Di sisi lain, Allah “cemburu” pada hati manusia. Apa artinya? Allah mencintai kalau hati seorang hamba terkait dengan-Nya sendirian ketika ia sedang dalam kondisi taat. Tetapi kadang hamba itu tersibukkan oleh urusan dunia, maka Allah mengambil dunianya tersebut, agar ia hanya tersibukkan oleh Allah saja, dan bertawakal pada-Nya.
Lihatlah brahim alaihi salam saat tertarik pada Ismail alaihi salam. Allah mengambil Ismail dari tangannya. Dia memerintahkan padanya untuk menyembelih Ismail. Ketika ia meletakkan pisau di leher Ismail, yang ada di hatinya hanyalah kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Lihatlah ketika Ya’qub alaihi salam sangat tertarik pada Yusuf alaihi salam, sehingga kecintaan terhadap Yusuf alaihi salam memenuhi semua hidup dan hatinya. Maka Allah mengambil Yusuf i selama dua puluh tahun, sehingga hatinya kembali dipenuhi cinta pada Allah. Setelah itu, Dia pun mengembalikan Yusut padanya.
Apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga pedang orang kafir itu terjatuh? Berapa berat keikhlasan pada kata-kata itu?
Pedang itu terjatuh, lalu diambil Rasulullah dan diletakkan di leher laki-laki itu sambil berkata, “Kini, siapa yang akan menyelamatkanmu dariku?” la menjawab, “Wahai Muhammad, jadilah sebaik-baik penentu.” Rasulullah bertanya, “Apakah kau bersaksi bahwa tiada Tuhan selan Allah, dan aku Rasulullah Allah?”. la menjawab, “Tidak.” Nabi pun membiarkan la pergi dengan syarat ia tidak akan menolong satu kaum untuk menyerang kaum muslimin dan tidak membunuh orang Islam selamanya.” (HR. Muslim dan Imam Ahmad)
Perhatikanlah Nabi Yunus saat ia di perut ikan paus! Pernahkah Kita bayangkan, seseorang yang berada di perut ikan paus saat malam hari dan di dasar lautan? Bayangkanlah kita dikurung di lemari yang terkunci. Almari itu di dalam kamar yang terkunci, dan kamar itu berada al rumah yang terkunci pula. Lalu orang yang mengurung kita pergi meninggalkan kita! Setelah beberapa menit, kita pasti akan jatuh! Mengapa kita jatuh?
Karena bukan orang yang tawakal. Kalau kita tawakal, kita akan melakukan seperti apa yang dilakukan Nabi Yunus di perut ikan paus. la bukan di dalam lemari, tetapi di perut ikan paus. Di dalam lemari, mungkin kita masih bisa menggedor-gedor. Tetapi, apa yang bisa kita lakukan di perut ikan? Di perut ikan itu, Nabi Yunus alaihi salam menyeru,
“Maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap, Bahwa tak ada lah (yang berhak disembuh) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesangguhnya aku adalah temasuk orang-orang yang zalim. Maka Kani memperkenankam doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan.. (A-Anbiyá’: 87-88)
Bertawakallah pada Allah! Di mana perasaan iní pada diri kita? “Tidak akan ada yang mencelakakan diriku, jika aku bertawakal pada Allah, kecuali yang Dia tetapkan padaku. Maka aku menyandar pada-Mu, ya Allah,. semua urusanku di tangan-Mu, kebaikan di tangan-Mu, wahai Pemelihara alam semesta.”
Lihatlah ketika Fudhail bin Iyadh rahimahullah kehilangan anaknya. Sebelumnya, ia telah hidup selama dua puluh tahun tanpa mau tertawa. la adalah ia seorang ahli ibadah dan ahli zuhud. Tapi di hari anaknya meninggal dunia, ia tersenyum. Sahabatnya bertanya, “Wahai Imam, Anda tidak pernah tertawa selama dua puluh tahun, tetapi hari ini Anda tersenyum?” la menjawab, “Sesuatu yang Allah mencintainya, maka aku pun mencintainya. Sesuatu yang Allah skehendaki, maka aku pun mencintai yang Dia kehendaki dan Dia pilih. “
Ungkapan macam apa ini? Mencapai makna seperti itu memang susah, dan kita memang tidak dituntut untuk mencapai itu. Yang dituntut dari kita adalah mencoba bertawakal dan mendekati makna kata-kata itu.
Kini mari kita simak kisah seorang pemuda yang ingin mendaftarkan dirinya sebagai tentara. Keluarganya tidak mempunyai biaya untuk mendaftarkannya. Tetapi ia mempunyai paman yang berkedudukan tinggi di jajaran militer Keluarganya menyarankan, “Ambillah kartu (nama pamanmu sebelum pelaksanaan tes kesehatan. Hal itu akan memudahkan urusanmu.
Dalam hati Ia bergumam, “Aku harus meluruskan niatku, sebelum ngambil kartu tersebut. Kartu itu akan kugunakan sebagai usaha fisikku, menara hatiku harus tetap bertawakal kepada Allah.” Namun berkali-kali ia mencoba menata niat, tetap saja gagal. Akhirnya ia urungkan niat mengambil Kartu tersebut, karena merasa akan mengganggu nila tawakalnya kepada Allah.
Di tempat tes, Ia antri bersama pendaftar lainnya. Beberapa orang pendaftar ketika ditanya tentang kesehatannya, mengaku, “Aku mengidap penyakit ini dan itu.” Sampailah seseorang yang mempunyai nomor urut sebelumnya. Orang tersebut bertubuh atletis. Ketika ditanya tentang kesehatan, ia menjawab, “Aku mempunyai masalah psikis.” Setelah itu,
tiba giliran pemuda tadi menghadap dokter pelaksana tes kesehatan.
“Apakah kau mengidap suatu penyakit?” Tanya dokter itu. “Tidak,” jawabnya. “Apakah kau memiliki kenalan yang memudahkanmu mendaftar sebagai tentara.”? “Tidak.” “Yakinkah itu,” sang dokter menegaskan pertanyaannya. ” Ya, saya yakin.” Jawabnya tegas.
Ekor mata pemuda itu melirik ke arah dokter. Tampaknya ia yakin bakal lulus tes, dan dicalonkan sebagai tentara. Hatinya bergumam, “Sungguh, aku tidak akan menyesal selamanya, karena tawakal kepada Allah.”
Saat hendak meninggalkan ruang pemeriksaan, dokter itu memanggilnya kembali. “Berdiri di sampingku.” Perintah dokter. Selanjutnya sang dokter membuat ilustrasi yang menggambarkan Kebungkukan tulang belakanya. Harap maklum, pemuda ini adalah Sarjana teknik bangunan. Tentu banyak membungkuk saat menggambar penah bangunan. Namun ia menegaskan, “Saya tidak merasakan sakit apapun di punggung saya.
Setelah itu ia melewati ruang tes selanjutnya. Sampai di akhir tes, ia mendapatkan dispensasi. Begitulah, dan sejak hari itu ia bersumpah bahwa ia telah belajar arti tawakal kepada Allah.
Hidup itu penuh dengan jutaan sikap dan kenyataan. Tapi hal itu membutuhkan pemikiran dan perenungan mendalam. Manakah diantara sikap-sikap itu yang mencerminkan tawakal pada Allah Subhanahu wata’ala?
Kisah ini saya dengar dari laki-laki yang dihukum dalam penjara gelap sejak lama sekali. Laki-laki itu berkata, “Aku masuk penjara, padahal aku punya seorang isteri dan dua anak-yang satu sedang menyusu-dan di rumah kami hanya tersisa sedikit uang. Anakku panas, hingga suhu badannya mencapai 40’C. la sakit parah. Aku mengeluh, Mengapa kau lakukan ini padaku, wahai Tuhanku?
la melanjutkan penuturannya, “Di malam ketika aku di penjara, dan Isteriku tidak punya uang dan anakku sakit, isteriku mendengar pintu diketuk tepat pukul 01.30 dini hari, dan seorang laki-laki berdiri sambil berkata, Aku seorang dokter, di mana ada orang sakit?”. Isteriku terkejut. Laki-laki itu masuk dan memeriksa anakku, lalu menyuntiknya, dan berkata, Anakmu akan sembuh. Isteriku bertanya, ‘Siapa yang memanggil Anda ke sinı?. Dokter itu menjawab, Bukankah ini rumah nomor 25?’. Isteriku menjawab, ‘Bukan, ini rumah nomor 15. Maha Suci yang memberıkan sakit pada orang yang tinggal di rumah nomor 25, dan Maha Suci yang menjadikan dokter salah membaca nomor rumah.”
Kisah yang saya ceritakan panjang lebar -mungkin kita percaya dan mungkin tidak percaya. Kisah yang kita dengar ini mungkin benar dan mungkin salah. Tetapi masing-masing kita telah melihat kisah ini di kehidupannya sehari-hari. Allah tidak akan membiarkan setiap kita kecuali Dia menunjukkan dan mengajarkan padanya kalau Dia adalan AL-Wakil. Sayang, kita melupakan atau melalaikan kisah yang saya senang bercerita lebar tentangnya.
Perhatikanlah cerita Yusuf alaihi salam, betapa ia sangat terkait dengan Al-Wakil. Semua cerita Nabi Yusuf mengalir terbalik. Apa maksudnya?
Pertama, anak yang dicintai bapaknya, (Baik atau buruk? Itu baik, tetapi apa yang terjadi?);
Kedua, dilempar ke sebuah sumur. (Baik atau buruk? Buruk, apa hasilnya?);
Ketiga, diangkat sebagai penghuni istana Al-Aziz. (Baik atau buruk? Baik, lalu apa yang terjadi?;
Keempat, kemudian masuk penjara, (Baik atau buruk? Buruk, lalu apa buahnya?);
Ia akhirnya menjadi Aziz (penguasa) Mesir.
Apa ini?! Seakan Allah Subhanahu wata’ala ingin mengatakan, “Janganlah engkau tergantung pada sebab dan sesuatu yang logis, sehingga engkau membahas dan memperhitungkannya, bertawakallah pada Yang Maha Hidup.” Seakan alur cerita Nabi Yusuf alaihi salam memang demikian, agar kita belajar bertawakal kepada Allah.
Terakhir, bagaimana bisa tawakal? Bagaimana aku menjadi seorang mutawakkil (bertawakal) ?
Kita bisa menjadi mutawakkil dengan perkara yang mudah sekali, apa itu?
Pertama, terus meneruslanlh berhubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Kedua, dzikir dan doa. Hampir semua solusi persoalan itu adalah dzikir dan doa. Itu adalah dua senjata orang mukmin. Berdoalah pada Allah Subhanahu wata’ala agar menjadikan kita seorang yang mutawakkil! Dan perbanyaklah dzikir. Setelah itu, Insya Allah, kita dapatkan diri kita menjadi seorang mutawakkil.
***********
Penulis: Ustadz Amru Khalid
(Disadur dari buku: Hati Sebening Mata Air, h. 117-121)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































