Maraknya praktik aborsi di seluruh wilayah tanah air menjadi tanda tanya yang sampai saat ini belum menemukan titik terang penyelesaian yang menyeluruh. Praktik yang satu ini menyisahkan tangis yang mendalam bagi sebagian orang sebab, bayi-bayi tanpa dosa ini dibiarkan terenggut oleh maut tanpa rasa bersalah dari pelakunya.
Mereka yang harusnya menjadi aset masa depan umat dan peradaban negeri serta menjadi pundi-pundi amal bagi kedua orang tuanya, harus gugur di awal perkembangannya. Ini tak lain adalah akibat dari adanya sekularisme. Yang mana habis manis sepah dibuang terus tumbuh ditengah-tengah umat tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dilansir dari TvOneNews.com, Dalam penggeledahan, aparat kepolisian ditemukan setidaknya tujuh kerangka janin dalam tangki septik tank. Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya menetapkan empat orang tersangka dalam kasus klinik aborsi di Ciracas, Jakarta Timur.
Kasus ini terungkap usai polisi mendapat informasi dari masyarakat jika ada praktik aborsi ilegal di daerah tersebut. (05/11-2023)
Kasus seperti yang terjadi di atas bukanlah yang pertama kali terjadi. Namun, dari sekian kasus tak ada satu pun penyelesaian yang mampu memberikan edukasi maupun efek jera kepada pihak lain agar tak melakukan lagi tindakan pembunuhan ini.
Selain itu, ditengah kemerosotan berpikir umat serta dangkalnya pemahaman terkait agama sebagai pengatur kehidupan menambah beban derita setiap individu umat hari ini. Termasuk juga praktik aborsi.
Praktik aborsi dengan berbagai latar ini begitu menjamur dalam tatanan kehidupan sekuler-kapitalis, selain karena kebebasan berekspresi, tindakan ini juga merupakan salah satu buah daripada perbuatan zina. Dimana rata-rata pelaku melakukan tindakan aborsi disebabkan oleh rasa malu yang dibawa serta daripada perbuatan yang melanggar norma agama.
Sejatinya pembunuhan kepada janin maupun juga sesama manusia lainnya tanpa hak merupakan salah satu tindakan yang Allah Swt benci.
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُوْمًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهٖ سُلْطٰنًا فَلَا يُسْرِفْ فِّى الْقَتْلِۗ اِنَّهٗ كَانَ مَنْصُوْرًا
“Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al-Isra: 33)
Dalam ayat tersebut disebutkan terkait larangan membunuh. Sayangnya kondisi hari ini, banyak orang baik itu laki-laki maupun perempuan menjadi orang yang bersumbu pendek kemudian menghalalkan segala bentuk perbuatan yang jelas dilarang dalam agama, termasuk di dalamnya pembunuhan.
Janin yang sejatinya mendapatkan kasih sayang, malah direnggut oleh malaikat tanpa sayap sebelum mereka terlahir di dunia. Akankah ini dibiarkan begitu saja? Cukupkah dengan memberi hukuman penjara bagi mereka yang sengaja juga membantu adanya praktik aborsi ditengah himpitan sistem moderat-sekuler hari ini?
Perempuan dalam Islam: Pejuang Jihad Tanpa Pedang
Dalam episode perdana manusia, majunya peradaban tidak hanya dilihat dari megahnya bangunan, mulusnya jalan serta seberapa banyak roket yang mampu diterbangkan diluar angkasa. Namun, majunya peradaban ini dimulai dengan kokohnya pemikiran dan melejitkan kebaikan ditengah-tengah umat, kemudian membawa keberkahan bagi seluruh alam.
Semua ini tidak terlepas dari pada peradaban yang dimulai dari rahimnya seorang perempuan. Hingga ada yang mencetuskan majunya sebuah negeri dimulai dari perempuan. Dan hancurnya suatu negeri juga dimulai dari perempuan.
Perempuan hari ini didoktrin dengan berbagai kebebasan sehingga membuatnya terlena oleh kemewahan dunia. Tak peduli dengan adanya agama sebagai pengatur kehidupan. Perempuan yang ditempatkan pada kelas dua hari ini, menjadikan perempuan berusaha keras untuk menyamakan kedudukannya dengan kaum laki-laki. Hingga tak heran kaum feminis selalu menggelorakan semangatnya ditengah kaum perempuan untuk terus berusaha setara dengan kaum laki-laki.
