MUJAHIDDAKWAH.COM, YOGYAKARTA — Menjelang pelaksanaan Muktamar V Wahdah Islamiyah yang akan berlangsung di Jakarta pada 21–25 Agustus 2026, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Dialog Kebangsaan, Sabtu, (1/8/26).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi Muktamar V sekaligus memperkuat sinergi kebangsaan bersama berbagai elemen masyarakat.
Mengusung tema “Salam Sehat Indonesia: Jalan Kebangkitan Umat dan Penguatan Ketahanan Bangsa”, dialog tersebut menghadirkan akademisi, tokoh bangsa, pimpinan organisasi kemasyarakatan, hingga pimpinan partai politik untuk membahas berbagai isu strategis terkait masa depan Indonesia.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah D.I. Yogyakarta, Ustaz Abu Ayyub, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Muktamar V menjadi momentum memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan Indonesia yang berkah.
“Alhamdulillah, Wahdah Islamiyah sebentar lagi akan mengadakan Muktamar kelima pada 21–25 Agustus 2026 mendatang, dengan semangat terus mengusung kolaborasi menuju Indonesia yang berkah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semangat Indonesia Berkah yang diusung Wahdah Islamiyah bertumpu pada upaya membangun masyarakat yang sehat hati, sehat jasmani, dan sehat ekonomi sebagai fondasi kebangkitan umat dan penguatan ketahanan bangsa.
Sementara itu, Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Dr. K.H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc., M.A., mengungkapkan bahwa Dialog Kebangsaan telah digelar di sedikitnya 10 daerah sebagai bagian dari sosialisasi Muktamar V sekaligus mempererat silaturahmi dengan kalangan intelektual dan berbagai elemen bangsa.
Menurutnya, Wahdah Islamiyah yang berawal dari gerakan pengajian pada 1986 dan resmi menjadi organisasi kemasyarakatan pada 2000, terus berkomitmen mengedepankan prinsip wasathiyah sebagai pijakan dakwah dan kontribusi untuk Indonesia.
“Wahdah Islamiyah di muktamar ini perlu lebih berinteraksi dengan kaum intelektual di berbagai wilayah Indonesia. Wasathiyah dalam Islam menjadi salah satu acuan di Wahdah Islamiyah, di mana kami berusaha benar-benar mengusung konsep ideal dalam Islam, yakni pertengahan dan yang terbaik,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengarahkan semangat perjuangan secara konstruktif dan produktif dalam menjawab berbagai persoalan umat dan kebangsaan.
Dalam sesi dialog, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, M.A., menyoroti tantangan demokrasi Indonesia pascareformasi. Menurutnya, praktik dinasti politik, lemahnya fungsi partai politik, korupsi birokrasi, hingga menurunnya kualitas kebebasan sipil menjadi persoalan yang harus dibenahi.
“Dinasti politik merajalela bukan hanya nasional bahkan sampai ke tingkat desa, menghambat sirkulasi kepemimpinan dan membuat akal sehat tidak berjalan,” katanya.
Ridho menegaskan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, moralitas, dan keimanan agar kekuasaan tetap berada dalam koridor nilai-nilai etika.
“Kita membutuhkan pemimpin yang beriman dalam memimpin kita. Maka kita perlu membangun kepemimpinan berintegritas, ibadah mengendalikan kekuasaan,” ujarnya.
Perspektif kebangsaan juga disampaikan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. Ia menegaskan bahwa keislaman dan keindonesiaan merupakan dua hal yang saling menguatkan.
“Kesatuan antara keislaman dan keindonesiaan tidak bisa dipisahkan, dan pemuka agama sebaiknya menghadirkan agama sebagai perekat persatuan dan kebersamaan yang menembus batas agama maupun ideologi,” tuturnya.
Menurut Chirzin, para pemuka agama memiliki peran strategis sebagai jembatan dialog di tengah masyarakat majemuk dengan mengedepankan nilai persaudaraan, gotong royong, dan kemaslahatan bersama.
Senada dengan itu, Ketua Umum MUI Provinsi D.I. Yogyakarta, Prof. Dr. K.H. Machasin, M.A., menilai tantangan besar bangsa saat ini adalah menjaga harmoni sosial di tengah krisis kepercayaan dan potensi polarisasi.
“Merawat harmoni itu persoalan besar, dan tantangannya adalah ketidakpercayaan bahwa kita bisa hidup bersama, sehingga keadilan dan moderasi sangat penting untuk mencegah sikap ekstremisme,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penguatan sikap moderat harus berjalan seiring dengan penegakan keadilan sosial agar masyarakat tetap hidup dalam suasana persatuan dan saling percaya.
Melalui Dialog Kebangsaan ini, Wahdah Islamiyah berharap dapat memperkuat sinergi dengan berbagai elemen bangsa dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas, memperkokoh persatuan nasional, serta menyongsong Muktamar V dengan semangat menghadirkan Indonesia yang sehat hati, sehat jasmani, sehat ekonomi, dan penuh keberkahan.
Laporan: Humas Muktamar V WI









































































