Ibrahim bin Al-Munsyir mengatakan, “Setiap hari Jumat Masruq mengendarai bighal-nya(peranakan kuda dan keledai) Beliau memboncengkan aku di belakangnya, kemudian beliau mendatangi tempat pembuangan sampah di daerah Hairoh lama. Dengan bighal-nya itu beliau mendaki tempat tersebut kemudian berkata, ‘Dunia di bawah kita’. “
Sebagian para pendidik terbiasa membatasi peranannya sekadar pemberi arahan dan teori. Padahal kalau hanya sebatas ini, semua orang bisa melakukannya karena tidak susah orang berpidato, memberikan nasihat, perintah, dan arahan. Gaya pendidikan semacam ini sedikit sekali pengaruhnya dan terbatas. Ketika pendidik masuk ke dalam dunia amal, menyertai anak didik dalam kerja lapangan, dan memanfaatkan dengan baik momen yang ada, hal itu mempunyai pengaruh yang bagus dalam mendidik seseorang karena tarbiyah tidak bisa dari jauh.
Renungkan apa yang telah dikerjakan seorang tabi’in besar, Masruq Rahimahullah, bagaimana beliau mengerjakannya setiap Jumat. Beliau membawa sahabatnya duduk di belakangnya, berdua di atas bighal, dan mengajarinya sebuah pelajaran tentang hakikat dunia. Anda lihat bagaimana pengaruh pendidikan semacam ini di dalam jiwa sahabatnya? Mana yang lebih besar pengaruhnya antara cara tersebut dan sekadar penyampaikan seratus nasihat tentang dunia?
Mendidik dengan praktik amal itu tidak terlupakan, dan selamanya menghujam dalam ingatan. Berapa banyak kita mendengar beribu nasihat dari para ustadz besar, tetapi bersama perjalanan waktu, pelajaran tersebut hilang dari ingatan. Adapun pelajaran yang didapat dari praktek amal dan bukan sekadar wawasan maka itu tidak akan terlupakan. Penyebab lemahnya pendidikan dan keringnya hati seorang muslim adalah karena ia hanya memperhatikan sisi ucapan dan hanya berusaha mengusai ilmu retorika. Oleh karena itu, dalam mendidik jiwa, generasi tabi’in sangat memperhatikan pendidikan amal.
Hamamah bin Abi Hamamah dan Harm bin Hayyan adalah dua sekawan yang terkadang berjumpa di waktu siang, keduanya pergi ke pasar wangi-wangian maka keduanya meminta Allah surga dan berdoa. Lalu mereka pergi ke pasar tukang besi maka keduanya berlindung dari neraka. Setelah itu, mereka berpisah, pulang ke rumah masing-masing.”
Detik-detik keimanan yang digunakan oleh dua sekawan tersebut untuk mengingat surga dan berlindung dari neraka adalah detik-detik yang mempunyai rasa tersendiri. Sebab, mereka menghadirkan gambaran dan menjadikannya hidup di depan mata sehingga lebih banyak memberikan pengaruh di dalam hati.
Hamzah bin Abdillah bin Utbah mengatakan, “Aku mendapat kabar bahwa Masruq mengajak keponakanya pergi ke tempat pembuangan sampah di Kufah lalu keduanya naik ke atasnya dan beliau berkata, “Maukah kamu kuperlihatkan kepadamu dunia? Inilah dunia. Orang-orang memakannya lalu memusnahkannya, memakainya lalu melusuhkannya, ngendarainya lalu mencampakkannya. Karena dunia mereka rela menumpahkan darah, menodai kehormatarn, dan memutuskan tali silaturahmi.”
Begitulah kegigihan generasi ini untuk menjadikan pendidikan adalah pelajaran amal, bukan sekadar ilmu. Maka, seorang syaikh mengajak santrinya atau guru mengajak muridnya untuk mengajari mereka pelajaran yang tidak ada dalam ruang kelas.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 98-100
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































