Topik yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah muhasabah jiwa, yaitu bagaimana agar kita melihat dan memeriksa diri kita sebelum tiba waktunya kita dipanggil oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam Alquran
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahat Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18)
Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini merupakan Ushul fii alMuhasabah (dalil pokok dalam pembahasan muhasabah). Hal ini dikarenakan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala memanggil orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kemudian Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan agar setiap jiwa melihat apa yang dia lakukan untuk hari esok, kemudian setelah itu Allah memerintahkan lagi untuk bertakwa, kemudian Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kita lakukan.
Allah Subhanahu Wata’ala menyuruh kita untuk memperhatikan hari esok kitaagar kita sadar bahwa kehidupan kita di dunia hanya sementara. Oleh karenanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga telah menyebutkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang telah mempersiapkan hari esoknya (akhirat) yang dia akan hidup selama-lamanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah ditanya,
“Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?” beliau menjawab: “Orang yang paling baik akhlaknya.” Dia bertanya lagi; “Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah 2/1423 no. 4259)
Dari hadits ini, terdapat dua baromoter kecerdasan menurut Nabi صلى الله عليه وسلم. Dua perkara tersebut adalah sering mengingat kematian dan yang paling siap berhadapan dengan hari setelah kematian. Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kita untuk memperhatikan apa-apa yang kita siapkan untuk hari esok (akhirat).
Dalam hadits yang lain Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi 4/638 no. 2459)Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
“Menundukkan dirinya maksudnya adalah dia menghisab dirinya.”(Ighatsatu Al-Lahfan 1/78)
Maksudnya adalah seseorang melihat kepada dirinya, mengecek amalan yang dia lakukan hari ini, dia menghisab dirinya sebelum dihisab oleh Allah Subhanahu Wata’ala pada hari kiamat kelak.
Kematian merupakan perkara yang pasti dan tidak ada yang meragukan akan kedatangannya. Seluruh manusia pasti meyakini bahwasanya dia akan mati. Bahkan orang-orang musyrikin Arab dahulu yang diperangi oleh Nabi صلى الله عليه وسلم, yang mereka mengingkari akan adanya hari kebangkitan, akan tetapimereka yakin akan adanya kematian. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.” (QS. Ath-Taghabun : 7)
“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi).” (QS. Al-Mu’minun : 37)
Begitu pula dengan orang-orang Atheis yang mengingkari adanya tuhan, mereka juga yakin bahwasanya ada yang namanya kematian dan mereka akan merasakannya. Maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang beriman? Tentunya mereka lebih beriman dan yakin akan adanya kematian. Akan tetapi kenyataannya, banyak orang yang yakin bahwasanya mereka akan mati, namun sikap dan perbuatannya menunjukkan seakan-akan mereka tidak akan mati. Oleh karenanya Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata,
“Aku tidak melihat sesuatu yang meyakinkan tetapi seakan diragukan oleh manusia seperti keyakinan manusia terhadap kematian karena mereka tidak mempersiapkannya.” (Tafsir Al-Qutrhubi 10/64)
Maksudnya adalah kematian adalah perkara yang pasti dan tidak ada orang yang meragukannya. Akan tetapi sikap manusia tatkala menghadapi kematian tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa kematian itu tidak akan datang, buktinya adalah manusia tidak memiliki persiapan. Maka jadilah kematian adalah perkara yang pasti namun seakan-akan itu perkara yang diragukan. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan banyak peringatan yang menunjukkan bahwasanya kita akan meninggal. Di antaranya adalah perubahan yang ada pada diri kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 21)
Dan Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman,
“Dan telah datang kepadamu peringatan.” (QS. Fathir : 37)
Sebagian ulama menafsirkan bahwa peringatan yang datang tersebut adalah uban yang ada di rambut kita. Intinya Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan manusia semakin lemah, kulit semakin keriput rambut semakin memutih. Jika itu telah terjadi, maka itu adalah peringatan dari Allah Subhanahu Wata’ala bahwasanya kita sedang menuju kepada kematian.
Kalau sekiranya tubuh kita senantiasa muda, senantiasa sehat, mungkin kita akan merasa sombong dan lupa bahwa kita akan mati. Akan tetapi karena kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, maka Allah berikan kita peringatan dengan berbagai peringatan di antaranya adalah rambut yang memutih. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang seseorang untuk menyemir rambut dengan warna hitam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Semirlah (rambut dan jenggot Anda) selain dengan warna hitam.”(HR. Muslim no. 2102)
Jika seseorang menyemir rambutnya dengan warna hitam, maka seseorang akan merasa muda terus. Sedangkan jika dia menyemir dengan warna yang lain, maka dia akan sadar bahwasanya asal rambutnya itu berwarna putih yang artinya dia telah menua dan akan meninggal dunia. Bagaimanapun seseorang berusaha untuk pergi ke tempat-tempat perawatan untuk mempercantik dirinya, namun tetap saja kulitnya akan keriput, dan tubuhnya akan melemah. Maka bagaimanapun seseorang yang sombong, tetap saja dia akan mencapi suatu titik yang bernama kematian. Dan kita semua sedang mengantriuntuk mencapai titik tersebut untuk bertemu dengan Allah Subhanahu Wata’ala, dan tidak di antara kita yang keluar dari antrian tersebut. Hanya saja tidak ada di antara kita yang tahu siapa yang berada di depan dan di belakang kita dalam antrean tersebut.
Para salaf juga telah mengingatkan kita akan hal ini. Di antaranya adalah perkataan Hasan Al-Bashri,
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Maka apabila telah pergi sebagian hari-hari, maka pergi pula sebagian dari dirimu. Dan dikhawatirkan jika telah pergi sebagian dari dirimu, maka akan hilang seluruh dari dirimu.” (Fashal Khitab Zuhud, Raqaaiq, dan Adab 3/555)
*************
Penulis: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































