Di running text Tv One hari ini kita membaca bahwa korban tewas pihak Palestina di Gaza menembus angka 11.000 orang. 4412 orang diantaranya, anak-anak, dan 2918 orang perempuan. Sebanyak 21 Rumah Sakit tidak lagi beroperasi, termasuk RS Indonesia yang keadaannya sudah sangat genting.
Lokasi pengungsian yang tadinya dianggap aman, sekarang tidak lagi aman, karena sudah menjadi target serangan pasukan Zionis. Dan mayat-mayat pun bergelimpangan di jalan-jalan.
Di masjidil Aqsha, Israel memperketat keamanan dan menghalangi kaum muslimin beribadah.
Ditengah situasi peperangan yang masih mencekam, dan tidak diketahui kapan akan berakhirnya, Presiden Turki, Erdogan, menyerukan agar negara-negara Islam bersatu melawan kekejian Israel.
Di dalam Negeri, MUI juga mengeluarkan fatwa haram memberi dukungan terhadap Israel dan haram membeli produk dari produsen yang mendukung agresi Israel.
Protes masyarakat, di media sosial dan di kota-kota seluruh Indonesia, dan dunia, tetap berlangsung.
Ini menandakan bahwa sebagian besar masyarakat kita, masih peduli terhadap nasib saudara-saudaranya di Palestina yang tengah bersimbah darah memperjuangkan kemerdekaan mereka, dan mempertahankan agar Masjidil Aqsha tetap dalam pangkuan kaum muslimin.
Namun demikian, kita tidak habis pikir, masih ada saja segelintir saudara muslim kita yang tidak mempunyai sense of crisis. Padahal mereka seharusnya sadar bahwa derita muslim Palestina, derita mereka juga, begitulah Nabi Saw berpesan kepada umatnya.
Mereka, diantaranya masih menyalahkan HAMAS, yang lantaran serang badai Aqshanya, menyebabkan Israel membalas dengan serangan brutal dan membabi buta. Padahal action yang dilakukan oleh Hamas, merupakan sesuatu yang sangat bisa dimengerti dan diterima akal sehat.
Betapa tidak, negeri mereka dijajah selama 75 tahun oleh Israel. Dan selama itu pula mereka mengalami penindasan fisik dan psikologis yang luar bisa. Dan puncaknya adalah penguasaan Zionis terhadap Masjidil Aqsha. Mereka juga menyalahkan penggunaan media sosial untuk mendukung Palestina. Karena dengan demikian, menurut mereka, sama saja telah menyumbang pendukung Israel.
Bahwa media-media sosial itu, pendukung agresi Israel, tentu perlu pembuktian.
Atau jika pun terbukti, dan mereka beroleh keuntungan finasial, toh kita kan juga sudah memperoleh benefit, yakni tersiarnya kabar tentang situasi yang sebenarnya mengenai Palestina ke seluruh masyarakat dunia. Maka penggunaan media sosial oleh pembela Palestina, bisa menjadi bumerang bagi penyedia jasanya.
Mengapa Anies mengomandokan untuk mengikatkan bendera Palestina di tangan kanan, dan menghidupkan kamera hp di tangan kiri, pada orasi bela Palestina di Monas ? Hal ini dikarenakan Anies sangat menyadari pentingnya penggunaan media sosial dalam perjuangan.
Diakui bahwa kita belum mampu memproduksi teknologi komunikasi semacam itu, tapi tidak berarti kita harus meninggalkannya, dan menuntut agar kaum muslimin segera berusaha menciptakannya sekarang juga.
Jika itu kita lakukan, sama halnya kita melihat kawan yang tidak mampu berenang, tengah hanyut di sebuah sungai. Lalu kita berteriak sekencang-kencangnya agar dia belajar berenang. Tentu tidak mungkin.
Yang semestinya dilakukan adalah, bantu dia segera dengan cara apapun, agar tidak terseret jauh dibawa aliran sungai.
Mereka juga menolak seruan Persatuan Ulama Internasional (IUMS) agar kaum muslimin angkat senjata melawan pasukan zionis. Karena seruan ulama itu, menurut mereka, tidak rasional. Kekuatan persenjataan kita, kalah canggih dibanding senjata musuh. Tetapi mereka lupa bahwa sebagai orang beriman kita tidak boleh berhenti pada hitungan-hitungan rasional.
