Berbuat Sesuatu yang Memberikan Manfaat bagi Manusia dan Menjauhkan Bahaya dari Mereka
Wanita Muslimah yang jujur yang jiwanya telah mereguk hidayah agamanya senantiasa berusaha keras untuk menjadi salah satu unsur yang membangun, memberi mantaat dan kebaikan, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk manusia secara keseluruhan. Wanita seperti ini akan selalu mencari kesempatan untuk berbuat kebaikan, sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya, sebagai wujud pengamalan fiman Allah ,
“Dan, berbuatlah kebaikan supaya kalian mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Wanita Muslimah ini juga mengetahui bahwa berbuat kebaikan bagi manusia ini merupakan ibadah, selama hal itu dilandasi karena mencari keridhaan Allah Ta’ala. Pintu-pintu kebaikan itu senantiasa terbuka bagi kaum Muslimin secara keseluruhan dan mereka dapat memasukinya sekehendak hatinya sehingga mereka mendapatkan kemenangan yang berhadiahkan rahmat dan keridhaan Allah SWT. Sedangkan bentuk-bentuk kebaikan itu sendiri sangat banyak dan beraneka ragam, serta ruang lingkupnya pun sangat luas yang dapat dijangkau oleh setiap orang yang berjalan di jalan Allah., Semua amal kebaikan yang mereka lakukan akan dicatat sebagai sedekah, seperti yang dijelaskan Rasulullah ,
“Setiap kebaikan itu adalah sedekah. ” (HR. Bukhari)
Demikian juga sabda beliau berikut ini,
“Kata-kata yang baik itu adalah sedekah. “ (HR. Bukhari)
Bahkan rahmat Allah itu sangat luas, mencakup seluruh wanita Muslimah yang bersih hatinya dan tulus niatnya, sehingga dia dapat mengetahuinya apabila dia berbuat kebaikan atau tidak melakukan kebaikan, dengan syarat berniat untuk menahan diri berbuat kejahatan.
Dari Abu Musa Radhiallahu Anhu, dari Nabi , beliau bersabda,
“Setiap orang Muslim itu wajib bersedekah.” Seorang sahabat ber. tanya, “Bagaimanajika dia tidakmemiliki sesuatu untuk bersedekah?” Beliau menjawab, “Dia bekerja dengan kedua tangannya untuk memberikan manfaat bagi dirinya lalu bersedekah.” “Kemudian bagaimana jika hal itujuga tidak dapat dilakukannya?”, tanya sahabat tersebut. Rasulullah menjawab, “Maka hendaklah dia membantu orang yang membutuhkan bantuan.” Sahabat itu bertanya lagi, “Lalu bagaimana bila hal itu juga tidak dapat dilakukannya ?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia beramar ma’ruf (menyuruh berbuat kebaikan).” “Bagaimana jika dia tidak mampu melakukan hal itu?”, tanya sahabat. Beliau menjawab, “Hendaklah dia menahan diri berbuat kejahatan, sesungguhnya yang demikian itu adalah sedekah.” (Muttafaq Alaih)
Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW telah mengawalinya dengan kalimat “Setiap orang Muslim itu wajib bersedekah.” Kemudian beliau merinci beberapa kebaikan yang karenanya orang Muslim dan Muslimah akan memperoleh pahala sedekah. Dengan demikian, seorang Muslim mempunyai kewajiban bersedekah, atau dengan kata lain dia harus melakukan berbagai perbuatan yang bersifat membangun di masyarakatnya. Apabila karena beberapa sebab dia tidak mampu berbuat kebaikan, maka paling tidak dia harus mencegah lidah dan anggota tubuhnya dari berbuat kejahatan, karena yang demikian itu juga termasuk sedekah. Secara keseluruhan keaktifan dan kepasifan kaum Muslimin dan Muslimah itu adalah untuk menjunjung tinggi kebenaran yang berkembang di masyarakat kaum Muslimin. Orang Muslim adalah,
“Orang Muslim adalah orang-orang yang Muslim yang selamat dari lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari)
Beranjak dari sini, wanita Muslimah senantiasa mencari celah-celah di mana dia dapat berbuat kebaikan dan menghindarkan diri dari perbuatan jahat. Dengan demikian itu dia akan menjadi Muslimah terbaik di masyarakat Islam, seperti yang diberitahukan Rasulullah melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ketika beliau duduk di hadapan orang banyak,
“Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik dari orang- orang yang terburuk di antara kalian? Lalu orang-orang yang ada di hadapannya diam, maka beliau mengulanginya sampai tiga kali. Kemudian seseorang dari mereka menjawab, ‘Mau, ya Rasulullah!” Rasulullah pun berkata, Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang kebaikannya diharapkan dan orang lain aman dari kejahatannya. Sedangkan orang yang terburuk di antara kalian adalah yang kebaikannya diharapkan dan orang lain tidak aman dari kejahatannya’.”
