Faidah Muhasabah
Terdapat banyak faidah jika seseorang menghisab dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa faidah dari muhasabah. Di antarnya adalah;
1.Mengetahui kekurangan diri
Manusia itu sering melihat kekurangan orang lain, namun sering lupa dengan kekurang diri sendiri. Maka tatkala Anda bermuhasabah, maka Anda akan tersibukkan dengan kesalahan-kesalahan Anda. Sehingga tatkala Anda telah disibukkan dengan kesalahan-kesalahan Anda, maka Anda tidak akan tersibukkan dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Karena Anda akan berpikir bahwa diri Anda sendiri telah memiliki banyak kesalahan, sehingga Anda tidak tersibukkan dengan kesalahan orang lain. Orang-orang yang bermuhasabah mungkin akan sadar bahwa matanya telah banyak melakukan kesalahan, sementara Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman,
“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir : 19)
Mungkin sebelumnya kita merasa bahwa kita adalah orang yang salih dengan menjaga pandangan, akan tetapi tatkala kita bermuhasabah kita akan tahu bahwa ternyata kita selama ini tidak menjaga pandangan. Kemudian juga hisablah diri kita apakah kita ini anak yang berbakti kepada orang tua? Apa buktinya kita adalah anak yang berbakti? Mungkin setelah bermuhasabah kita akan sadar bahwa kita bukanlah anak yang berbakti. Oleh karenanya dengan menghisab diri, kita akan tahu kekurangan-kekurangan yang kita miliki, dan kita tidak akan tersibukkan dengan urusan orang lain.
2.Akan semakin banyak beistighfar dan bertaubat
Tatkala seseorang telah mengetahui aib-aibnya, maka itu akan memicu seseorang untuk beristighfar kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan istighfar tersebut benar-benar keluar dari hati yang paling dalam karena benar-benar menyesali perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan. Maka ketika kita tidak pernah menghisab diri kita, maka kita akan lalai dari beristighfar. Akhirnya dosa-dosa kita lewatkan seakan-akan tidak tercatat. Oleh karenanya seseorang yang sering menghisab dirinya akan semakin banyak beristighfar kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
3.Mengetahui kemuliaan dan Maha Baiknya Allah Subhanahu Wata’ala
Setelah seseorang mengecek maksiat-maksiat yang telah dilakukan, maka seseorang akan tahu bahwa Allah Subhanahu Wata’ala itu Maha Baik. Dia akan sadara bahwa meskipun dia bermaksiat dengan begitu banyaknya, Allah Subhanahu Wata’ala masih memberikannya kenikmatan dan karunianya. Maka dari situ seseorang akan tahu betapa luasnya rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, dan dia akan semakin cinta kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena kebaikan-kebaikanNya. Dengan bermuhasabah seseorang akan sadar betapa banyak maksiat yang dia lakukan namun Allah Subhanahu Wata’ala tidak memberikan hukuman, Allah Subhanahu Wata’ala hanya memberikan teguran kecil kepadanya. Oleh karenanya Allah Subhanahu Wata’ala mengatakan,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. ASySyura : 30)
4.Seseorang akan zuhud
Seseoorang senantiasa menghisab dirinya, maka dia akan zuhud. Dia akan siap untuk bertemu dengan hari akhirat sehingga dia tidak terlalu memperbanyak perkara-perkara yang akan menambah hisab bagi dirinya. Ketika dia telah diberikan karunia berupa mobil, maka dia tidak akan merasa butuh dengan mobil lain meskipun dia mampu membelinya, karena mereka khawatir hal tersebut hanya menambah hisab mereka di hari kemudian. Begitupula dengan harta-harta yang lain, mereka akan zuhud dan hanya memiliki yang diperlukan. Oleh karenanya orang yang menghisab dirinya, maka dia akan bersikap zuhud. Bukan berarti saya mengatakan bahwa jangan seseorang memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang bagus karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda,
“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibnu Hibban 9/340 no. 4032)
Akan tetapi yang terpenting adalah seseorang bisa menjawab pertanyaan Allah tatkala segala hartanya dihisab. Karena saat ini banyak orang bingun mau dikemanakan hartanya, sehingga akhirnya mereka menambah koleksi rumah, mobil dan harta benda lainnya. Padahal mungkin mereka bisa menyalurkan hartanya untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial lainnya.
Bagaimana Agar Kita Semangat Bermuhasabah?
Di antara hal yang membuat kita semangat bermuhasabah adalah,
1.Yakin bahwa semakin banyak kita menghisab diri kita di dunia, maka hisab kita di akhirat akan ringan.
Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan yaumul hisab adalah hari persidangan (perhitungan). Pada hari itu akan diklasifikasikan antara amalan-amalan dosa dan amalan-amalan kebaikan. Dan yang menyidang pada waktu itu adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Ketahuilah bahwa pada hari itu adalah hari yang mengerikan, dimana dosa-dosa kita akan diungkap satu demi satu. Oleh karenanya barangsiapa yang senantiasa menghisab dirinya di dunia, maka akan semakin ringan hisabnya di akhirat sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu,
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum diri kalian ditimbang. Sesungguhnya akan mudah penghisaban kalian esok hari jika kalian menghisab diri kalian sekarang. Dan bersiaplah kalian (untuk dihisab oleh Allah) pada hari kiamat kelak. ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)’ [QS. Al-Haqqah : 18].” (Muhasabah An-Nafs – Ibnu Abi ad-Dunya 1/22)
Orang-orang yang bermuhasabah itu ibarat orang yang kembali mengecek laporannya kembali sebelum akhirnya dia disidang.
2.Bergaul dengan orang-orang yang mengingatkan kita tentang akhirat
Bergaul dengan orang-orang yang mau menegur kita tatkala kita memiliki kesalahan dapat membantu kita semangat dalam bermuhasabah. Caranya adalah mintalah kepada teman kita untuk menegur diri kita jika memiliki kesalahan. Kemudian tatkala teman kita telah mengur, maka hendkanya kita menerima dengan senang hati. Maka jika kita memiliki teman yang siap menegur kita dengan yang cara yang ma’ruf, maka peganglah teman tersebut. Karena dengan teguran tersebut akan membantu kita untuk bermuhasabah. Karena bisa jadi kita luput dari muhasabah karena terlalu banyak waktu memikirkan pekerjaan dan urusan dagang, sehingga akhirnya yang sering kita hisab adalah masalah hutang. Maka jangan sampai kita seperti orang kafir yang sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala,
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak, sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al-Humazah :1-4)
Oleh karenanya jika ada teman yang mau menegur kita, maka dia adalah teman yang baik. Teman yang seperti inilah yang seharusnya kita pegang erat. Dan bukan teman yang hanya bisa mengajak untuk ketawa dan ketiwi, ngobrol, makan dan yang lainnya yang mebuat kita lupa bermuhasabah.
3.Ziarah kubur
Kalau saat ini kita masih hidup dan bisa berangan-angan, maka kita masih bisa untuk menunaikan angan-angan tersebut. Akan tetapi jika kita telah meninggal dunia, maka selesailah segala angan-angan tersebut. Maka lihatlah kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, mereka tidak bisa lagi beramal. Karena mereka telah berpindah kepada kehidupan yang hakiki, dan kehidupan dunia yang semu ini mereka telah tinggalkan. Dan ziarah kubur ini telah diperintahkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, beliau mengatakan,
“Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat.” (HR. Ibnu Majah 1/500 no. 1596)
Dan Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa dianjurkan juga untuk mengunjungi orang yang sedang sakratul maut. Dengan melihat peristiwa tersebut akan membuat seseorang membayangkan bahwa dirinya juga akan mengalami hal yang sama. Sehingga akhirnya dia mau untuk bermuhasabah.
4.Menghadiri majelis ilmu
Menghadrii majelis ilmu bisa mengingatkan kita kepada akhirat.Majelis ilmu akan menegur kita atas kesalahan-kesalahan kita.dan ingatlah bahwa ilmu itu bukan membuat seseorang semakin sombong. Melainkan ilmu itu membuat seseorang harusnya sadar bahwa diri ini memiliki banyak kesalahan. Jika seseorang belajar, namun menjadikannya sombong, maka sungguh niatnya dalam belajar itu salah. Begitupula sebaliknya, orang yang belajar dengan niat yang benar, maka dia akan semakin tawadhu, semakin sadar akan kesalahan, semakin sadar akan kebodohan, dan semakin sadar bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas.
5.Berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala untuk dimudahkan untuk bermuhasabah,
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































