Menyikapi celaan seseorang terhadap kita dengan cara yang benar

Bisa jadi ada seseorang yang tidak suka dengan Anda. Dan pasti ada yang tidak suka. Karena setiap manusia ada yang menyukainya dan ada yang tidak menyukainya. Jangankan manusia, Allah pun demikian. Ada yang memuji Allah, dan ada pula yang mencela Allah. Salah satu golongan orang yang mencela Allah adalah orang Yahudi. sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfrman,

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”. (QS. Al-Maidah : 64)

Lihatlah, Allah Subahanahu wa ta’ala saja tidak selamat dari celaan orang-orang Yahudi. Mereka juga mengatakan bahwa Allah menciptakan langit enam hari, dan pada hari ke tujuh Allah istirahat. Lihatlah bagaimana celaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Para Nabi juga tidak selamat dari celaan. Nabi صلى الله عليه وسلم dicerca dari dulu hingga sekarang, begitu pula dengan nabi-nabi yang lain. Maka kita pun demikian. Mungkin ada orang benci dengan kita dengan sebab kita benar dan dia yang salah. Atau kebencian tersebut muncul karena kita salah dan dia benar. Maka jika sampai celaan mereka kepada kita, perhatikan apakah benar celaan tersebut ada pada diri kita. Jika benar ada pada diri kita, maka lakukanlah perbaikan meskipun dia menyampaikannya penuh dengan penghinaan dan kasar. Jangan kemudian kita angkuh dan arogan seakan-akan tidak punya kesalahan. Karena siapapun diri kita, pasti punya kesalahan. Namun jika celaan tersebut tidak ada pada diri kita, dan kesalahan ada pada orang yang mencerca, bahkan mereka sengaja membuat celaan-celaan yang dusta, maka sikap kita adalah dengan membiarkannya. Kita membiarkannya dan tidak membalasnya karena menyadari bahwa Allah saja tidak selamat dari celaan orang-orang Yahudi. Maka celaan yang sampai kepada kita meskipun tidak benar merupakan sunnatullah. Karena hal seperti itu adalah suatu problematika yang tidak ada solusinya. Jika Anda ingin dipuji oleh seluruh manusia di muka bumi ini, itu adalah sesuatu yang mustahil. Oleh karenanya ada sebuah ungkapan yang menyebutkan,

“Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai.”

Dan inilah namanya kehidupan. Ada yang mencela dan ada yang memuji. Jika orang mencela Anda, maka biarkan saja karena hal itu adalah hal yang biasa. Cepat atau lambat pasti Anda akan mendapatkan celaan, pasti akan ada yang memusuhi Anda. Maka jika tidak bisa diperbaiki, biarkan saja. Oleh karenanya suatu problematika yang tidak ada solusinya itu bukanlah suatu problem, melainkan lika-liku kehidupan. Contohnya adalah seseorang yang datang ke Jakarta kemudian mengeluhkan kemacetan. Maka tentunya kemacetan tersebut tidak ada jalan keluarnya. Sehingga seseorang harus menikmati kemacetan tersebut.

Oleh karenanya celaan orang terhadap kita adalah sesuatu yang pasti. Dan mustahil semua orang mencintai kita. Maka di antara cara menyikapi orang-orang yang memusuhi kita dengan celaan-celaannya agar kita bahagia adalah:

a.Ingatlah bahwa seperti itulah kehidupan. Dan ingatlah bawa para nabi yang merupakan orang yang lebih utama daripada Anda, tidak punya cacat ataupun kekurangan, tetap tidak selamat dari celaan. Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala pun tidak selamat dari celaan.

b.Jangan sibukkan diri Anda dengan celaan mereka. Jangan pernah ingin tahu tentang kabar dan omongan mereka. Karena itu hanya akan membuat Anda tambah sengsara. Oleh karenanya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan bahwa kalau ada orang yang mencela Anda, sesungguhnya kemudharatan itu muncul tatkala Anda ingin tahu tentang orang tersebut. karena jika Anda cuek dan mengabaikan celaan tersebut, Anda akan tetap berada pada kebahagiaan yang Anda alami. Jika ada orang yang datang ingin menceritakan celaan orang kepada Anda, maka jangan dengarkan, dan tidak usah pedulikan mereka. Selama Anda benar dan mengabaikan celaan tersebut, maka Anda akan tetap dalam kebahagiaan Anda.

Biasakan untuk mengurangi grup Media Sosial

Memiliki banyak grup di media sosial juga biasanya hanya akan menghabiskan waktu. Bagaimana bisa seseorang bahagia yang tatkala dia sedang berbahagia dengan berkumpul dengan keluarganya, namun tiba-tiba banyak notifkasi masuk dalam grup media sosialnya. Awalnya ada seseorang yang hendak tidur, kemudian tidak jadi tidur karena ada pesan baru yang masuk. Kalaupun grup tersebut tidak begitu penting, maka sebisa mungkin untuk left (keluar). Terkadang ada seseorang yang memiliki grup di media sosialnya 10 hingga 20 grup. Untuk apa grup sebanyak itu? Memiliki banyak grup di media sosial itu hanya akan menyiksa diri. Meskipun grup tersebut diberikan silent notification, pasti tetap ada rasa ingin untuk membuka pesan tersebut. Oleh karena itu, jika Anda ingin bahagia, kurangi grup media sosial. Jika memang harus punya grup, hendaknya pada hal-hal yang penting saja.

*************

Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah