Berkata Imam Nawawi rahimahullahu :
โYang dimaksud dengan adalah hina. Makna asal dari adalah hidung menempel kepada tanah, debu yang bercampur pasir. Ada yang mengatakan segala sesuatu yang menyakiti hidung. Isi hadits ini adalah motivasi untuk berbuat baik kepada orangtua dan besarnya pahala berbakti kepada orangtua. Makna hadits berbakti ketika keduanya tua renta dan lemah, dengan memberikan pelayanan, menafkahi dll adalah sebab masuk surga. Siapa yang teledor terhadap perkara ini, dia kehilangan kesempatan masuk surga, dan sungguh dia termasuk manusia yang hina.โ
Diantara hal yang menjadi bentuk berbakti yaitu menafkahi orangtua yang miskin dan sudah tidak bekerja, anak wajib menafkahi. Memberi uang bulanan agar orangtua terpenuhi kebutuhan pokok hariannya
Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, dia berkata, “Seseorang mendatangi Nabi ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู , lalu dia meminta izin kepadanya untuk berjihad.” Maka beliau ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู bersabda, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Beliau berkata, “Ya.” Maka beliau ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู bersabda, “Berjihadlah dalam berbakti pada keduanya.” (HR. Bukhari, 4/18)
Jika orang yang mau jihad saja disuruh pulang, maka lebih-lebih lagi orang yang cari duit, kerja, meniti karir dll, lebih berhak disuruh pulang. Pulang ke kampung, temui bapak dan ibumu. Apa tujuan ke kota? cari duit? kerja dalam rangka ibadah? kalau tujuannya dalam rangka bekerja untuk ibadah dan cari pahala, maka ada cara lain yang lebih berpahala yaitu berbakti kepada orangtua. Jika yang cari mati syahid saja disuruh pulang, apalagi yang hanya cari duit. Ada ibadah yang lebih agung yaitu berbakti kepada orangtua
Diriwayatkan dari Abu Daud :
Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma berkata: โSeseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orangtuaku benar-benar menangis?โ, beliau ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู menjawab: โKalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.โ HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.
Hadits menunjukan bahwa anak yang durhaka kepada orangtuanya, melakukan tindakan yang membuat orangtuanya sampai menangis, tidak cukup dengan meminta maaf, namun ada kewajiban membuat mereka tertawa sebagaimana telah membuatnya menangis. Bagian dari jihad adalah berbakti kepada orangtua, karena jihad maknanya juga demikian, susah payah untuk mencari ridho Allah. Dan berbakti kepada orangtua adalah hal yang susah payah, perlu nafas panjang, perlu sabar yang tidak ada habisnya, apalagi saat keduanya sudah tua renta. Ketika keduanya saat makan harus disuapi, saat mandi harus dimandikan dll, untuk bisa berbakti harus dengan nafas yang panjang dan sabar yang tidak pernah habis
Wahai para anakโฆ
Karena agungnya kedudukan kedua orangtua, para Nabi Allah alaihimush sholatu wassalamu adalah manusia paling berbakti kepada kedua orangtua. Taat kepada kedua orangtuanya jika keduanya mukmin, sayang dan menginginkan kebaikan untuk keduanya jika keduanya non mukmin.
Allah telah kabarkan sebagian dari mereka, manusia-manusia pilihan. Bagaimanakah mereka menjadi sebaik-baik anak yang yang berbakti kepada orangtuanya. Lihatlah Nabi Nuh ‘alaihissalam dia khususkan doa untuk kedua orangtuanya agar dapat ampunan.
Dan sebagaimana telah Allah kabarkan :
โ Nabi Nuh bedoa, wahai Rabbku ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan berilah ampunan kepada semua orang yang masuk ke dalam rumahku jika dia beriman, dan ampunilah semua mukmin dan mukminat.โ (QS. Nuh 28)
Ini dalil ibu bapak Nabi Nuh ‘alaihissalam itu beriman sedangkan anaknya kafir.
