Masma’ bin Ashim berkata, “Aku bermalam bersama Abdul Aziz bin Sulaiman, Kilab bin Jari dan Salman Al-Araj di sebuah pantai. Aku melihat Kilab menangis hingga aku takut dia meninggal. Kemudian Abdul Aziz juga ikut menangis karena mendengar tangisan Kilab. Kemudian disusul Salman karena tarngisan keduanya. Dan, demi Allah, aku pun ikut menangis karena tangisan mereka, namun aku tidak tahu apa yang menyebabkan mereka menangis. Keesokan harinya aku bertanya kepada Abdul Aziz, Wahai Abu Muhammad, apa yang membuatmu menangis tadi malam?’ Beliau menjawab, ‘Demi Allah, aku melihat ombak lautan bergelombang bersusun-susun maka aku teringat lapisan-lapisan neraka dan kedalamannya. Sungguh, itulah yang membuatku menangis’. Kemudian aku bertanya kepada Kilab dan Salman, keduanya menjawab dengan jawaban yang serupa. Berarti, yang terjelek di antara mereka adalah aku sendiri karena yang membuatku menangis adalah tangisan mereka, karena berempati dengan apa yang mereka perbuat dengan diri mereka.”
Al-A’masy berkata, “Robi’ bin Khutsaim melewati pasar tukang pandai besi. Ketika melihat alat peniup api yang membirukan api, beliau jatuh tak sadarkan diri.” Al-A’masy berkata, “Maka aku melewati para pandai besi untuk mengerjakan hal serupa, tetapi ternyata tidak ada kebaikan pada diriku yang mampu membuatku berbuat yang serupa.”
“Suatu malam Yazid Al-Yami bangun untuk shalat Tahajud. la beranjak menuju bejana yang biasa beliau pakai berwudhu. Beliau memasukkan tangan ke dalam bejana dan mendapati airnya sangat dingin sehingga hampir membuat tangannya beku. Seketika itu, beliau teringat akan zamharir sementara tangannya berada di dalam bejana. Beliau tidak mengeluarkannya hingga pagi. Kemudian datanglah seorang budak perempuan dan posisi beliau masih tetap seperti semula. Budak tersebut bertanya, Ada apa dengan dirimu, wahai tuanku. Mengapa tidak shalat malam seperti biasa, dan engkau duduk di sini dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, ‘Ketika aku memasukkan tanganku ke dalam bejana ini, aku merasakan dingin yang menyengat maka aku teringat akan zamharir di neraka. Demi Allah, tidak terasa olehku dingin yang menyengat hingga budak tersebut berdiri di depanku’.”
Tak heran kalau tingkat keimanan generasi tabi’in bisa mencapai peringkat ini. Tak heran pula didengarkan tingkat Kesadaran dan kelembutan hati seperti itu, mereka bisa mencapai tingkatan ini sebab mereka telah mengenyam pendidikan dari para shahabat. Mereka adalah buah dari tanaman pendidikan generasi emas tersebut.
“Ketika Mu’adzah Al-Adawiyah dihadiahkan kepada Silah bin Asyim, keponakan beliau memasukkan beliau ke kamar mandi kemudian ke sebuah rumah yang beraroma wangi. Beliau lalu berdiri mengerjakan shalat, begitu pula perempuan. Keduanya terus shalat hingga terbit fajar. Maka keponakan beliau bertanya, ‘Aku menemui beliau menayakan, Wahai paman, kenapa semalam anak perempuan pamanmu telah dihadiahkan kepadamu namun engkau meninggalkannya dan bangun shalat semalaman?’ Beliau menjawab, “Kemarin kamu memasukkan aku ke dalam kamar mandi, itu mengingatkanku pada neraka. Lalu kamu memasukkan aku ke dalam sebuah rumah maka itu mengingatkan aku pada surga. Sejak itu pikiranku masih memikirkan hal itu sampai sekarang.
Abu Nuh Al-Anshari mengisahkan, “Terjadi kebakaran di sebuah rumah yang di dalamnya ada Ali bin Husain Rahimahullah, yang sedang sujud. Orang-orang mengingatkannya, Wahai anak Rasulullah, awas api! Wahai anak Rasulullah, awas api”‘ Namun, beliau tetap sujud dan tidak mengangkat kepala hingga api berhasil dipadamkan. Beliau ditanya, Apa yang mengalihkan perhatian Anda dari api tersebuť?” Beliau menjawab, Yang mengalihkan perhatianku dari peringatan itu adalah api yang lain (neraka).”
Merekalah para lelaki sejati dan
salahlah jika gelar lelaki disematkan
kepada siapa yang tidak seperti mereka
“Suatu ketika Hasan bin Shalih ingin makan ikan. la membawa ikan dan mengulurkan tangannya ke perut ikan. Tiba-tiba tangannya terhenti, lalu menyuruh orang untuk mengambilkan isi perut ikan tersebut, dan ia tidak jadi memakannya sedikit pun. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, ia menjawab, “Sungguh, ketika tanganku mau membersihkan perut ikan itu aku teringat bahwa yang pertama kali busuk dari jasad manusia adalah perutnya maka aku tidak mampu untuk merasakannya’.”
“Ketika waktu malam datang, Munirah As-Sadusiyah berkata, Telah datang huru-hara, telah datang kegelapan, telah datang ketakutan. Betapa miripnya ini dengan hari kiamat! Kemudian ia bangun dan terus shalat hingga pagi.”
“Rabi’ah binti Ismail berkata, ‘Setiap kali aku mendengar suara azan aku teringat penyeru pada hari kiamat. Setiap kali aku melihat turunnya salju aku teringat beterbangannya suhuf. Dan setiap kali aku melihat serangga aku teringat dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar’.”
Begitu pula Afirah yang ahli ibadah. Ketika salah seorang kerabatnya tiba dari bepergian, ia menangis. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, ia menjawab, “Kedatangan pemuda ini mengingatkanku dengan hari manusia datang menghadap Allah, lalu mukannya berseri dan bergembira.”
Kalau saja semua wanita seperti yang kita sebutkan
Maka kaum wanita mengungguli kaum lelaki
Demikianlah, akhirat ibarat obor yang terang di dalam hati para tabi’in. “Mereka menyaksikan bahwa pada segala sesuatu ada pelajaran yang bisa dipetik sehingga dengan azan mereka teringat seruan pada hari perhitungan amal, kesucian badan mengingatkan mereka untuk mensucikan hati, menutup aurat menuntut untuk menutup kejelekan-kejelekan hati, dan dengan menghadap kiblat mengingatkan mereka untuk memalingkan hati hanya kepada Yang Membolak-balik hati.”
Saudaraku, cobalah menerapkan metode pendidikan seperti ini yang selalu mengaitkan amalan dengan akhirat. Saksikanlah isi hati kalian. Apabila ada kebaikan maka jagalah. Apabila ternyata tidak ada maka tangisilah. Semoga Allah memperbesar pahalamu atas musibah yang menimpa hatimu.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 104-107
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































