Kemajuan Peradaban Barat hari ini menyilaukan setiap mata yang melihatnya. Ia maju dalam banyak aspek, mulai dari sains hingga teknologi. Oleh sebab itu, saat ini banyak orang berlomba-lomba untuk mengikuti segala sesuatu yang berasal dari Barat. Sebagian umat Islam pun termasuk kedalam golongan tersebut yang “fanatik” terhadap Barat.
Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang berpikir bahwa untuk mengembalikan kejayaan Islam, umat Islam harus meniru segala sesuatu yang datang Barat.
Ini sama dengan yang dinyatakan oleh Abdullah Chevdet, seorang ideolog Gerakan Turki Muda di Turki: “There is only one civilization, and that is European civilization. Therefore, we must borrow western civilization with both its rose and its thorn”.
Maka, mereka pun mengambil semua yang ada di Barat. Mulai dari aspek makanan, gaya berpakaian, sains dan teknologi, bahkan cara berpikir ala Barat. Fenomena ini sesuai dengan yang disampaikan Bernard Lewis bahwa,
“Globalisasi atau westernisasi bukan hanya berlangsung dalam 3 aspek 3F (food, fun, fashion), tetapi juga 1T (thought). Cara berpikir Muslim juga diatur. Bahkan, yang lebih ironi, cara kaum Muslim beriman kepada Tuhannya, menyembah Tuhannya, juga memahami kitab sucinya pun tak luput dari hegemoni”.
Tak mengherankan, saat ini umat Islam banyak yang terjebak dengan berbagai doktrin dan ideologi “sesat” dari Barat. Dengan doktrin-doktrin tersebut Muslim menjadi rela meninggalkan berbagai aspek dan tradisi intelektual-spiritual Islam hingga akhirnya ia berpaling kepada kehebatan “luar biasa” dari peradaban dan pemikiran Barat.
Peristiwa ini dapat dibuktikan dengan adanya sebagian pemuda Muslim yang mulai “ikut-ikutan” menggunakan cara berpikir ala barat supaya tidak diangap konservatif atau radikal, tidak kuno atau primitif; supaya toleran dan “terbuka”, rasional dan ilmiah; dan supaya menjadi manusia modern seutuhnya menurut versi mereka. Yang lebih mengenaskan lagi, adalah ketika sebagian perguruan tinggi Islam mulai memasukkan unsur pemikiran Barat ke dalam studi Islam.
Liberalisme, pluralisme, sekularisme, relativisme dan feminisme-gender merupakan contoh dari doktrin yang mereka agung-agungkan. Bahkan, tidak sedikit dari sarjana dan akademisi Muslim yang terus berusaha untuk menerapkan doktrin-doktrin tersebut dalam ajaran agama Islam. Salah satu contohnya adalah fenomena merebaknya “virus” Hermeneutika yang dipakai untuk menafsirkan al-Qur’an di kalangan mereka.
Menurut seorang cendekiawan Muslim, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, Hermeneutika sebagai metode penafisran Bible, sama sekali tidak bisa digunakan untuk menafsirkan Qur’an. Bahkan menurutnya, pendekatan hermeneutika terhadap Al-Qur’an sangatlah berbahaya.
Yang paling utama adalah akan munculnya penolakan terhadap penafsiran yang final atas Al-Qur’an. Dengan begitu, keadaan ini justru akan menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan. Dan yang paling pasti adalah metode ini hanya akan mengacak-acak hukum yang telah final dalam Islam.
Tak hanya berusaha menerapkan doktrin-doktrin yang berasal dari Barat, mereka pun tak segan merujuk kepada para tokoh pemikir Barat untuk menyelesaikan berbagai masalah di era kontemporer ini. Descartes, Derrida dan Kant merupakan beberapa contoh dari tokoh-tokoh tersebut.
Di sisi lain, mereka justru seakan menyingkirkan pendapat dari para tokoh Islam. Bahkan, meski tak dapat digeneralisasi, saat ini banyak ditemukan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut yang tak mengenal para tokoh pemikir Islam.
Hal-hal tersebutlah yang akhirnya menyebabkan umat Islam dikuasai oleh peradaban materialisme, emprisme dan hedonism sehingga spiritualisme disingkirkan; dunia di agung- agungkan sementara tuhan dan akhirat dilupakan.
Rasionalisme, relativisme, agnosistisme dan skeptisisme menjadi standar berpikir setiap Muslim sehingga kebenaran yang absolut mereka singkirkan dan nilai-nilai yang sudah tetap dan final diubah seenaknya.
Maka, bukannya mengalami kemajuan, peradaban Islam justru secara perlahan kehilangan kepribadiannya. Karena umat Islam terjebak dalam pengagungan yang luar biasa terhadap segala sesuatu yang bukan berasal dari peradaban mereka dan sebenarnya hal tersebut sama sekali tak mereka butuhkan.
Padahal untuk mengembalikan kejayaan Islam, umat Islam tak perlu berusaha untuk menjadi sama seperti “Barat” dengan meniru semua hal yang ada di dalamnya, apalagi sampai meniru cara berpikir dan beragama mereka. Muslim justru seharusnya berkaca dan kembali kepada sejarah Islam yang pernah sampai kepada zaman keemasannya selam berabad-abad lamanya.
Dalam sejarah tercatat bahwa masa kejayaan Islam dari segi adab dan tradisi ilmu pengetahuan telah tercapai sejak zaman kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah.
