Melakukan kegiatan sosial secara berkesinambungan

Hendaknya seseorang melakukan kegiatan sosial secara rutin meskipun sedikit. Contohnya adalah Anda memiliki perhatian dengan anak yatim. Meskipun hanya satu orang, tekunilah perhatian tersebut terhadapnya. Perhatikan keperluannya, belajarnya, dan keperluannya. Kalau seseorang menekuninya walaupun hanya pada satu orang, maka pasti akan ada keberhasilan. Dan keberhasilan itulah yang akan mendatangkan kebahagiaan. Daripada seseorang yang memiliki banyak cita-cita, akan tetapi tidak dari satupun cita-citanya terwujud. Karena banyak penulis temui seorang kawan yang memiliki banyak cita-cita, banyak proyek kegiatan sosial, akhirnya tidak ada satupun dari rencananya yang berjalan. Karena dia tidak bisa fokus pada salah satunya. Akhirnya bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, akan tetapi pikiran yang dia dapatkan adalah pikiran yang kacau balau sampai kepada kekecewaan. Maka apapun bentuk kegiatan sosial yang Anda lakukan meskipun sedikit atau bahkan hanya satu, tekunilah. Karena dengan begitu Allah akan memberikan kebahagiaan kepada Anda.

Seseorang tentunya bisa mengukur kapasitas dirinya. Jika seseorang memang mampu untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan, sosia sekaligus, maka silakan. Akan tetapi jika tidak mampu untuk melakukannya secara bersamaan, maka hendaknya dia melakukan apa yang dia sanggupi. Dan penulis mengharapkan kita semua memiliki proyek akhirat. Baik itu membantu hadirnya suatu pengajian, menyantuni anak yatim, membangun sumur di suatu kampung, atau mengumpulkan donatur untuk membangun masjid di suatu daerah, dan proyek-proyek akhirat yang lain yang Anda bisa lakukan. Yang terpenting adalah kalau niat kita tulus karena Allah, maka akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Seorang salaf mengatakan, “Betapa banyak amalan yang kecil, menjadi besar di sisi Allah dengan niat. Dan betapa banyak amalan yang besar, jadi kecil di sisi Allah dengan niat.” (Jami’ul ‘Ulum wa al￾Hikam 1/13)

Intinya adalah seseorang hendaknya memiliki suatu proyek akhirat yang dia tekuni, yang dengan itu menjadi harapan tatkala kita bertemu dengan Allah, dia bisa mengemukakan apa yang dia kerjakan selama hidupnya. Dan orang yang terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, pasti akan mendatangkan kebahagiaan.

Tinggalkan kebiasaan menghukumi orang lain

Hilangkanlah kebiasaan yang selalu menilai tentang sifat dan karakter seseorang. Karena kita sebagai manusia tidak ditugaskan untuk menghukumi orang lain. Jika seseorang mengetahui bahwa si fulan buruk, maka tinggalkan dan tidak perlu untuk mengutarakannya. Bahkan seorang Da’i sekalipun tidak boleh melakukan hal demikian. Seorang da’i dibolehkan menjelaskan tentang orang lain ketika memang hal tersebut sangat penting dan darurat. Kalaupun bukan hal yang darurat, maka seorang da’i pun tidak diperkenankan melakukan demikian. Karena jika seseorang sibuk menghukumi orang lain, maka seseorang akan lupa dan tidak menyadari akan kesalahannya sendiri. Oleh karenanya jangan terlalu sibuk menghukumi orang lain. Karena belum tentu seseorang yang menghukumi orang lain itu lebih baik dari orang yang dia hukumi. Tinggalkan hal tersebut dan hukumilah diri sendiri. Betapa banyak kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita seperti shalat kita yang belum beres dan masih malas atau hafalan tidak bertambah melainkan berkurang yang masih perlu untuk kita benahi.

