Sejak awal melihatnya, saya sudah sangat tertarik dengan buku ini. Buku ini sangatlah keren. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami berbagai kalangan. Meski ditulis dengan gaya sastra, kisah-kisah yang dituturkan penulisnya, yakni KH Saifuddin Zuhri, sangatlah faktual bahkan aktual. Buku ini sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang ingin mengetahui tentang apa saja yang ada di pesantren dan juga apa saja kontribusi atau peran pesantren terhadap masyarakat.

Mendekati sebuah genre buku otobiografi, buku ini juga kaya dengan memoar-memoar penulisnya yang mendudukkan kisah-kisanya dengan kelengkapan kisah tentang dunia santri, guru-guru dan kyainya, serta dinamika perjuangannya dalam konteks periode pergerakan nasional Indonesia. Dengan tujuan untuk membangun pengertian terhadap masyarakat dan mengembalikan rasa hormat kepada pesantren, buku ini juga bertujuan untuk menghilangkan kesan negatif terhadap pesantren.

Pesantren sering dipandang sebagai “sarang” atau tempat yang jumud (ketinggalan zaman) dan kolot (berpikiran kuno). Pesantren juga sering dianggap memiliki peran dalam membangun sikap kebangsaan dan berkontribusi dalam merebut kemerdekaan. Bias pandangan modernisme telah menyudutkan subkultur pesantren di bagian pojok dari ruang masyarakat bangsa.

Dalam pandangan-pandangan awam seperti itu, buku ini justru memberikan lukisan yang berbeda tentang pesantren. Jika kita gali lebih dalam, kita akan mendapatkan banyak poin-poin yang menarik tentang kehidupan pesantren dalam pesantren. Misalnya, tentang peran pesantren terhadap masyarakat. Di antara peran-peran umum pesantren terhadap masyarakat adalah dalam pendidikan. Pesantren ada untuk mendidik masyarakat dan juga menjadi tempat belajar yang ideal bagi masyarakat.

Karena, selain banyak diajarkan tentang ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, tauhid, nahwu sharaf dan juga ilmu-ilmu agama yang lainnya, pesantren juga mengajarkan ilmu-ilmu hidup bermasyarakat atau bersosial. Sebagai Santri atau pelajar yang ada di pesantren diarahkan untuk hidup bersosial, ketika sudah selesai Pendidikan di pesantren. Para santri dituntut agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pendidikan di dalam pesantren juga tidak dibatasi waktu dan tempat. Seorang santri baru bisa dapat dinyatakan lulus jika sang kyai telah menyatakan bahwa santri itu telah layak untuk mengabdi di masyarakat. Jadi, kelulusan seorang santri itu tergantung dari legitimasi kyai kepadanya. Setelah seorang santri selesai dari pesantren, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah memasuki fase pengabdian kepada masyarakat. Banyak bentuk pengabdian itu, salah satunya dengan cara seperti membangun pesantren atau menjadi guru di satu lingkungan masyarakat.

Buku ini menjelaskan, pesantren sangatlah dibutuhkan masyarakat. Dalam buku ini dituliskan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki perhatian besar terhadap pesantren. Dari kalangan anak-anak, orangtua, dan juga seluruh lapisan masyarakat. Sebagai contoh kepedulian dan pehatian para masyarakat terhadap pesantren yang dituliskan dari buku ini adalah ketika para orangtua santri bergotong royong untuk membangun tempat binaan untuk belajar anak-anak mereka.

Ada yang membantu lewat uang dan juga ada yang membantu lewat tenaga. Selain itu, yang memikul biaya keperluan pesantren adalah masyarakat dan juga orangtua santri. Berbagai keperluan belajar seperti, meja, kursi, dan papantulis kebanyakan dari sumbangan orangtua. Jadi, semua barang-barang yang ada di pesantren adalah milik tanggung jawab santri dan juga masyarakat.