Dan sebagaimana telah Allah kabarkan keadaan Nabi Isa ‘alaihissalam :
โIsa yang saat itu baru saja lahir berkata โAku adalah seorang anak yang berbakti kepada Ibuku, dan Allah tidak menjadikanku orang yang sombong dan celakaโ.โ (QS Maryam :32)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : โPerintah berbakti kepadaorangtua disebutkan setelah ketaatan kepada Allah, karena Allah sering menggandengkan ketaatan kepada Allah dan berbakti kepada orangtua.โ Dan inilah keadaan Nabi Isa โalaihissalam kepada ibunya.
Kemudian, inilah bakti Nabi Yahya โalaihissalam kepada kedua orangtuanya.
Allah berfirman : โDan Yahya adalah seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong dan durhaka.โ (QS. Maryam 14)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : โSetelah disebut ketaatan kepada Rabb, kemudian Allah ciptakan Yahya sebagai orang yang penyayang, yang bersih dan bertakwa, Allah sambungkan dengan menyebut ketaatan Yahya kepada orangtuanya dan bakti Yahya kepada keduanya. Yahya adalah anak yang menjauhi perilaku durhaka baik dengan ucapan atau perbuatan. Berkaitan dengan durhaka dengan perintah orangtua atau larangan kedua orangtua.โ
Wahai para anakโฆ
Adapun keadaan kekasih Allah, yaitu Ibrahim “alaihissalam bersama ayahnya, dan bagaimanakah Ibrahim โalaihissalam mendakwahi ayahnya dan upaya Ibrahim ‘alaihissalam untuk mengambil cinta ayahnya. Itulahsalah satu upaya bakti yang sampai kepada puncaknya, penuh kasih sayang yang sampai kepada puncak, padahal bapaknya adalah orang kafir.
Allah berfirman dalam QS. Maryam 41-45
“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.
Qodhi Abu Su’ud rahimahullahu mengatakan terkait dialog antara Ibrahim ‘alaihissalam dengan ayahnya. โSungguh Ibrahim telah menempuh jalan yang terbaik dan jalan yang paling lurus. Beliau ‘alaihissalam gunakan alasan di depan ayahnya dengan argumen yang paling indah dan itu diiringi adab yang baik, tujuannya agar ayahnya tidak memilih sikap sombong dan keras kepala.โ
Kemudian, Ibrahim mengajak ayahnya supaya mengikutinya agar Ibarahim bisa menunjukan kebenaran yang nyata kepada ayahnya. Karena ayahnya tidak mendapat keberuntungan berupa ilmu yang datang dari Allah, secara mandiri karena memiliki pandangan yang benar. Ibrahim itu membuka dakwah kepada ayahnya dengan kalimat yang mengambil hati dan simpati ayahnya. Sebagaimana Allah berfirman :
โWahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamuโ (QS. Maryam : 43)
Ibrahim tidak melabeli bapaknya dengan kebodohan yang keterlaluan, meskipun bodohnya keterlaluan (patung dibuat dan disembah sendiri, itu kebodohan yang keterlaluan). Dan Ibrahim tidak melabeli dengan ilmu yang unggul meskipun demikian adanya. Dalam kalimat ajakan kepada ayahnya ini, Ibrahim menempatkan diri sebagai kawan, padahal realitanya Ibrahim jauh lebih tinggi, lebih mulia, lebih berilmu daripada ayahnya.โ
โAdapun Nabi kita, Muhammad ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู dalam masalah bakti, beliau adalah manusia yang sangat menakjubkan. Buktinya beliau sangat sayang kepada pamanya, selalu membersamai Abu Thalib. Dan mengupayakan agar pamanya (sebagai ganti bapaknya yang sudah meninggal) cinta dengan dakwah Nabi ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู , Beliau ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู gunakan kata dengan sebaik-baik kata-kata, hingga menjelang ajalnya beliau ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู berkata :
โWahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan bukti untuk membela paman di hadapan Allah.โ
Dan ini bentuk bakti kepada pamanya yang paling besar, mendakwahi hingga menjelang ajalnya.
*************
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafizhahullahu
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah











































































