Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d as Sa’idi Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencitaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintal manusia. (HR. Ibnu Majah)
Manusia di dunia ini ibarat tamu dan harta yang di tangannya hanyalan pinjaman. Seorang tamu tidak akan menetap, ia pasti akan pergi melanjutkan perjalanan, dan pinjaman tentulah harus dikembalikan.
Dunia akan ditinggalkan, kemudian semua manusia akan pulang Ke kampung akhirat, siapa saja yang berat meninggalkan dunia karena kecintaannya yang mendalam akan mendapat murka-Nya dan siapa yang bertamu di dunia, tidak condong kepadanya maka akan mendapatkan kecintaan-Nya.
Sahabat mulia Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘Anhu meriwayatkan kepada kita keadaan sahabat Rasulullah, yang bertanya dengan pertanyaan yang mendatangkan manfaat di dunia dan akhirat. Keinginan mendalam untuk bisa dicintai Rabbil ibad sekaligus dicintai manusia.
MENJADI HAMBA YANG DICINTA SANG PENCIPTA
Rasulullah menjawab, “izhad fid dunya yuhibbukallah,” Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencitaimu. Zuhud terhadap dunia tidak berarti meninggalkan dunia atau harta secara mutlak, tidak pula dengan memakai pakian yang lusuh, meninggalkan makanan lezat, apalagi mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah.
Zuhud letaknya dihati, bukan pada penampilan. Abu Muslim Al-Khaulani Rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia ialah engkau lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.. “
Syaikhul lslam berkata, “Zuhud adalah meninggalkan segala perkara yang tidak bermanfaat bagi akhirat,” lebih detail lagi, zuhud berbeda dengan wara’. Wara’ adalah meninggalkan perkara yang belum jelas kehalalannya, takut jatuh pada keharaman yang membahayakan akhiratrnya adapun zuhud adalah meninggalkan kelebihan dari sesuatu yang jelas kehalalannya karena takut berdampak pada akhiratnya.
Dunia tidak dilupakan, tapi bukan menjadi tujuan. Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Qs. AL-Qashash:77)
Dunia tidak bisa menjadi tujuan karena rendah dan hinanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berjalan melewati pasar. Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinga binatang itu beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?”
Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena telinganya kecil, apalagi ia telah mati?”
Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.”(HR. Muslim)
Terlebih lagi jika dibandingkan dengan akhirat: “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jari-jarinya ke laut, maka lihatlah air yang dibawa jari-jarinya!?” (HR. Muslim)
Namun setan selalu saja memberikan was-was memperdaya manusia, Sehingga Allah ta’ala berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, janji Allan itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan Janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Qs.Fathir: 5).
Dengan zuhud terhadap dunia, maka Allah mencintainya, Rasul bersabda, “JIka Allah mencintai seorang hamba, Dia melindunginya dari dunia sebagaimana salah seorang dari kalian melindung orang yang sakit dari air (makanan dan minuman) yang membahayakan penyakitnya.” (HR. Tirmidzi)
MENDAPAT KECINTAAN DARI MANUSIA
Rasulullah bersabda, “Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau diCintai manusia.
Hasan al-Bashri berkata, “Seseorang akan senantiasa disenangi sesamanya selama ia tidak berambisi untuk memillki harta mereka, jika ia tamak maka mereka akan membencinya.
Ulama dan penguasa haruslah berlaku Zuhud, sehingga rakyat akan mencintai, memuliakan, mengikuti perkataan dan kezuhudannya.
Keinginan mendapatkan kecintaan dari manusia bukanlah aib, namun menempuh segala cara untuk mendapatkan kecintaan manusia itulah aib yang mendatangkan kemarahan Allah, bahkan menyebabkan manusia tidak mencitainya dan justru akan menyakiti dan menzaliminya, Rasul bersabda,
“Barang Siapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.” (HR. Ibnu Hibban)
*************
Sumber: Majalah ar-risalah, edisi no.08, februari 2017
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