Tidak ada kepemilikan individu didalam pesantren, semuanya memiliki tanggung jawab di dalamnya. Pesantren itu ibarat pohon, sedangkan santri, kyai, dan masyarakat adalah seluruh unsur didalam pohon tersebut. Semua orang membutuhkan pohon itu dan setiap masyarakat memiliki tanggung jawab atas pohon itu. Masyarakat harus menyiram dan mengurus pohon itu, karena manfaatnya akan kembali kepada masyarakat itu sendiri. Dari pohon itu, masyarakat bisa mendapatkan tempat yang teduh dan juga dapat mengambil buah dari pohon tersebut.

Inti dari pesantren adalah kyai dan ruhnya (kepribadian). Mengapa? Karena apabila tidak ada seorang kyai, maka pesantren tidak akan ada. Kyai itu sendiri ibarat jantung dari pesantren, apabila jantung tersebut mati, maka seluruh tubuh akan mati. Inti dari pesantren bukanlah dari bangunannya, karena pembelajaran bisa dilakukan di mana saja. Seperti yang ditulis dalam buku ini, para santri belajar di surau, dan hal itu tidak menjadi faktor berhentinya pembelajaran.

Justru di tempat-tempat seperti itulah banyak lahir orang-orang besar. Sebagaimana Rasulullah Saw mendidik para sahabatnya di tempat yang sederhana. Tetapi di sana lahir kader-kader perjuangan Islam seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan juga para sahabat-sahabat lainnya. Oleh karenanya, pesantren menekankan proses pengkaderan. Kepribadian baik sang kyai harus diwariskan kepada penerusnya. Demikianlah pesantren juga berarti soal keteladanan guru-gurunya.

Peran kyai dalam pesantren adalah untuk mendidik santrinya dengan adab dan akhlak yang baik. Dengan adab ini tentu seorang santri akan menjadi orang yang beradab dan bermanfaat bagi masyarakat di segala situasi dan kondisi. Selain itu juga, peran kyai terhadap masyarakat adalah membimbing masyarakat kepada jalan yang benar. kyai juga harus menjadi teladan bagi masyarakat agar para masyarakat mencontoh kyai tersebut. Tentu hal itu pasti memperlukan perjuangan yang besar agar dapat mengubah masyarakat yang ada di lungkungan masyarakat tersebut.

Ada hal menarik dari dalam buku ini, yaitu ketika KH Saifuddin Zuhri memberikan pembagian waktu pendidikan orangtua terhadap anaknya KH Saifuddin Zuhri membaginya secara garis besar menjadi empat macam. Pertama, waktu bermain; kedua, waktu membantu orangtua; ketiga, waktu belajar; keempat, waktu istirahat. Pembagian ini termasuk pandangan-pandangan KH Saifuddin Zuhri ketika ia merintis lembaga pendidikannya sendiri setelah menyelesaikan pelajaran-pelajarannya kepada beberapa guru. Saat ia menjadi seorang guru itulah, pengalamannya berguru dan menjadi seorang santri sangatlah berguna.

Pertama, waktu bermain. Waktu bermain ini menjadi penting, karena dengan orangtua memberikan waktu bermain kepada anaknya, maka anak akan dapat bersosial dan belajar dari lingkungan. Seorang anak nantinya akan banyak bertemu dengan berbagai macam orang dan juga dari situ seorang anak akan banyak belajar. Dari banyak bersosial dengan orang lain, anak akan tahu mana yang baik dan yang buruk. Apabila anak bertemu dengan orang yang baik, maka anak itu akan berusaha mengikuti kebaikannya. Hal ini akan menjadi pengalaman yang berharga untuk sang anak dimasa depan. Dan sebaliknya, apabila anak bertemu dengan orang yang buruk, maka disinilah pentingnya pengawasan orangtua agar anak tidak mengikuti yang buruk tersebut.

Kedua, waktu membantu pekerjaan orangtua. Membantu pekerjaan orangtua juga penting untuk pendidikan anak di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak bahwa bekerja itu perbuatan mulia dan juga sebagai pembiasaan sebelum memasuki masa tanggung-jawab dan berkeluarga. Perlu diingatkan, bahwa tujuan dari hal ini adalah sekedar untuk mendidik, bukan bertujuan akhir untuk dijadikan sebagai pekerja atau buruh. Seperti misalnya membantu orangtua berjualan, dengan cara menjaga tokonya. Agar anak menjadi semangat, maka orangtua boleh memberikan upah untuk anaknya, sebagai tanda terimakasih dari hasil usahanya tersebut. Hal ini juga untuk menanamkan sikap mental kepada sang anak, bahwa “usaha yang paling mulia adalah hasil usaha atau buah tangannya sendiri.”

Ketiga, waktu belajar. Orangtua juga harus memerhatikan tentang pelajaran seorang anak. Jangan sampai orangtua membebaskan anaknya untuk bermain saja di rumah, akan tetapi juga orangtua harus memberikan waktu belajar kepada anaknya untuk mengulang kembali pelajaran di madrasahnya. Hal ini dilakukan agar menjalin ikatan batin antara sekolah dengan rumah. Agar mengajarkan anak bahwa belajar bukan hanya di madrasah saja, akan tetapi juga di rumah.

Keempat, dan yang terakhir adalah waktu istirahat. Penting juga bagi orangtua untuk memberikan waktu istirahat untuk anaknya. Mengapa hal ini menjadi penting? Karena anak-anak biasanya tidak mau tidur ketika siang hari. Maka dari itu orangtua harus memerhatikan anaknya untuk tidur siang, guna untuk mengistirahatkan badan dan juga untuk menjaga kesehatan tubuhnya untuk digunakan kegiatan di sore harinya. Istirahat ini bukan berarti tidur atau tidak melakukan apapun saja, akan tetapi juga bisa dengan melakukan kegiatan yang lain. misalnya seperti ketika sudah penat dengan belajar, maka biasanya bisa melakukan kegiatan seperti menyapu atau membersihkan rumah. Selain itu juga bisa dengan berbicara atau mengajak ngobrol orangtua.

Kesimpulannya adalah pesantren memiliki peran yang besar di lingkungan masyarakat. Pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja, akan tetapi juga ilmu tentang kehidupan. Masyarakat perlunya memberikan perhatian dan kepeduliannya kepada pesantren. Dalam buku ini, yang tak kalah penting adalah keteladanan dan kepribadian orang-orang dari pesantren itu. KH Saifuddin Zuhri misalnya menceritakan sosok guru-gurunya seperti Ustadz Mursyid, yang telah membaur dan berkhidmat dengan masyarakat Sokaraja.

Tak luput juga dari pengamatannya, interaksinya dengan KH Wachid Hasyim sangatlah menarik. Putera dari Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari ini diceritakan KH Saifuddin Zuhri sebagai pribadi/guru yang brilian bagi si penulisnya sendiri. Salah satunya ketika KH Wachid Hasyim telah mempersiapkan pendidikan di pesantren untuk menghadapi tantangan kehidupan sosial politik yang terjadi bukan untuk menyesuaikan perubahan kehidupan tersebut. Dalam memoar KH Saifuddin Zuhri tersebut, ketika zaman pendudukan Jepang terjadi, KH Wachid Hasyim telah mendidik putera-putera pesantren dalam persiapan intelektual yang sangat matang.

Dalam penuturan KH Saifuddin Zuhri, KH Wachid Hasyim berkata: “Saya merasa sangat bersyukur bahwa dulu kami mengadakan pembaruan dalam sistem pesantren …. Seperti saudara ketahui, bertahun-tahun yang lalu, kami adakan pelajaran membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, dan berhitung dalam Pesantren Tebuireng. Sekarang itu diikuti oleh pesantren-pesantren yang lain.”

Bukan sekedar pembaruan dalam maksud modernisasi dan adopsi pendidikan Barat, pembaruan tersebut bermakna agar pesantren dapat menghadapi tantangan kehidupan dan memberi arah masyarakat dengan bimbingan ilmu-ilmu keagamaan utama yang dipelajari di pesantren. Orang-orang pesantren ini, sepatutnya telah memahami hal tersebut.

************

Penulis: Muhammad Rama Sutanto
(Santri PRISTAC Depok, 15 tahun)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan