Salah satu peranan penting seorang Wanita adalah sebgai kunci peradaban. sebuah peradaban besar yang dimulai dari wanita. wanita merupakan pembahasan yang sangat penting terutama terkait eksistensi wanita dalam membangun bangsa ini. wanita adalah setengah dari bangsa, terlebih wanitalah yang akan melahirkan dan mendidik para generasi dan pemimpim bangsa. wanita bukan lah ” budak peradaban ” , seperti anggapan orang jahiliyah terdahulu dan perilaku budaya masyarakat sekarang yang merendahkan kaum perempuan baik dari cara berpakaian maupun dari segi akhlak. Padahal anggapan seperti ini telah ditepis sejak islam datang kemuka bumi. bahkan Rasullah SAW, memuliakan kaum wanita dengan memperlakukan mereka dengan sebaik – baiknya perlakuan dengan memperhatikan perasaan kaum perempuan.
Ustadz Budi Ashari, Lc yang merupakan salah seorang pakar sejarah Islam dan pendidikan mengatakan “Baik atau tidaknya peradaban hari ini sangatlah bergantung pada kualitas perempuanya. Ibu yang baik, sholihah lagi berilmu pasti akan melahirkan para pemimpi-pemimpin peradaban yang islam harapkan. “
Wanita muslimah yang sholihah merupakan pioneer-pioneer kebaikan yang memiliki kedudukan tinggi yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, ia adalah perempuan yang senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah, memiliki aqidah yang kokoh, berakhlak mulia, dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya, berilmu, berpendidikan dan berwawasan luas, serta dapat menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya. Sehingga, Imam Al-Ghazali pernah berkata “didiklah anakmu dua puluh lima tahun sebelum ia dilahirkan”, artinya didiklah diri kita sehingga memiliki aqidah yang kokoh dan senatiasa beribada kepada Allah SWT serta berakhakul karimah yang hatinya senantiasa terpaut dengan Al-qurโan.
Dalam masa kejayaannya, Islam begitu menjunjung tinggi kaum perempuan. Kedudukan perempuan di mata Islam terjaga dan mulia. Begitu mulianya kaum perempuan, Allah abadikan mereka dalam salah satu nama surat dalam Al qurโan.
Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang:
โWahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?โ Beliau berkata, โIbumu.โ Laki-laki itu kembali bertanya, โKemudian siapa?โ, tanya laki-laki itu. โIbumuโ. Laki-laki itu bertanya lagi, โKemudian siapa?โ, tanya laki-laki itu. โIbumuโ, โKemudian siapa?โ tanyanya lagi. โKemudian ayahmuโ, jawab beliau.โ (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Di dalam rumah, siapakah yang mempunyai banyak waktu untuk anak-anak? Siapakah yang lebih mempunyai pengaruh terhadap anak-anak? Siapakah yang lebih dekat kepada anak-anak? Tidak lain adalah ibu-ibu mereka. Seorang ibu merupakan seseorang yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik sebagaimana seorang ibu bisa menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya.
Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang di dalam keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya. Berikut beberapa potret wanita muslimah yang berhasil menjadi ibu yang mendidik anak-anaknya menjadi anak yang diridhoi Allah dan rasulnya.
Pertama, mari kita simak perkataan seorang shahabiyah, Khansa ketika melepaskan keempat anaknya ke medan jihad.
โWahai anak-anakku, kalian telah masuk islam dengan sukarela dan telah hijrah berdasarkan keinginan kalian. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari ayah yang sama dan dari ibu yang sama, nasab kalian tidak berbeda. Ketahuilah bahwa sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah dan teguhkanlah hati kalian serta bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung. Jika kalian menemui peperangan, maka masuklah ke dalam kancah peperangan itu dan raihlah kemenangan dan kemuliaan di alam yang kekal dan penuh kenikmatanโ
Keesokan harinya, masuklah keempat anak tersebut dalam medan pertempuran dengan hati yang masih ragu-ragu, lalu salah seorang dari mereka mengingatkan saudara-saudaranya akan wasiat yang disampaikan oleh ibu mereka. Mereka pun bertempur bagaikan singa dan menyerbu bagaikan anak panah dengan gagah berani dan tidak pernah surut setapak pun hingga mereka memperoleh syahadah fii sabilillah satu per satu. (Sirah Shahabiyah hal 742, Pustaka As-Sunnah)
Inilah kekuatan seorang ibu yang diberikan kepada anak-anaknya. Tatkala sang anak merasa ragu akan hal yang ingin diperbuatnya, namun mereka teringat akan nasehat ibu mereka, maka semua keraguan itu menjadi hilang, yang ada hanya semangat dan keyakinan akan harapan seorang ibu.
Demikianlah peran mulia seorang ibu, dan tidak ada peran yang lebih mendatangkan pahala yang banyak melainkan peran mendidik anak-anaknya menjadi anak yang diridhoi Allah dan rasulnya. Karena anak-anaknya lah sumber pahala dan sumber kebaikan untuknya.
Selain contoh di atas, juga ada beberapa contoh dikalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil yang di dapatkannya. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Diantaranya, Imam SyafiโI, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan.
Tahukah kita dengan Imam Shalat Masjidil Haram, Asy-Syaikh Sudais? Apa yang melatarbelakangi beliau menjadi Imam shalat Masjidil Haram? Tidak lain adalah karena harapan dan doa dari ibu beliau. Seorang ibu yang terus menerus memotivasi anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, telah membuat tekad Syaikh Sudais kecil menjadi besar dan membuatnya bersemangat untuk menghafalkan quran dan selalu berusaha agar keinginannya dan keinginan ibunya tercapai untuk menjadi Imam Masjidil Haram.
Tahukah pula kita dengan kisah salah seorang tabiโin Ar-Rabiโah Ar-Raโyi? Seorang ulama yang ditinggalkan oleh ayahnya untuk berjihad selama 30 tahun dan hidup bersama ibunya. Dengan bekal yang diberikan oleh sang ayah, namun dihabiskan hanya untuk pendidikan anaknya oleh ibunya, menjadikan sang anak berkembang menjadi seorang ulama dan pemuka Madinah, yang bahkan Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nuโman, Yahya bin Saโid Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-AuzaโI, Laits bin Saโid dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dari seorang ibu yang sholehah yang mendidik anaknya dengan sangat baik.
Ini adalah segelintir kisah-kisah, potret wanita muslimah yang mengagumkan akan pengaruh yang amat besar dari seorang ibu, dan masih banyak kisah-kisah lainnya.
Perempuan memegang peranan penting terhadap maju tidaknya sebuah peradaban. Dari tangan perempuanlah terlahir generasi penentu masa depan. Sehingga ada ungkapan bijak mengatakan bahwa, perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan itu baik maka baik pula negaranya dan apabila perempuan itu rusak maka rusak pulalah negaranya. Oleh karena itu, apabila perempuan itu baik sesuai dengan tuntunan syariat dan petunjuk Islam, maka baiklah seluruh sendi kehidupan.
Saudariku, Jika wanita dalam islam disebut-sebut sebagai Al Ummu Madrasatul Ula (madrasah pertama bagi anak-anaknya) , maka dapat disimpulkan bahwa para wanita adalah rahim peradaban.ย Dari rahimnya akan muncul generasi – generasi rabbani, pemuda-pemuda tangguh menghadapi tantangan zaman akan berujung pada kebahagiaan abadi tiada tara di syurga kelak. cukuplah Al-Quran dan As sunnah sebagai pedoman. Siapkan diri kita dari sekarang, dengan senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah, memiliki aqidah yang kokoh, berakhlak mulia, dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya, berilmu, berpendidikan dan berwawasan luas, dengan begitu kita bisa menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak-anak kita. Semoga kedepannya akan lahir generasi-generasi yang memiliki aqidah yang kokoh dan senatiasa beribada kepada Allah SWT serta berakhakul karimah yang hatinya senantiasa terpaut dengan Al-qurโan. Allahumma Aamiin…
***********
Bulukumba, 24 Oktober 2021
Penulis: Wahyuni Subhan
(Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pengurus Mujahid Dakwah Media)
Demikian Semoga Bermamfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)












































































