Kata haji itu sendiri sesungguhnya sangat unik. Arti lepasnya adalah โmelakukan safar atau perjalanan ke tempat yang jauhโ.
Namun jika kita lihat lebih dekat lagi, kata โhajjโ (ุญ ุฌ ุฌ) ternyata melahirkan beberapa makna.
Kata haji itu berasal dari kata โhajjaโ tadi minimal mengahasilkan dua makna: Bisa membawa kepada โhajja-yahijju-hajjunโ. Atau โhajja-yahijju-hijjunโ.
Yang pertama adalah โHajjunโ (dengan haa fatha) adalah bentuk mashdar atau asal kata itu sendiri. Sementara โhijjunโ (dengan haa kasrah) itu adalah bentuk ism atau kata benda dari amalan ini.
Tapi yang lebih menarik lagi adalah kata โhajjaโ juga bisa menghasilkan: โhujjatunโ (dengan haa dhomma).
Hujjatun dalam bahasa Arab kita kenal bermakna dalil, alasan, dan argumen. Tapi juga bisa bermakna tanda atau pembuktian.
Jika bentuk pertama (hajjun dan hijjatun) lebih menggambarkan makna kasat dari haji, maka โhujjatunโ cenderung menggambarkan makna hakiki dari haji.
Hajjun atau hijjun dalam โsyariahโ berarti melakukan perjalanan ke tujuan yang jauh (ke tanah suci) untuk melakukan ritual Ibadah karena Allah SWT.
Penggambaran makna ini diekspresikan dalam bahasa Al-Quran dengan kalimat: โyaโtuuka rijaalan wa โalaa kulli dhoomir, yaโtiina min kulli fajjin โamiiqโ.
Bahwa jamaah dalam memenuhi panggilan haji itu โakan datang ke tanah suci dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai onta-onta yang jinak. Dan mereka datang dari berbagai penjuru yang jauhโ.
Semua hal yang relevansinya dengan โhajjun wa hijjatunโ ini berada pada ruang lingkup pembahasan fiqh haji. Yaitu tatacara atau aturan melaksanakan haji. Atau lebih mayshur dengan istilah โmanasik hajiโ.
Sementara kata โhajja-yahujju-hujjatunโ lebih banyak berhubungan dengan makna-makna spiritual atau hakiki dari pelaksanaan ibadah haji. Sesuatu yang ketika berbicara tentang ritual dalam Islam banyak terlupakan (ignored).
Haji disebut hujjatun yang berarti dalil, alasan, bukti dan pembenaran dimaksudkan bahwa haji adalah penutup dari rangkaian rukun Islam. Sebuah kewajiban sekali dalam hidup manusia. Maka melaksanakannya sekaligus merupakan sebuah komitmen pembuktian akan kesempuranaan seseorang dalam berislam.
Tidak mengherankan jika figur sentra dari seluruh rangkaian ritual ibadah haji adalah Ibrahim AS. Karena beliaulah sosok figur yang dikenal telah menyempurnakan semua perintah Allah: โdan ingatlah tatkala Ibrahim diuji dengan kalimat-kalimat oleh Tuhannya, maka dia menyempurnakan semuanyaโ.
Ibrahim dikenal sebagai โpenghulu monoteismeโ. Dalam bahasa agama beliau dikenal sebagai โabul ambiyaโ. Bapak para nabi.
Ibrahim AS juga merupakan sosok yang telah menjadi โuswahโ dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan Islam. Mulai dari proses mencari tuhan yang sebenarnya hingga pengorbanan tanpa pamrih dalam pengabdian dan ketaatan kepada Rabbul alamin.
Maka sangat wajar jika kemudian dalam Islam Ibrahim AS dikenal sebagai orang pertama yang digelari secara formal sebagai โMuslimโ (dialah yang menamaimu sebelumnya sebagai Muslim).
Tentu penobatan gelar โMuslimโ yang maksud bukan pada pemahaman Universal. Karena secara Universal semua manusia diyakini terlahir Muslim. Dan semua nabi dan rasul adalah pembawa risalah Islam.
Tapi bagi Ibrahim kata Muslim di sini adalah penyebutan โinstitutionalโ. Itulah yang diabadikan dalam Al-Quran: โhuwa samaakumul muslimiina min qablโ. Bahwa sebelum Muhammad SAW atau sebelum Al-Quran, Allah SWT memberikan gelar โmuslimโ pertama kali kepada Ibrahim AS.
Bahkan dengan tegas Al-Quran menegaskan: โIbrahim bukan Yahudi, tidak juga Nasrani. Tapi seorang Muslim yang hanifโ.
Semua realita itulah yang menjadikan ibadah haji terkait erat dengan Ibrahim AS. Sebab sekali lagi haji menjadi amalan sekaligus pembuktian akan kesempurnaan Islam sebagaimana telah dibuktikan oleh Ibrahim AS.
Tentu yang lebih penting lagi, haji haji dimaknai sebagai โhujjahโ (pembenaran) karena dengan haji seorang Mukmin membuktikan keislamannya. Tentu dengan harapan bahwa kelak ketika meninggal dunia, sang haji dengan haji mabrurnya dapat membuktikan bahwa dia memang meninggal dalam keadaan Muslim.
Sebagaimana diingatkan oleh Al-Quran: โwa laa tamutunna illa wa antum Muslimunโ (janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslimโ.
Itu pula yang dijanjikan oleh baginda Rasulullah SAW: โhaji mabrur balasannya tiada lain kecuali syurgaโ.
Semoga jamaah haji kita dikarunia haji yang mabrur. Amin!
*********
Makassar City, 27 Juni 2023
Penulis: Ustadz Dr. Imam Shamsi Ali, M.A
(Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundaiton, Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)
















































