Padahal terkait keberadaan laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Allah yang telah diposisikan dengan tugas masing-masing tanpa adanya perbedaan kedudukan. Yang membedakan keduanya adalah ketakwaan dan amal perbuatan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:
“Dan diantara orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi Rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)
Terkait amal perbuatan laki-laki dan perbuatan, tidak ada perbedaan. Demikian pula adanya hisab, tak ada satu pun yang membedakan mereka kelak. Kedua insan ini memikul tanggung jawab untuk melaksanakan ketaatan kepada Alla Swt dan Rasul-Nya.
Mengenai tugas perempuan sebagai Ummu warobatul bait dan juga madrasatul Ulla, tidaklah menjadi sebuah kerugian baginya. Sebab, perempuan yang telah dinobatkan dengan kedua tugas di atas juga akan mendapatkan pahala jihad. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih)
Hadits di atas menjadi kabar gembira bagi kaum perempuan mengenai jaminan surga atasnya jika ia mampu menjaga shalat, menjaga kemaluan, serta taat kepada suaminya untuk masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai.
Inilah Islam, agama yang memilki sistem pengaturan yang sangat adil dan merata. Tidak membeda-bedakan juga tidak merugikan antara satu pihak dengan pihak yang lainnya.
Lantas masihkah para perempuan membiarkan dirinya menjadi makhluk yang berdarah panas dengan kehadiran seorang janin dalam rahimnya, kemudian ia bunuh tanpa rasa kemanusiaan?
Semua ini takkan mampu diselesaikan jika hanya mengandalkan sistem buatan manusia dengan peraturan yang sering dilanggar. Atas hak kebebasan lantas aturan dari sang Pencipta diabaikan. Maka sebagai generasi yang dirindukan oleh Rasulullah, sepatutnya umat ini bangkit kembali dan mengembalikan Fitrah kaum perempuan dari penjajahan yang tak kasat oleh mata.
Mengembalikan Fitrah perempuan sebagai makhluk yang darinya terlahir para mujahid untuk membumikan aturan-Nya yang paripurna. Menjadikan Islam sebagai pengatur kehidupan sehingga tak ada lagi perempuan yang menjadi tumbal kezaliman.
***********
Penulis: Irsad Syamsul Ainun
(Muslimah Pegiat Literasi Papua)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































![🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah 🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩 Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa tetap bermartabat. Mari terus merawat keberanian untuk bersuara, menegakkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan akan lebih bermakna ketika kita mampu mengisinya dengan nilai kepedulian, keberanian, dan kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta melawan setiap penjajah yang menista tanah suci (Baitul Maqdis) dan Masjidil Aqsa al-Mubarak. www.mujahiddakwah.com
[ Bersuara - Menginspirasi - Bergerak ] #indonesia #kemerdekaanindonesia #masjidalaqsa #prabowo #mujahiddakwah](https://scontent-sin2-1.cdninstagram.com/v/t51.82787-15/780910531_17976653331093484_2692693040347743731_n.webp?stp=dst-jpg_e35_tt6&_nc_cat=100&ccb=7-5&_nc_sid=18de74&efg=eyJlZmdfdGFnIjoiRkVFRC5iZXN0X2ltYWdlX3VybGdlbi5DMyJ9&_nc_ohc=w_jB6kKQkq0Q7kNvwFZxPaO&_nc_oc=AdpQdcjzCaUi-RsvKtTkbmWl1lcOPKeQvmHowj2hd0zVSeU9Gpf3bo58Elp4J8OHYfE&_nc_zt=23&_nc_ht=scontent-sin2-1.cdninstagram.com&edm=ANo9K5cEAAAA&_nc_gid=-6EUHwqysNMNMZ6P_SWiAA&_nc_tpa=Q5bMBQLJuZK0lUi_Ucbyiz7EMNVqXI9ymqVXO4-I_lT21IoPQPfIZTw8QwCa3oizrtnjTET6ZOJRjnUH&oh=00_AQHoNGMO_JAfExRj9ndShW4dlLJk6nls_q_wXa-dGceeEA&oe=6A9044F6)



