Tidak Memasuki Rumah Orang Lain Kecuali dengan Izin Pemiliknya

Wanita Muslimah telah memahamiajaran Islam tidak akan memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Permohonan izin ini merupakan perintah Rabb yang tidak boleh disepelekan:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian selalu ingat. Apabila kalian tidakmenemui seorang pun di dalamnya, makajanganlah kalian masuk sebelum kalian mendapatkan izin. Dan, jika dikatakan kepada kalian, ‘Kembalilah,’ maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (An-Nur: 27)

Demikian juga dengan firman-Nya,

Dan, apabila anak-anak kalian telah sampai balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. “(An-Nur: 59)

Wanita Muslimah tidak terdetik hatinya untuk meminta izin masuk rumah yang tidak boleh dimasukinya, seperti misalnya rumah yang hanya dihuni oleh orang laki-laki saja. Dia hanya akan meminta izin memasuki rumah yang hanya dihuni oleh wanita saja atau laki-laki yang boleh melihatnya, sebagai pengamalan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Meminta izin ini mempunyai beberapa adab dan tata cara yang Islam telah berusaha menanamkan bagi kaum Muslimin dan Muslimah serta memerintahkan mereka supaya menjadikannya sebagai hiasan dirinya setiap kali melakukan kunjungan kepada seseorang.

Pertama: Tidak boleh berdiri di hadapan pintu, tetapi berdiri di sebelah kanan atau sebelah kiri. Demikian itulah yang dilakukan oleh Rasulullah, seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Busra, sahabat Nabi,

“Sesungguhnya apabila Nabi mendatangi pintu suatu rumah hendak meminta izin tidak menghadapkan wajahnya ke pintu itu, tetapi di sebelah kanan atau kiri, apabila dizin kan akan masuk dan jika tidak akan kembali pulang. “

Yang demikian itu karena meminta izin adalah untuk memelihara pandangan, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Sahal bin Sa’ad dia menceritakan, Rasululah pernah bersabda,

Sesungguhnya meminta izin itu dimaksudkan untuk memelihara pandangan.” (Muttafaq Alaih)

Oleh karena itu, orang yang minta izin, laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan untuk berdiri menghadap ke pintu agar pandangannya fidak terarah ke dalam ketika rumah dibuka.

Kedua: Mengucapkan salam terlebih dahulu baru kemudian meminta izin. Dan, tidak dibenarkan meminta izin sebelum mengucapkan salam. Mengenai masalah ini, sudah ada petunjuk Nabi hadits Rib’i bin Hirasy, dia menceritakan, Seseorang dari Bani Amirah bercerita kepada kami bahwa dia pernah meminta izin kepada Nabi yang berada di salah satu rumahnya. Orang itu bertanya, “Apakah engkau mengizinkan aku masuk?” Lalu Rasulullah berkata kepada pelayannya, “Keluar dan ajarilah dia cara meminta izin, katakan kepadanya agar dia mengucapkan Assalamu alaikum, baru kemudian meminta izin untuk masuk.” Maka orang itupun mendengar ucapan beliau dan akhirnya dia mengucapkan, “Assalamu’ alaikum, apakah aku boleh masuk?” Dan beliau pun akhirnya mengizinkan, dan dia pun masuk.”

Ketiga: Menyebutkan nama yang dikenal atau nama panggilan, jika hal itu ditanyakan. Dan, tidak diperkenankan menjawab dengan kata “saya misalnya, atau yang lainnya. Nabi sangat membenci orang yang mengetuk pintu menjawab dengan kata “saya” yang tidak mengenalkan identitas dirinya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan untuk menyebutkan nama jelas pada saat ditanyakan identitas dirinya, Dari Jabir, dia menceritakan, ibst Aku pernah mendatangiNabi, lalu mengetuk pintu rumahnya. Lalu beliau bertanya, ‘Siapa itu? Aku menjawab, ‘Saya.’ Beliau berkata, Saya, saya, siapa? Seakan-akan beliau membenci jawaban itu.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah telah mengajarkan yang demikian. Dan, disunatkan untuk menyebutkan nama jelas pada saat meminta izin. Demikian itulah yang dilakukan oleh para sahabat, laki-laki maupun perempuan. Dari Abu Dzar , dia menceritakan,

Pada suatu malam aku pernah keluar, tiba-tiba Rasulullah berjalan sendiri, dan aku berjalan di bawah sinar rembulan, lalu dia menoleh dan melihatku, maka beliau bertanya, ‘Siapa itu? Maka aku pun menjawab, Abu Dzar. ” (Muttafaq Alaih)

Dari Ummi Hani’ Radhiallahu Anha, dia menceritakan, “Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sedangkan beliau sedang mandi yang ditunggui oleh Fatimah, lalu beliau bertanya, ‘Siapa itu? Aku menjawab, ‘Saya, Ummu Hani'”.”