Wanita Muslimah yang benar-benar menyadari keislamannya dan senantiasa menghirup hidayah agamanya yang suci termasuk orang yang kebaikannya diharapkan dan kejahatannya tidak mengganggu (memberikan rasa nyaman). Dia berkeyakinan bahwa kebaikan yang dilakukan di dunia ini tidak akan sia-sia dan usahanya pun tidak akan gagal, karenanya dia akan diberikan pahala di dunia dan di akhirat,
“Barangsiapa melepaskan diri dari orang Mukmin satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan melepaskan dirinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat. Dan, barangsiapa menolong yang mengalami kesulitan, pasti Allah akan menolongnya di dunia dan di akhirat. “ (HR. Muslim)
Wanita Muslimah tidak akan merasa putus asa dalam mengerahkan tenaganya dalam berbuat kebaikan selama dia masih mampu. Yang demikian itu karena dia mengetahui dari petunjuk Rasulullah bahwa menangguhkan atau mengulur-ulur berbuat kebaikan dengan adanya kemampuan mengerjakannya akan menghilangkan nikmat-nikmat yang ada padanya,
“Tidaklah seorang hamba yang diberi suatu nikmat oleh Allah, lalu disempurnakan-Nya nikmat itu, hingga dia dijadikan Allah sebagainhamba yang dibutuhkan oleh orang lain, namun dia merasa jemu karenanya, berarti dia telah membiarkan nikmat itu hilang, “(HR. Thabarani)
Wanita Muslimah juga tidak akan meremehkan amal kebaikan meski berwujud kecil selama masih disertai dengan niat tulus dan ikhlas karena Allah . Amal kebaikan itu mungkin hanya berupa menyingkirkan benda yang dapat menyakitkan kaum Muslimin dan Muslimah. Inilah yang dilukiskan oleh sebagian hadits shahih, di antaranya adalah sabda Rasulullah,
“Aku pernah melihat seorang laki-laki membolak-balikkan tubuhnya di surga karena sebatang pohon di tepian jalan yang ditebangnya, dan mengakibatkan kaum Muslimin terganggu. “ (HR. Muslim)
Kebaikan itu memiliki dua sisi yang setiap Muslim dan Muslimah harus mengerjakannya dan berlomba-lomba mencari keridhaan Allah dengan memberikan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain serta menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dan memba-hayakan dari mereka.
Yang demikian itu karena menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dan membahayakan kaum Muslimin tidak lain merupakan kebaikan dan pemberian sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Keduanya merupakan amal shaleh yang mendatangkan pahala bagi pelakunya. Setiap masyarakat di setiap saat dan tempat senantiasa membutuhkan ke dua amalan tersebut karena dengan keduanya kebaikan akan tersebarluas dan tali-tali cinta kasih antaranggotanya akan semakin kuat, sehingga mereka akan merasakan keindahan dan ketenangan hidup. Inilah yang hendak direalisasikan Islam melalui anjurannya yang tiada henitinya untuk berbuat kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain serta menghin- darkan mereka dari bahaya.
Diantara bimbingan Isam yang mulia dalam menghindarkan sesuatu yang mengganggu dan membahayakan kaum Muslimin adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Barzah, di mana dia menceritakan,
“Aku pernah bertanya, Wahai Nabiyullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dap at aku manfaatkan!’ Beliau menjawab, Singkirkanlah sesuatu yang mengganggu jalannya kaum Muslimin’. “(HR. Muslim)
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan,
“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke surga! Beliau menjawab, ‘Singkirkanlah sesuatu yang dapat menyakitkan dari jalanan orang banyak’.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)
Masyarakat beradab mana yang lebih tinggi dari masyarakat yang dibangun oleh Islam ini, di mana Islam telah menanamkan pada diri setiap individu bahwa di antara amal shaleh yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memasukkan mereka ke dalam surga adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di tengah jalan yang dilalui orang banyak?
Sesungguhnya kemanusiaan zaman sekarang ini sangat membutuhkan adanya masyarakat beradab dan berbudaya tinggi yang dibangun oleh Islam. Di dalamnya setiap individu merasa bahwa partisipasi mereka berbuat kebaikan dan membangun masyarakat dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah dan memasukkan mereka ke surga meskipun amal kebaikan itu hanya berupa menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari tengah jalan. Ada perbedaan jauh antara masyarakat yang memliki kepekaanjiwa, tidak mau menyaksikan sikap tidak peduli dan kemunduran di suatu masyarakat, dengan masyarakat yang masa bodoh terhadap pembentukanjiwa anggota-anggotanya sehingga terlihat mereka tidak mau peduli terhadap sesuatu yang mengganggu dan kotor serta berbagai kerusuhan sehingga penguasa terpaksa mengeluarkan undang-undang dan peraruran yang memberikan sanksi bagi para pelanggarnya.
Betapa besar perbedaan antara masyarakat yang mendapat petunjuk agama ini, yang anggotanya senantiasa aktif menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan sebagai wujud pengamalan perintah Allah dan tamak akan pahala-Nya, dengan masyarakat yang menyimpang dari petunjuk Allah, di mana anggotanya tidak peduli terhadap mereka yang membuang sampan sembarangan, membuangnya dari jendela dan pelataran rumah.
Jika dunia Barat yang berperadaban telah sampai pada tingkat disiplin yang tinggi dengan membiasakan anggota masyarakatnya untuk menghormati dan mengindahkan peraturan serta menerapkannya dengan seksama, maka Islam telah mendahului mereka sejak 15 abad yang lalu dengan perbedaan yang sangat besar dari mereka. Di mana pemeluknya terdorong untuk menjalankan aturan itu dengan ikhlas dan rulus, karena dia berkeyakinan bahwa dengan mengabaikan dan mengacuhkannya merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah, yang akan diberikan siksaan pada hari Kiamat kelak, sedangkan masyarakat Barat memandang pelanggaran terhadap aturan itu tidak lebih dari hanya sekedar kemunduran peradaban, yang terkadang bisa menggores nurani mereka dan terkadang tidak, tidak lebih dari itu. Apalagi jika lepas dari pengawasan pandangan orang lain dan pemantauan penguasa.
Saudariku, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dimana Ketika kita ingin menjadi sebaik-baik manusia maka itu dilihat dari seberapa bermaafnya kita terhadap orang-orang di sekitar kita. Yaitu bagaimana kita memanfaatkan segala kesempatan atau peluang yang ada untuk berbuat baik, untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 325-330)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































