Seorang penjahit, sebelum memulai mengerjakan pakaian, ia terlebih dahulu mengukur badan pemilik pakaian dan membuat pola pada kain tersebut. Bisa saja karena terlalu sering, kadang-kadang penjahit tidak perlu membuat pola. Namun kompilasi salah menggunting, maka menyesallah ia. Lebih dari itu kain mahal dan milik orang terkenal. Maka, ukur dan buat pola sebelum membuat pakaian menjadi teramat penting. Di samping tidak akan salah, hal tersebut akan memudahkan penjahit dalam pelaksanaannya.
Demikian pula dalam melakukan suatu tindakan. Mencanangkan niat terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan sama dengan membuat pola. Sebuah kain akan dipotong dan dibuat sesuai kebutuhan, tergantung pada polanya. Jika pola diibaratkan niat, maka pakaian adalah hasil dari perilaku tersebut. Bagus tidak pakaian tergantung pada pola dan cara pengerjaannya. Bila polanya bagus, tetapi penjahitnya tidak piawai maka pakaian yang dihasilkannyapun tentu saja buruk.
Demikian pula, jika penjahitnya mahir tidak dapat mengukur atau membuat pola, maka dapat dipastikan hasil yang didapat tidak sesuai dengan pelanggan. Baik buruknya tergantung pada niat dan cara melakukan. Itulah yang dilihat Rasulullah melihat dalam haditsnya yang sangat terkenal tentang niat. Beliau bersabda, “Inamal a’malu binniaat . Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu dari niatnya.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapat ganjaran dari Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia atau karena wanita yang ingin dikawininya, maka ia akan mendapatkan apa yang diniatkan.” Dalam kitab Al Bayan wat Ta’rif terdapat penjelasan mengenai asbabul wurud(sebab turunnya) hadits ini. Dijelaskan pada saat turun perintah hijrah dari Mekah ke Madinah ada seorang pemuda yang berhijrah karena ingin mengawini seorang wanita yang ia cintai. Wanita itu bernama Ummu Qais. Menurut Ibnu Mas’ud, Ummu Qais tidak suka menjadi istri dari orang yang tidak mau berhijrah. Karena itu hijrahlah lelaki tersebut dan akhirnya kawin dengan Ummu Qais. Para sahabat menjuluki lelaki itu dengan nama muhajir Ummu Qais, yaitu orang yang berhijrah karena Ummu Qais. Lalu Nabi saw berpidato di atas mimbar dengan menyebut hadits tersebut. Jadi, kalau niatnya hijrah karena ingin kawin, maka ia barangkali akan mendapatkannya. Demikian pula kalau niatnya lillahi ta’ala, maka hijrahnya akan diganjar dengan pahala dari Allah.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dijuluki Khulafa’urrasyidin ke-5 mengisyaratkan mengenai pentingnya pengaruh niat dalam aktivitas seseorang. Ia berkata, “Kadar pertolongan Allah kepada para hamba-Nya sesuai dengan kadar niat yang mereka canangkan. Siapa saja yang sempurna niatnya, sempurna pula pertolongan Allah kepadanya. Siapa saja yang kurang niatnya, kurang pula pertolongan Allah padanya.”
Sekali lagi niat sangat menentukan, meskipun pekerjaannya sama. Dua orang sama-sama melakukan shalat, bisa jadi pahalanya berbeda. Jika niatnya lillahi ta’ala keridhaan Allah akan didapat. Sebaliknya, bila niatnya ingin mendapatkan pujian atau sanjungan, maka jangankan pahala, shalatnya di mata Allah tidak ada gunanya sama sekali sehingga siksalah yang akan didapatkannya.
Banyak para pekerja, mulai dari pimpinan sampai bawahan setiap hari di pagi buta sudah meninggalkan rumah untuk bekerja dan pulang larut malam. Kesibukan kerja telah membuatnya capai. Ada yang statis, ada yang berambisi mengejar karir, ada yang mengejar jabatan dan ada pula yang cuma mengejar pertambahan uang. Namun tidak sedikit dari mereka yang menjalani kehidupan tersebut sebagai sebuah rutinitas. Tidak terbetik sedikitpun bahwa yang ia lakukan sebetulnya adalah ibadah.