Berusaha untuk tidak mengetahui urusan orang lain

Di zaman sekarang ini, tidak mengetahui urusan orang lain akan membuat kita bisa lebih bahagia. Dan ini sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang, adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 3976)

Saat ini terlalu banyak informasi yang masuk ke dalam pikiran kita yang hanya sekedar lewat lalu pergi. Maksudnya adalah informasi-informasi tersebut hanya membuat konsentrasi kita hilang. Seseorang yang memiliki Facebook saja sudah bisa mendapatkan informasi yang begitu banyak.

Bagaimana lagi jika ditambah dengan media sosial yang lain. Apakah dengan mendapatkan informasi sebanyak itu bisa mendatangkan kebahagiaan baginya? Tentunya tidak sama sekali.

Oleh karenanya saya sampaikan bahwa saya merasakan kebahagiaan ketika saya menggunakan media sosial hanya untuk mencari informasi yang saya butuhkan saja. Adapun jika Anda adalah seorang dengan profesi tertentu seperti pebisnis, maka silakan mencari informasi yang Anda butuhkan pula. Akan tetapi jika Anda adalah seorang ibu rumah tangga, maka tidak perlu Anda mencari tahu informasi-informasi yang tidak bermanfaat buat Anda. Karena seorang ibu rumah tangga tidak akan bisa menjadi politikus hanya dengan mengetahui berita-berita tentang politik. Bukankah dengan membaca informasi yang tidak bermanfaat baginya itu adalah membuang-buang waktu? Jika 1000 informasi yang dia dapatkan dalam satu hari, bukankah waktunya banyak terpakai untuk membaca informasi tersebut? Kalau sudah seperti itu, kapan dia ada waktu untuk membaca dan menadaburi Alquran? Bagaimana dia bisa menangis di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala sedangkan pikiran Nya penuh dengan informasi-informasi tidak penting. Oleh karenanya penulis katakan bahwa di zaman ini, kita harus bisa sesekali untuk mematikan handphone. Agar ketergantungan kita terhadap suatu berita tidak besar.

Saya tidak mengatakan bahwa berita atau informasi itu tidak bermanfaat. Tapi yang saya katakan adalah 90% informasi yang seseorang ketahui tidak bermanfaat baginya. Kalaupun Anda ingin melihat berita, silakan. Akan tetapi pilih-pilihlah. Jangan kemudian semua sumber informasi dijadikan langganan dalam media-media sosial Anda. Karena tidak semua informasi harus kita ketahui. Jika seseorang disibukkan dengan mencari dan membaca suatu informasi, maka pasti waktunya akan dihabiskan dengan informasi tersebut. Akhirnya tidak ada waktu baginya untuk mengurus keluarga, berbicara dengan istri, bercanda dengan anak, berbakti kepada orang tua. Maka jika Anda tidak bahagia dengan itu semua, dari manakah Anda akan mendatangkan kebahagian? Maka penulis benar-benar menasihatkan bahwa jika Anda benar-benar ingin bahagia, jangan terlalu banyak mencari informasi. Jika ada berita yang penting, maka meskipun tanpa dicari, maka berita itu akan kita ketahui sebab berita tersebut akan jadi buah bibir manusia.

Jika waktu kita habiskan untuk mencari berita, maka modal amalan apa yang akan kita bawa ke hadapan Allah? Bagaimana mungkin kehidupan bisa jadi lebih bermakna kalau waktu dihabiskan untuk mencari informaterlebih tidak bisa membangun kepribadian kita, bahkan terlebih lagi keimanan kita? Alquran sendiri jarang kita baca, padahal yang mendatangkan kebahagiaan adalah Allah Sang pemilik Alquran. Maka jika Anda ingin bahagia, maka bacalah Alquran dan bukan membaca berita.

Oleh karenanya di antara tanda bagusnya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya. Maka latihlah diri kita untuk diam. Kalau orang-orang berbangga dengan pembicaraannya, maka banggalah dengan diam. Kalau berbicara itu ada perak, maka diam itu adalah emas. Dan tidak perlu bagi seseorang untuk mengomentari semua hal yang diketahui atau dilihatnya. Jika Anda ingin bahagia, maka kurangi untuk mengetahui urusan orang lain.

*************

Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah