Islamnya Shofwan bin Umayyah bin Khalaf
Dikisahkan bahwa Shofwan bin Umayyah sangat dendam kepada Nabi صلى الله عليه وسلم karena bapaknya yang juga merupakan majikannya Bilal, terbunuh tatkala perang badar. Akhirnya diapun mengikuti segala peperangan yang terjadi setelah perang Badar seperti perang Uhud, perang Khandaq, untuk membunuh Nabi صلى الله عليه وسلم. Saking dendamnya ia kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, saat terjadi Fathu Makkah tahun 8H, dia tidak mau masuk Islam dimana pada waktu itu kebanyakan kaum musyrikin masuk Islam karena melihat keramah-tamahan dan akhlak Nabi صلى الله عليه وسلم. Bahkan dalam suatu kesempatan di berkata; “Jika semua orang masuk Islam dan hanya satu yang tidak masuk Islam, maka sayalah yang tidak masuk Islam tersebut”.
Dikisahkan bahwa tatkala dia hendak pergi dari mekkah, Nabi صلى الله عليه وسلم melarangnya dan memintanya tetap tinggal di Mekkah. Maka kemudian hiduplah Shofwan bin Umayyah bersama Nabi
صلى الله عليه وسلم. Sampai suatu ketika Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan beberapa kali peperangan dan mendapatkan ghanimah yang banyak. Setelah itu Nabi صلى الله عليه وسلم mengingat bahwa Shofwan bin Umayyah adalah orang yang suka dengan harta. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan kepada Shofwan bin Umayyah 100 ekor unta. Kemudian diberikan lagi 200 ekor unta hingga jumlahnya menjadi 300 ekor unta. Maka Shofwan berkata,
“Demi Allah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberiku hadiah yang banyak sekali. Sebenarnya dahulu beliau adalah orang yang paling saya benci, tetapi karena beliau selalu memberi hadiah kepadaku, sehingga beliau kini adalah orang yang paling saya cintai.”
Semua dalil ini menunjukkan bahwa ada orang yang masuk Islam karena diberi harta. Maka dari itu sering saya sampaikan, jika ada orang yang dendam kepada Anda, cobalah berikan apa yang terbaik yang bisa Anda berikan. Dendamnya kepada Anda pasti akan berkurang seiring dengan intensifnya pemberian Anda kepadanya. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah muallaf. Meskipun Islamnya belum kokoh, tetap perlu untuk diberi agar dia semakin tertarik dengan Islam. Tatakala dia telah pelajari Islam lebih dalam, maka kelak jadilah Islam lebih dia cintai daripada harta sebagaimana perkataan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.
Kisah Islamnya Dhimad
Dhimad disebutkan adalah seorang yang pandai meruqyah atau menyembuhkan orang yang gila. Dan Allah memberikan hidayah kepadanya karena niat baiknya yang mau menyembuhkan penyakit orang lain. Padahal dia tidak menghendaki hidayah tersebut.
Kisahnya diceritakan oleh Ibnu
‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
“Suatu ketika, Dhimad pernah datang ke Makkah. Dia berasal dari Azdi Syanu`ah, dan pandai meruqyah (mengobati dengan bacaan-bacaan tertentu) seorang yang gila atau terkena gangguan jin. Kemudian pada suatu hari ia mendengar orang-orang bodoh penduduk Makkah mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Maka Dhimad berkata, “Sekiranya aku dapat melihat laki-laki ini, mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku.” Maka Dhimad pun menemui beliau, dan berkata, “Wahai Muhammad, saya biasa meruqyah penyakit ini, dan Allah akan menyembuhkan melaliau tanganku siapa saja yang dikehendakinya. Maukah kamu?” Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaca: “INNAL HAMDA LILLAHI NAHMADUHU WA NASTA’IINUHU MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLA LAHU WA MAN YUDLLIL FALAA HAADLIYA LAHU WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH AMMA BA’DU.”Dhimad berkata, “Ulangilah lagi kata-katamu tadi.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم pun mengulanginya kembali hingga tiga kali. Akhirnya Dhimad berkata, “Aku telah mendengar kata-kata tukang tenun, kata-kata tukang sihir dan kata-kata tukang sya’ir tetapi aku belum pernah mendengar kata-kata seperti yang Anda ucapkan itu, akupun juga pernah mengarungi lautan. Berikanlah tangan Anda padaku, aku akan bersumpah setia dengan Anda untuk memeluk Islam.” Maka beliau pun membai’atnya. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dan juga untuk kaummu.” Dhimad berkata, “Ya, juga untuk kaumku.” Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Sariyah (pasukan khusus yang ditugaskan utuk operasi tertentu), lalu mereka melewati kaumnya Dhimad. Lalu komandan
pasukan itu bertanya kepada para prajuritnya, “Adakah kalian mengambil sesuatu dari kampun itu?” maka seorang laki-laki menyahut, “Ada, saya telah mengambil ember mereka.” maka sang komandan pun berkata, “Kembalikanlah. Karena mereka adalah kaumnya Dhimad.”
(HR. Muslim 2/593 no. 868)
***********
Penulis: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. Ma.
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