Seorang rekan yang ngantor di Jakarta berangkat dari Bekasi jam 5.30 pagi di kala anaknya belum bangun dari tidur. Naik kereta api KRL berdiri berdesak-desakan, sampai-sampai bergerak saja susah. Kala salah satu kakinya diangkat, saat mau diletakkan lagi sudah diisi posisinya oleh orang lain. Di pagi yang segar itu justru keringatnya bercucuran, gembrobyos. Sore hari pulang kantor mengalami hal yang sama. Sampai rumah pukul 20.00 malam, ketika itu anaknya pun sudah tidur. Saat ditanya, apa sih yang dicari ? Sesaat ia bingung, seperti belum siap jawabannya. Gampangnya ia cuma menjawab, ‘mencari sesuap nasi !’ sambil ngeloyor pergi. Alangkah kasihan. Seandainya niatnya ditujukan untuk ibadah, karena Allah, maka ia akan mendapat pahala yang besar ditambah sesuap nasi yang memang ia usahakan. Bahkan Allah memberikan pahala sama dengan orang yang berjihad.
Nabi saw bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sungguh Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia laksana seseorang yang bertempur di medang perang membela agama Allah.”Bayangkan, pergi bekerja -ngantor, bertani, berdagang, melaut dan sebagainya disejajarkan dengan para mujahidin yang berperang melawan musuh. Syaratnya jelas, semata-mata bekerja dengan niat ibadah dan sudah barang tentu yang dikerjakannya halal.
Jadi, niat memegang peranan penting dalam perbuatan. Perbedaan kedua pekerjaan yang sama dengan niat yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda. Tidakkah kita merasa sayang bila diserahi kain untuk dijahit menjadi sebuah baju, lalu tanpa mengukur dan membuat pola langsung gunting sana gunting sini, akhirnya jadinya tidak sesuai pesanan. Tentu sang pemesan tidak mau menerimanya. Bahkan tidak cuma menolak, tapi akan memarahi sang tukang jahit. Namun jika ukurannya pas dan enak dipakai, sebagaimana pelanggan Handy di atas, maka tidak hanya ongkos jahit yang diterima tapi juga tips dan pujian-pujian. Demikian pula amal perbuatan kita. Kalau dipola atau diniatkan sesuai kehendak Allah, maka ganjarannya (pahalanya) akan berlipat-lipat.
Ada sebuah riwayat yang barangkali dekat dengan kiasan tukang jahit di atas. Abdurahman Al Mazani seperti yang dikutip dalam Multaqath al Hikayat menceritakan tokoh sufi At Tamimi yang pernah mempunyai sebuah baju yang sangat disenanginya. Karena suatu keadaan yang mendesak akhirnya dia harus menjual baju tersebut. Setelah dibawa oleh pembeli, ternyata pada baju tersebut terdapat sedikit sobekan. Maka baju itu dikembalikan. Al Mazani melanjutkan, “Maka At Tamimi pun menangis sedih.” Sang pembeli menjadi tidak enak hati. Ujarnya, “Jangan bersedih pak. Baju itu tetap akan kuambil dan kubayar.” Mendengar teguran tersebut At Tamimi menjawab, “Aku sebenarnya menangis sedih karena teringat akan amal-amalku sejak empat puluh tahun yang lalu. Aku takut kalau-kalau amal itu tidak diterima karena suatu aib atau cela.”
Cela dalam sebuah baju terjadi bisa karena ceroboh dalam membuat atau tidak pandai dalam mengerjakannya. Oleh karena itu, sekecil apapun, mulailah setiap pekerjaan dengan niat yang baik, niat yang semata-mata untuk mendekatkan diri dan mencari keridhaan-Nya. Jangan merasa dumeh pekerjaannya bersifat ‘duniawi’ terus bekerja asal-asalan tanpa melakukan interaksi dengan Allah (idrak shillah billah). Canangkan niat, insya Allah dunia akhirat didapat.
************
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































