Sampaikan kebenaran meskipun pahit konsekuensinya, Sehati-hati apapun cara menyampaikan kebenaran, pada akhirnya akan tetap ada yang tidak suka, benci, bahkan mencaci dan menyakiti. Kisah 25 Nabi dan Rasul dalam al Quran adalah contoh nyata tentang hal ini. Kisah mereka menunjukkan ragam cara menyampaikan kebenaran. Hasilnya? Semua berakhir dengan murka para pembela kebatilan.
Dakwah paling lembut disampaikan oleh Nabi Musa kepada mantan ayah angkatnya, Firaun. Mengamalkan perintah Allah, “Dan berkatalah kalian berdua kepada Firaun dengan perkataan yang lembut…”(OS.Thaha).
Hasilnya, saat kebenaran mulai menyentuh inti kebatilan, para pembela kebatilan akan beraksi. Terjadilah adu sihir dengan mukjizat, penangkapan, pembunuhan dan kesewenang-wenangan.
Dakwah paling lama dipegang oleh Nabi Nuh. Beliau berdakwah secara perlahan, dilakukan siang dan malam selama ratusan tahun. Akhirnya tak jauh beda dengan Nabi Musa, Nabi Nuh dicaci dan hanya beberapa gelintir orang yang mau mengikuti. Bahkan putra beliau yang sangat Beliau sayang, memilih lari daripada ikut naik kapal. Kurang apa dakwah mereka? Kurang toleran? Kurang bisa mengkomodasi perbedaan pemikiran? Lihatlah bagaimana cara nabi Luth menyampaikan kebenaran kepada kaum Sodom.
Beliau mengijinkan bahkan menawarkan putri-putrinya untuk diperistri oleh pemuda-pemuda negerinya agar mereka tidak lagi melakukan perbuatan terlaknat, homoseksual. Dan tetap saja, yang beliau dapatkan adalah kebencian dan cacian.
Dakwah butuh keajaiban? Dakwah Nabi Isa adalah dakwah dengan bekal keajaiban paling luar biasa. Bayangkan, Beliau sampai ijinkan menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit-penyakit berat.
Bahkan kini, beliau dianggap jelmaan tuhan oleh kaum Nashrani, kaum yang dahulunya merupakan pengikut Beliau. Namun, dengan segala keajaiban ini, Nabi Isa akhirnya justru diburu untuk disalib.
Dakwah butuh kekuatan dan kekuasaan? Nabi Sulaiman bisa dikatakan sebagai Nabi terkuat. Allah memberikannya kekuasaan luar biasa, sampal-sampai sebagian jin dan hewan tunduk kepadanya. Dengan kekuatan dan kekuasaan ini, apakah lantas tidak ada yang membenci Tidak. Setan-setan dan para pembela kebatilan tetap memendam kebencian.
Jika dakwah yang santun, toleran dan sabar saja akhirnya tetap dibenci, apalagi dakwah frontal ala Nabi Ibrahim. Cara beliau menyampaikan kebenaran benar-benar paling berani dan langsung menusuk ke inti kebatilan, Yaitu saat beliau menghancurkan sesembahan untuk menjebak kaumnya melakukan dialog dan perdebatan teologis mengenai siapa sebenarnya tuhan yang layak disembah. Wajar jika setelah kalah debat, kaumnya pun main kasar dan main bakar.
Dakwah santun, menimbang maslahat dan madharat, bertahap, disampaikan dengan cinta dan bukan kebencian, bertahap dan tidak terburu-buru, penuh hikmah dan menyesuikan objek dakwah dan dibawakan bersama akhlak mulai sang dai, Semua cara ini sudah ada pada dakwah Nabi Muhammad. Dan lihatlah, meskipun kaumnya sepakat mengenai kebaikan akhlak sang Nabi, kebatilan dalam diri mereka tetap memberontak dan melawan apa yang beliau sampaikan.
SEBUAH KONSEKUENSI
Tak beda halnya dengan ragam pilihan metode dakwah umat hari ini. Ada yang memilih berdakwah santun langsung door to door. Menyambangi umat dan mengajak mereka kembali ke masjid dengan cara paling halus.
Apa disangka cara seperti ini tidak ada yang membenci Ada yang memilih dakwah lewat partai, terjun bebas ke dalam keruhnya Sungai demokrasi. Tujuannya satu, bisa mewarnai kekuasaan dengan islam dan meminilasir pengaruh bandit konglomerat. Apa kemudian, mereka lantas disejajarkan kedudukannya karena telah berada di meja demokrasi dan tidak ada yang mencibir dan membenci? Tentu saja tidak. Partai yang diketahui memiliki semangat Islam, sekecil apapun akan menjadi bulan-bulanan.
Apalagi yang memilih jalan amar makruf nahi mungkar terang-terangan. Konsekuensi yang harus dihadapi bukan sekadar kebencian, cibiran, caci maki dan serapah. Lebih dari itu, mereka akan mengadapi kekuatan koalisi kebatilan yang anggotanya bisa siapa saja; orang-orang tasik, munafik, preman bahkan oknum-oknum aparat yang disetir oleh penjahat-penjahat berduit. Penangkapan paksa, penyiksaan, pembunuhan karakter, penuntutan di pengadilan dan lain sebagainya adalah resikonya.
Jangankan memberantas miras, perjudian dan perzinahan, sekadar menegur kawan yang tengah melakukan ghibah misalnya, kita bisa langsung merasakan konsekuensinya. Apalagi bicara jihad, bunuh di tempat tanpa pengadilan adalah resikonya. Masih ditambah stigmatisasi, konspirasi licik untuk menghancurkan makna dan semangat jihad umat, kriminalisasi seorang mujahid, dan upaya-upaya preventif frotal lainnya.
Itulah konsekuensi jalan ini. Sebaliknya, jika seseorang merasa menyampaikan kebenaran tapi justru didukung para pemuja kebatilan, la justru harus introspeksi diri, tidak adakah yang salah dengan semua ini? Para penggegam kebenaran adalah para pemegang bara. Mereka bersabar berdiri diatas kebenaran di bawah panasnya murka manusia. Demi ridho Allah, mereka abaikanmurka manusia. Rasulullah bersabda,
Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada “Barangsiapa yang mencari ridho Allah meskipun harus menanggung murka manusia, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia, Barangsiapa yang demi mencari ridho manusia namun memilih murka Allah, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
TAK GILA HORMAT
Para penggenggam kebenaran sejati adalah manusia-manusia istimewa. Bagi mereka yang paling berharga adalah ridho-Nya. Pujian dan hormat manusia hanyalah efek samping dan kebencian dan murka manusia akan dianggap sebagai pembakar semangat dan tolok ukur kebenaran yang dibawa. Semakin tajam kebenaran yang dibawa mengupas kebatilan, semakin hebat pula perlawanannya.
Manusia yang gila hormat dan pujian akan merasa berat menapaki jalan ini. Ini bukan jalan mereka karena di jalan ini tidak tersedia apa yang mereka cari. Semoga engan kesadaran ini, kita lebih siap dalam menanggung resiko sebagai pengemban kebenaran.
*************
Sumber: Majalah ar-risalah, edisi no.08, februari 2017
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah











































































