Tahun 2020 telah berakhir dan telah digantikan oleh tahun baru 2021. Sepanjang perjalanan tahun 2020 terjadi banyak peristiwa, salah satu yang terbesar adalah munculnya virus Covid (Corona Virus Disease). Sebagai seorang Muslim, tentunya kita percaya bahwa semuanya yang terjadi di dunia adalah kehendak Allah, yang sudah selayaknya dijadikan pelajaran. Tidak terkecuali pandemic Covid.

“Minor setback for a major comeback”, atau dalam bahasa arabnya al-insihab wa al-’awdah, merupakan suatu analogi yang menggambarkan proses evaluasi diri dari hal yang telah lalu. Di mana kita kemudian mengambil hikmah dan pelajaran dari hal tersebut, dan mempersiapkan diri untuk tantangan di masa depan. Banyak kesalahan di masa lalu yang bisa kita ambil sejarah darinya, mau itu kesalahan dari diri kita sendiri atau pun orang lain. Di antara contoh evaluasi diri yang dapat kita teladani adalah kisah Imam Al-Ghazali.

Tokoh yang dijuluki sebagai “second greatest muslim of Muhammad” ini begitu masyhur dalam sejarah keilmuwan dunia. Kendati telah wafat sekitar 900 tahun lalu, tarikat dan pemikirannya masih begitu relevan dengan dinamika intelektual modern. Tak heran, berbagai bentuk pengkajian telah dilakukan demi mengabadikan perannya. Ia juga dijuluki sebagai Hujjatul Islam, dan ditetapkan sebagai pembaharu (mujaddid) pada abad ke lima Hijriyah. Namun uniknya, di tengah kebesaran perjalanannya sebagai ‘Alim, ia pernah mengalami masa Minor setback for a major comeback, di mana dari titik inilah magnum opusnya Ihya ‘Ulumuddin lahir menguatkan Peradaban Islam.

Pada pembahasan tentang pendidikan, Dr Majid Irsan al-Kilani mengungkapkan dalam karyanya Hakadza Zahara jiilu as-Sholahuddin wa hakadza ‘adatil Quds, bahwa kelak apabila seluruh eksperimen Ishlah mengalami kegagalan, dan pengorbanan yang dipersembahkan juga hanya melahirkan rentetan kekecewaan serta kemunduran terus-menerus. Maka yang harus dilakukan pada saat itu adalah mengevaluasi seluruh aspek pendidikan secara komprehensif, berani, transparan dan efektif.

Langkah ini harus dimulai dari pribadi sendiri, khususnya pengusung ishlah tersebut, yang mengeluarkan mereka pada permasalahan-permasalahan yang berkembang pada saat itu, menuju kepada pelurusan hal-hal yang menyimpang di dalamnya. Cara inilah yang dimaksud dengan al-insihab wa al-’awdah. Dr. Majid juga menjelaskan hubungan antara evaluasi dengan taubat, bahwasanya orang orang yang bertaubat adalah mengaktualisasikan substansi pada hal ini.

Orang-orang yang bertaubat yang dicintai oleh Allah adalah yang melaksanakan taubat dalam seluruh pemikiran, nilai, aktivitas dan gaya. Di antara sekian bentuknya, taubat pemikiran jauh lebih urgen daripada taubat pada aspek perbuatan, karena pemikiran adalah mata rantai pertama dari setiap perilaku yang muncul dari manusia. Sebab sehat atau sakitnya suatu masyarakat tergantung pada sehat atau sakitnya pemikiran yang berkembang pada masyarakat tersebut.

Hal inilah yang dilakukan oleh Imam Al-Ghazali dalam memperbaiki keadaan pada waktu itu, yang mana pada saat itu terjadi banyak faktor yang menyebabkan terebutnya kota suci ummat islam yang ketiga yaitu al-Quds. Tahapan inilah yang memang seharusnya kita lakukan sebagai seorang yang ingin menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini terbukti dengan apa yang di lakukan oleh Imam Al-Ghazali, yang bahkan tak tanggung-tanggung menarik diri dari masyarakat umum hingga 10 tahun.

Kesimpulanya, apa yang sedang kita alami pada hari ini – terkhusus dengan adanya Covid, justru memberikan kita kesempatan untuk lebih maju kedepan. Terlebih hal tersebut harus selalu di dawamkan bagi setiap muslim, di dalam menjalankan perintah dan tugas Allah sebagai Khalifatun fi al-Ardhi.

Sebagai seorang Muslim kita tidak sepatutnya mencela Covid, akan tetapi meletakkannya sebagai anugerah dan kesempatan dari Allah untuk melakukan evaluasi bagi setiap lini kehidupan. Yang demikian bukan suatu yang mustahil untuk di aktualisasikan bagi setiap Muslim pada zaman ini.

Mengingat anak panah tidak akan pernah melaju kencang kedepan apabila tidak ditarik kebelakang, maka kuatnya laju anak panah itu ditentukan oleh seberapa dalam tarikannya. Gambaran yang filosofis ini, tentu tidak berbeda dengan apa yang seharusnya kaum Muslimin lakukan dewasa ini.

*********

Penulis: M. Luthfan Hibatullah
(Mahasiswa At-Taqwa College Angkatan II)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan