan akhirat, sehingga semua yang ada di dunia dia gerakkan untuk mengingat akhirat. Setiap menekuni sesuatu, itulah yang menjadi pusat perhatiannya. Tidakkah Anda melihat ketika para tukang masuk ke dalam sebuah rumah yang megah. Bukankah Anda melihat pandangan tukang furniture tertuju ke kasur dan langsung menerka harganya, sedang pandangan tukang kayu tertuju ke atap. Pandangan tukang bangunan tertuju ke dinding. Dan, pandangan tukang tenun tertuju pada tenunan yang terajut rapi.
Seorang mukmin apabila melihat kegelapan maka ia teringat akan gelapnya kuburan. Apabila melihat sesuatu yang menyedihkan maka ia teringat akan siksaan. Apabila mendengar suara yang mengerikan maka ia teringat akan tiupan sangkakala. Dan apabila melihat orang-orarng tertidur maka ia ngat akan orang-orang yang mati di dalam kuburan.
Begitulah selalunya keadaan seorang Muslim, hasratnya Selalu terikat dengan akhirat, dalam gerak dan diamnya. Setiap apa yang dilihatnya di dunia akan mengingatkannya pada negeri akhirat. Apabila melihat kehijauan dan pemandangan yang indah maka dia teringat surga dengan segala kenikmatannya sehingga keindahan pemandangan dunia terasa kecil di depan pemandangan akhirat. Apabila hidungnya mencium bau harum maka dia teringat surga dengan bau harumnya yang tak tertandingi, dan teringat bahwa tanah surga terbuat dari minyak misk, debunya dari za’faran, dan pasirnya dari minyak la’âlik.
Banyak orang yang mencari keternangannya dalam tidur, tetapi orang mukmin ketika tidur susah merasakan nikmatnya tidur. Ia tidur karena memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan hidup untuk tidur. Dalam tidurnya, ia ingat akan kematian. Ketika matanya terpejam, ia ingat gelapnya kuburan. Maka, Anda melihatnya selalu bersegera memburu akhirat dan melepaskan diri dari ikatan-ikatan dunia.
Apabila melihat sesuatu yang tinggi dan tipis, ia teringat titian shirâth. Apabila mengambil sesuatu, ia teringat tatkala ia akan mengambil kitab amal perbuatannya. Dan, apabila bergelora syahwatnya, ia teringat akan bidadari surga.
Hatim Al-Asham berkata, “Barang siapa memalingkan empat hal kepada empat hal maka dia mendapatkan surga: dari tidur kepada gelapnya kuburan, dari kebanggaan kepada timbangan amal perbuatan, dari istirahat kepada titian shirâth, serta dari syahwat kepada surga.”
Kita harus banyak mengambil pelajaran dari generasi tabi’in dalam urusan ini, yaitu mendidik jiwa untuk selalu menggantungkan segala sesuatu dengan akhirat karena mereka hidup beserta seluruh perasaannya di sana meskipun jasad mereka masih di bumi.
Suatu ketika Hasan membawa guci yang berisi air untuk berbuka. Ketika mendekatkan guci tersebut ke mulut tiba-tiba beliau menangis dan berkata, “Aku teringat keinginan penghuni neraka tatkala mereka berkata:
“Berikanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu,” (Al-A’raf: 50) namun permintaan mereka tidak dijawab:
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir’. “
Demikianlah mereka hidup di dunia, seakan-akan telah dibangkitkan di akhirat. Mereka mendidik jiwa agar senantiasa terkait dengan akhirat sehingga mudah untuk mengendalikannya.
Diriwayatkan dari Ala’ bin Muhammad, dia berkata, “Aku mengunjungi Atha’ As-Salimi yang ternyata beliau sedang tidak sadarkan diri. Aku bertanya kepada istri beliau, Ummu Ja’ far, ‘Apa yang terjadi dengan Atha’? la menjawab, “Tetangga kami menyalakan api di dapur, ketika beliau melihatnya maka pingsanlah beliau’.”
Yusuf bin Asbath, salah seorang pengikut Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadaku setelah aku shalat Isyak, ‘Berikan kepadaku bejana untuk bersuci!’ Maka aku memberikannya kepada beliau dan beliau mengambilnya dengan tangan kanan sedang tangan kirinya menyangga pipinya. Kemudian aku tidur dan bangun ketika fajar telag terbit. Aku melihat beliau dan bejana tersebut masih di tangan kanannya sedang tangan kirinya menyangga pipi. Aku memberi tahu, Abu Abdillah, fajar telah terbit. Beliau berkata, “Sejak engkau memberiku bejana ini, aku berpikir tentang urusan akhirat hingga saat ini.
Contoh lain dari generasi ini, generasi yang hati mereka berkait dengan akhirat. Mengaitkan apa yang dilihatnya di dunia dengan peristiwa akhirat sehingga dia melepas segala kenikmatan dunia untuk mengharap kenikmatan yang kekal abadi. Sajaf bin Mandhur mengatakan, “Abdul Wahid membuat makanan lalu mengumpulkan beberapa kawannya, dan di antara mereka ada Utbah Al-Ghulam. Maka semua orang makan kecuali Utbah. Ia berdiri melayani mereka. Salah seorang dari mereka nmenoleh kepada Utbah, dia melihat air mata mengalir dari kedua mata beliau, namun ia tetap diam dan meneruskan makannya. Tatkala selesai makan dan semua orang keluar maka orang tersebut memberitahu Abdul Wahid apa yang telah ia lihat. Lalu, Abdul Wahid bertanya kepada Utbah, “Mengapa engkau menangis tatkala semua orang makan?” Beliau menjawab, “Aku teringat hidangan penghuni surga sedang para pelayan berdiri melayani mereka.” Mendengar itu, Abdul Wahid berteriak histeris lalu jatuh pingsan.”
Demikianlah, dengan perasaan yang halus, hati yang lembut, dan kesadaran penuh, para pengikut shahabat menjalani kehidupan mereka.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 101 – 104
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