Di masa Nabi Muhammad dan para sahabat, sejak turunnya wahyu pertama sampai selesai masa Khulafaur Rasyidin (610-692 M), ilmu pengetahuan yang berkembang masih seputar Qur’an dan Hadits secara umum, ibarat “bahan mentah” yang butuh banyak pengolahan.
Barulah kemudian di masa Umayyah (661/2-750 M), dua Pustaka itu diolah, dielaborasi dan dikembangkan menjadi ilmu-ilmu yang sekarang kita kenal sebagai ilmu tafsir, qira’at, hadits, kalam, tasawuf, ushul fiqh, fiqh, alat atau bahasa (nahwu, shorof, balaghah, ‘arudh), dan lain sebagainya sembari terus disempurnakan—meskipun di masa kepemimpinin Sayyidina Ali, cikal bakal ilmu alat sudah mulai muncul (salah satu pelopornya adalah muridnya sendiri, Abu al-Aswad al-Du’ali), hanya saja secara spesifik belum disebutkan nama ilmunya.
Di antara para ulama yang muncul di masa ini: Urwah bin Zubair, Said bin Musayyib, Said bin Jubair, Ali Zainal Abidin, Salim bin Abdullah bin Umar, Abu Hanifah, Malik ibn Anas dan masih banyak lagi.
Adapun masa setelahnya, masa Abbasiyah (750-1257/8 M), yang pusat keilmuannya berada di Andalusia, ilmu-ilmu di atas berhasil disempurnakan. Tidak hanya itu, ilmu-ilmu di luar Islam pun berhasil dikembangkan. Mulai dari filsafat, fisika, matematika, geometri, geografi, optik, astronomi, logika, retorika, politik, kedokteran, pertanian, Ekonomi, sejarah, teknik, arsitektur, dan masih banyak lagi.
Di masa itulah lahir para ulama, filosof, dan ilmuwan Muslim sekaliber al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rushd, Fakruddin al-Razi, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal, al-Idrisi, Yahya Ibn Awwam, Ibn Ishaq, Ibn Hisyam, al-Thabari, Ibn Asakir, al-Baghdadi, Ibn Khaldun, Ibn Miskawayh, Jabir ibn al-Hayyan, Ali ibn Abbas, Ibn al-Haytsam, al-Zahrawi, Ibn al-Nafis, al-Khawarizmi, Ibn Firnas, Ibn Shatir, Abu Bakar al-Razi, Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Muslim ibn al-Hajjaj, Abu Dawud, Muhammad ibn Isa al-Tirmidzi, Abu Abdullah Muhammad ibn Yazid ibn Majah, Ahmad ibn Syu’aib al-Khurasani, dan masih banyak lagi.
Bisa dikatakan, puncak ilmu pengetahuan (khususnya dalam bidang sains dan teknologi) dalam sejarah Islam, ada di masa Abbasiyah.
Sebab di masa itulah para ulama dan ilmuwan Muslim tidak hanya menciptakan dan mengembangkan beragam ilmu baru, tapi juga memberikan kontribusi serta pengaruh kepada peradaban lain, khususnya peradaban Barat melalui karya-karya tulis mereka.
Apalagi ketika mengetahui kalau di masa itulah peradaban Islam jauh lebih unggul dari Barat. Karena saat itu Barat justru sedang berada di masa keterpurukannya atau yang biasa disebut dengan dark ages.
Kejayaan Islam tersebut tentu mampu kita kembalikan. Caranya dengan menghidupkan kembali khazanah kelimuan dan tradisi intelektual Islam yang telah lama redup. Untuk menghidupkan lagi tradisi tersebut tentu umat Islam harus memiliki bekal.
Setidaknya ia harus menguasai ilmu pengetahuan Islam termasuk ilmu pengetahuan di luar Islam dengan baik dengan harapan, lahir gagasan-gagasan dan karya-karya monumental yang mampu dimanfaatkan seluas-luasnya oleh peradaban kita dan peradaban lain.
Meski begitu, mestilah ilmu pengetahuan Islam yang tetap diutamakan. Tapi, umat Islam juga harus memahami Barat sebagai peradaban yang paling berpengaruh saat ini. Hal ini penting sebagai “benteng” agar umat Islam tidak silau dengan segala kemajuan yang ada disana.
Dengan begitu, umat Islam akan pintar dalam memilih dan cakap dalam memilah mana yang baik dan buruk. Sehingga Muslim pun tidak akan fanatik dan mudah mengadopsi “buta” semua hal yang berasal dari Barat, khususnya dalam aspek ilmu pengetahuan.
Karena jika tidak, yang akan terjadi justru sebaliknya, yaitu terjadinya hegemoni pengetahuan asing terhadap Islam seperti saat ini. Maka, berdasarkan pengalaman sejarah tersebut, untuk mengembalikan kejayaan Islam, Muslim tak perlu berusaha untuk menjadi sama seperti “Barat”.
Muslim tidak harus melepaskan agamanya, membuang nilai-nilai absolut atau bahkan menyamakan semua agama untuk mengembalikan kejayaan Islam. Muslim seharusnya meniru model yang jauh lebih baik, yaitu umat Islam terdahulu yang telah berhasil membawa Islam ke masa kejayaannya tanpa meninggalkan aspek apapun dalam Islam yang telah diciptakan secara sempurna, khususnya dalam hal berpegang tegu pada agama Islam, dimana pun dan kapanpun itu.
***********
Penulis: Reisya Callista P. Prawira
(Mahasiswi At-Taqwa College Angkatan II)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































