Doa merupakan salah satu senjata umat Islam. Dengan berdoa, itu menandakan kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah semata. Namun, segala usaha mutlak dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Karena begitu banyak orang yang salah memahami, jika begitu kita tidak usah bekerja, tidak usah belajar untuk sukses, kita tinggal berdoa saja agar Allah memberikan kesuksesan kepada kita.
Kesuksesan syaratnya bukan hanya berdoa tetapi juga usaha yang maksimal untuk mencapai kesuksesan itu, adapun ketika kita gagal dan kita telah berusaha dan berdoa maka yakinlah Allah menentukan hala yang lebih baik dari apa yang kita harapkan karena Allah tidak memberikan segala sesuatu yang kita minta kepada-Nya. Namun, Allah terkadang memberikan sesuatu yang terbaik kepada kita walaupun kita tidak memintanya’’.
Allah berfirman:
Artinya: …”Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar memperoleh kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186).
Doa adalah amalan yang kebanyakan diantara kita terkadang terluput darinya, bakhan ketika selesai sholat terkadang kita tidak menyempatkan lisan-lisan kita basah dan berdzikir kepada Allah , berdoa kepada-Nya dan memohon ampun dengan perbuatan dosa-dosa yang telah kita perbuat.
Saya ingin kita bertanya pada diri kita. Apa yang saya banggakn sehingga saya tidak pernah berdoa? Jikalau Anda adalah orang yang sukses, memiliki jabatan yang tinggi dan gaji yang banyak, maka ketahuilah itu semuanya adalah skenario dari Allah semata. Kita tidak usah bebicara tentang doa kita meminta kesuksesan dan dijauhkan dari kegagalan karena hal yang pertama yang seharusnya keluar dari mulut kita ketika berdoa adalah memohon ampun dengan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Sebagaimana perintah Allah kepada kita untuk memperbanyak doa kepada-Nya.
Setiap doa yang dipanjatkan, Allah pasti memberikan jawaban kepada kita. Namun, jawaban itu terkadang lambat dan cepat atau bahkan Allah tidak menjawabnya didunia, namun Allah menjawabnya diakhirat. Terkadang kita tergesah-gesah mengambil sebuah kesimpulan dalam memutuskan sebuah perkara yang Allah telah tentukan kepada kita. Dan kita meyakini bahwa setiap yang Allah tentukan kepada kita maka tidak ada yang terbaik, semuanya terbaik untuk diri kita. Karena mana mungkin orang yang diciptakan lebih tau dari pada Pencipta-Nya.
Semakin dekat kita kepada Allah maka yakinlah kehidupan kita akan lancar, hati kita akan tenang, hidup kita akan berberkah dan bahagia. Sesungguhnya dunia, hati setiap manusia berada dijemari-jemari Allah . Raja pencipta langit dan bumi, pencipta alam akhirat syurga dan neraka. Maka memohonlah kepada-Nya, mengadulah kepada Allah terhadap setiap masalah yang kita hadapi.
Kesuksesan dan kegagalan adalah milik Allah , hal inilah yang harus kita tanamkan dalam hati kita, jika Allah yang menghendaki segala sesuatunya menjadi tidak mungkin dan bahkan kita kaget dengan kekuasaan Allah yang amat besar. Saya teringat perkataan Adik ke-3 saya, ketika disore hari setelah lama berbincang-bincang, secara spontang adik saya mengatakan (“Lebih baik tidak sukses didunia daripada tidak sukses diakhirat”). Namun, kita harus mengetahuinya orang yang orientasinya dunia maka akhiratnya tidak akan ikut. Tetapi orang-orang yang orientasinya akhirat, setiap yang Dia kerjakan untuk akhirat maka yakinlah kehidupan dunianya akan ikut.
Doa memanglah sentaja bagi umat Islam, doa adalah penghubung antara hamba terhadap Tuhannya. Doa adalah salah satu perbuatan yang dicintai oleh Allah dan mulia disisi-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah . “Tidak ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah Ta’ala daripada doa.” (HR. Ahmad, Bukhari Tirmidzi dan Hakim).
Keutamaan doa sangatlah banyak, apalagi doa kedua orang tua sebagaima-na kisah Nabi Musa. Pada suatu ketika, Nabi Musa bertanya kepada , “Ya Allah, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?” Allah menjawab “Seorang tukang daging.” Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?” Kemudian dia bertanya kepada Allah “Dimana aku bisa menemukan orang ini?” Allah memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian.
Dan Nabi Musa pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang. Nabi Musa, mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.”
Jadi dia mempersilahkan Musa ke dalam rumahnya, dan Musa mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya, memasaknya, dan menempatkannya di atas piring. Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.
Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu). Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi.
Nabi Musa menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu. Jadi dia bertanya padanya “Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?” Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.”
Kemudian Nabi Musa bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?” Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya Allah, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’” Subhanallah, karena do’a dari ibunya, maka Allah mengabulkannya. Inilah kekuatan do’a seorang ibu. Dan masih banyak lagi kisah kekuatan doa seorang ibu yang lainya. Olehnya itu mari perbanyak doa kita kepada Allah .
“Sesungguhnya barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi).
Begitupula dengan perkataan kedua orang tua yang sangat mustajab apalagi perkataan seorang Ibu, maka hendaknya menahan-nahan dan mengukur apa yang ingin dikatakannya. Sebagaimana kisah seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang Ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang Ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.
Tatkala sang Ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata,”idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain, “Pergi kamu! Biar kamu jadi Imam di Haramain!”. Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di do’akan ibunya saat marah itu?
Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia. Ini adalah teladan bagi para ibu, calon ibu, ataupun orang tua, hendaklah selalu mendo’akan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu do’a yang tak terhalang adalah do’a orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendo’akan keburukan bagi anak-anak kita. Meski dalam kondisi marah sekalipun.
“Janganlah kalian mendo’akan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitu-pun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendo’akan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan do’a kalian.” (HR. Abu Dawud).
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pendiri Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Sumber: Buku Meraih Kesuksesan dalam Benih Kegagalan
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