Rasio kita sangat terbatas. Masih ada diatas hitungan rasional, apa yang disebut dengan kalkulasi Supra Rasional. Kemenangan pasukan kaum muslimin di perang Badar yang berjumlah 300, melawan pasukan kafir dengan jumlah 1000 orang, membuktikan bahwa kalkulasi rasional saja tidak cukup, perlu lompatan ke kalkulasi Supra Rasional dalam menghadapi musuh-musuh Allah Ta’ala.
Untuk melompat ke kalkulasi Supra Rasional, dibutuhkan Iman Tauhid. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, ada pihak yang menyalahkan penggunaan ayat suci Al Quran oleh para pembela Palestina dalam menghadapi agresi Israel. Mereka beralasan bahwa Israel yang menjajah Palestina sekarang, bukanlah Yahudi sebagai yang dideskripsikan oleh Al Quran.
Paham sekulerisme ikut menumpang dalam tragedi kemanusiaan ini, dimana mereka berpendapat bahwa politik harus dibalas dengan politik. Jangan dibalas dengan ayat Al Quran.
Padahal sejarah mencatat bahwa Israel yang menjajah Palestina itu, keturunan Yahudi yang mengusung ideologi Zionisme. Tujuan Zionisme yang dipelopori oleh Theodore Hezrl ini adalah untuk mendirikan sebuah negara di tanah Palestina.
Bahwa mereka sudah inter-marriage dengan bangsa lain selama diaspora ribuan tahun, boleh jadi.
Bahwa orang Yahudi, ada yang tidak setuju dengan pendirian negara Israel, terutama yang sudah hidup mapan di Amerika Serikat, dan Yahudi yang selama ini sudah hidup berdampingan secara damai dengan bangsa Arab di tanah Palestina, boleh jadi.
Tetapi kita tidak boleh menafikan ke Yahudi an mereka. Mereka kaum Zionis itu tetaplah Yahudi.
Bukankah di bendera mereka, ada lambang bintang Daud atau David Star? Bukankah mereka selalu berusaha mau merobohkan Masjidil Aqsha, dengan dalih dibawahnya terdapat fondasi kuil Sulaiman yang ingin mereka bangun kembali?
Dengan demikian, apa yang disinyalir dalam Al Quran tentang perangai buruk sebagian Yahudi atau bani Israel dimasa lalu, masih relevan dalam melihat kelakuan orang Israel masa kini. Bukankah sejarah itu bersifat mengulang?
Itu sebabnya, Al Quran membeberkan kisah-kisah masa lalu, yang baik maupun yang buruk, sebagai i’tibar, pelajaran bagi generasi belakangan.
Sebagai muslim, kita tidak bisa lepas dari Al Quran dalam melihat segala persoalan: Politik, Ekonomi, Hukum, Pendidikan,Budaya, Keamanan, dan lain-lain, karena ia berfungsi sebagai petunjuk (Hudan) yang akan mengarahkan jalan kehidupan kita, sehingga selalu konsisten (istiqamah) berada di track yang benar.
Ketika orang sudah berpikir untuk memisahkan persoalan kehidupan nyata, wabil khusus masalah politik, dari ayat Al Quran, berarti orang itu sudah membuka pintu sekulerisme dalam dirinya.
Demikianlah sebagian ocehan dan goresan yang sifatnya menyalahkan atau mengkritik para pembela Palestina. Kesemuanya itu, sungguh tidak ada manfaatnya sama sekali, dalam usaha kita melumpuhkan kekuatan pasukan Zionis dan memerdekakan Palestina. Justru malah sebaliknya, bisa melemahkan semangat pembelaan kaum muslimin.
Dengan kata lain, cara cara seperti diatas merupakan sesuatu yang kontra produktif. Oleh karenanya, tidak perlu diteruskan lagi. Dan harus di stop.
Jika tidak mampu membantu, semestinya janganlah menggerogoti. Diam, jauh lebih baik bagi mereka yang seperti itu.
Karena kalau diteruskan, ibaratnya adalah, sama saja dengan mereka yang ikut dalam rombongan pasukan perang melawan Zionis. Di tengah perang berkecamuk, mereka bukannya mengarahkan senjatanya ke pasukan Zionis, tetapi mereka menembaki kawan sepasukannya dari belakang. Bagaimana Palestina akan menang?
Terakhir, kita kutipkan ayat Al Quran yang artinya sbb:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu, dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung.
Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kehilangan kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS al Anfal/8: 45-46).
Bogor, 11 November 2023
***********
Penulis: Hanafi Tasra
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)


















































