Keempat: Hendaklah orang yang meminta izin kembali pulang apa- bila diperintahkan kembali oleh tuan rumah tanpa harus menyimpan rasa kesal di hati. Mengenai hal itu Allah ss telah memerintahkan melalui firman- Nya dalam Al-Qur’an,

Dan, apabila dikatakan kepada kalian: Kembali sajalah, ‘ makaa hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. ” (An-Nur: 28)

Mengenai hal itu, ada juga petunjuk Nabi , yang menerangkan bahwa batas minta izin itu sampai tiga kali. Apabila tuan rumah mengizinkan, maka orang yang meminta izin boleh masuk, dan jika tidak, hendaklah dia pulang. Hal itu diterangkan beliau melalui hadits Abu Musa Al-Asy’ari , dia menceritakan, “Rasulullah Meminta izin itu batasnya tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah dan jika tidak, maka pulanglah.” (Muttafaq Alaih)

Pada suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ari pernah meminta izin kepadaUmar bin Khaththab, tetapi Umar tidak mengizinkannya, maka dia pun kembali pulang. Lalu Umar mengirim utusan kepadanya, lalu terjadi perbincangan di antara keduanya mengenai permintaan izin kepada Umar dan kepulangannya. Mengenai hal ini, perlu kami kemukakan kisahnya agar diketahui oleh para pembaca mengenai keseriusan para sahabat dalam memahami petunjuk Rasulullah dan kesungguhannya untuk menerap- kannya. Abu Musa A-Asy’ari bercerita: Aku pernah meminta izin kepada Umar -tiga kali-tetapi dia tidak mengizinkan, maka akupun pulang. Maka Umar segera mengirimkan seorang utusan dan memintaku menghadap. Setelah menghadap Umar bertanya, Wahai hamba Allah, engkau merasa lelah berdiri di depan pintu rumahku? Ketahuilah bahwa banyak orang mengalami hal yang sama, di mana mereka berdiri lama di depan pinturumahmu. Maka aku pun berkata, Bahkan aku telah meminta izin sampai tiga kali kepadamu, tetapi aku tidak diberikan izin, maka aku pulang (karend kami diperintahkan untuk melakukan hal itu). ‘Maka Umar bertanya, Dari siapa engkau mendengar hal itu?’ Aku pun menjawab, Aku mendengarnya dari Rasulullah bersabda. Dia pun bertanya, ‘Apakah engkau mendengarkan sesuatu dari Nabi yang aku tidak mendengarnya? Jika tidak menerangkan kepadaku, maka aku akan memberikan hukuman padamu.’ Maka aku segera keluar lalu aku
mendatangi beberapa orang dari kaum Anshar yang sedang duduk duduk di masjid, kemudian aku bertanya kepada mereka, Apakah ada orang yang meragukan hadits ini?” Selanjutnya aku memberitahukan kepada mereka apa yang dikatakan Umar bin Khaththab, makamereka pun berkata, Tidak ada yang berangkat bersamamu menemui Umar melainkarn orang-orang termuda di antara kami. Maka berangkatlah bersamaku Abu Said Al-Khudri -atau Abu Mas’ud- menemui Umar. Setelah bertemu, Umar berkata, Kami pernah pergi bersama Nabi hendak menemui Sa’ ad bin Ubadah. Setelah sampai, beliau mengucapkan salam, tetapi dia tidak menjawabnya, maka beliau pun mengucapkan salam kedua dan ketiga kalinya, dan tidak dijawabnya. ” Nabi berkata, Hak minta izin kita sampai di sini. Kemudian beliau kembali pulang. Lalu Sa ‘ad melihatnya danbertanya, ‘Wahai Rasulullah, Demi Allah, yang telah mengutusmu dengan benar, aku mendengar ucapan salammu yang pertama dan aku tidak menjawab karena aku ingin agar engkau mengucapkan banyak salam kepada keluargaku. Maka Abu Musa berkata, Demi Alah, aku tidak mendustakan hadits Rasulullah, Umar pun menjawab, ‘Benar, tetapi aku ingin meyakinkan’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan, masih menurut riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Umar pernah berkata menyesali dirinya sendiri ketika dia mendengar hadits itu tidak dengan telinganya sendiri, “Mengapa perintah ini tidak aku dengar langsung dari Rasulullah ? Aku telah dilupakan dengan kesibukan berdagang di pasar Demikian itulah adab dan kaidah meminta izin dalam Islam. Dan, wanita Muslimah pasti akan menerapkannya dalam kehidupannya dan mengajarkannya kepada putra-putrinya.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 401-405)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan