Cara Berbakti Yang Baik

Wanita Muslimah yang menyadari ajaran agamanya yang jiwanya selalu terbuka bagi petunjuk Islam dan senantiasa berpegang pada nilai-nilainya yang tinggi akan selalu berbakti dan berbuat baik kepada orangtua dengan cara yang baik. Dalam hal ini, akan mencari cara terbaik dalam berbicara dan bermu’amalah dengannya. Berbicara dengan orangtuanya penuh hormat dan bersopan santun, senantiasa memperhatikan keadaannya dengan penuh pengagungan, merendahkan diri dengan penuh kasih sayang, sebagaimana yang diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur an. Juga tidak alkan mengucapkan kata-kata kasar atau memojokkan keduanya, bagaimanapun kondisi yang ada pada saat itu, senantiasa berpegang pada petunjuk llahi

Dan, Rabb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Apabila salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kalian mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil. ” (Al-Isra’ 23-24).

Terkadang kedua orangtua atau salah seorang dari mereka menyimpang dari garis kebenaran, pada keadaan seperti itu wanita Muslimah yang benar-benar berbakti harus mendekati keduanya dengan cara yang baik, mempergaulinya dengan penuh kelembutan dan rasa kasih sayang. Dia tidak berbuat kasar atau sesuatu yang dapat menyakitkan hati, dan tetap menjaga sopan santun. Selain dia akan tentu berusaha memberikan kepuasan pada keduanya dengan cara-cara terpuji dan menyenangkan, dia lakukan segala sesuatu dengan penuh kesabaran, berbicara dengan penuh kelembutan, kasih sayang, huijah yang kuat, logika yang benar, serta cara sopan lagi bijaksana.

Wanita Muslimah dituntut melakukan kebaikan seperti ini kepada kedua orangtuanya, meskipun keduanya dalam keadaan musyrik. Dia akan senantiasa mengerti bahwa dirinya diwajibkan untuk mempergaulinya dengan sebaik-baiknya. Meski dia mengetahui bahwa syirik itu merupakan perbuatan dosa besar, namun hal itu tidak menghalanginya untuk berbakti kepada keduanya sesuai dengan yang disyari at Isam, agama yang penuh toleransi dan sangat langka. Seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’ala berikut ini:

Dan, Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaanm lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali. Dan, apabila keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya, makajanganlah engkau mengikuu keduanya. Dan, pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku kalian kembali, karenanyaAku beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (Luqman: 14-15).

Dalam Islam, birrul-walidain merupakan suatu yang sangat agung, karena lahir dan tali hubungan yang sangat erat dan dan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi, ikatan antara anak, bapak dan ibu. Tetapi betapa pun tinggi dan agungnya kedudukan, ia tetap berada di bawah hubungan akidah. Oleh karena itu, apabila kedua orangtua musyrik menyuruh putra-putrinya berbuat syirik, maka tidak ada ketaatan bagi putra-putri itu untuk menaati perintah orangtuanya itu, karena tidak ada ketataan bagi seseorang untuk melakukan kemaksiatan kepada sang Khaliq, dan karena hubungan akidah menduduki tempat tertinggi di atas semua hubungan. Namun demikian, sang anak harus tetap berbakti, memelihara dan berbuat baik kepada keduanya.

Bertolak dari hal di atas, wanita Muslimah akan selalu berbakti kepada kedua orangtuanya kapan dan dalam keadaan bagaimana pun. Dia akan selalu berusaha untuk membahagiakan dan menyenangkan hatinya semampu mungkin, dengan tidak keluar dan hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala. Di mana dia akan selalu memberikan perhatian kepadanya, memberikan pelayanan yang menyenangkan dirinya, sering mengunjungi keduanya, serta menemaninya dengan penuh kegembiraan dan kesenangan, lapang dada, juga membawakan hadiah yang baik lagi menggembirakan, dan berkata-kata kepada keduanya dengan kata-kata yang baik lagi sopan.

Demikian itu dilakukannya selama kehidupan orangtuanya, dan setelah keduanya meninggal, wujud bakti wanita Muslimah kepada orangtuanya itu berupa doa, sedekah atas namanya, serta membayar hutang apabila keduanya kepada Allah atau kepada orang lain.

Birrul-walidain dan berbuat baik kepada kedua orangtua merupakan akar akhlak kaum Muslimin dan Muslimat. Oleh karena itu, akhlakpokok dan mulia ini harus tetap dipelihara selama hidup mereka meskipun rintangan kehidupan selalu menghadang serta menumpuknya beban kehidupan, dan banyaknya kesibukan dan tanggung jawab yang dipikulnya.

Yang demikian itu karena akhlak ini sebagai bukti bahwa kelembutan masih terus dan tetap ada di keluarga Islam, dan merupakan bukti adanya pemenuhan hak yang menjadi perhiasan yang dikenakan kaum Muslimin dan Muslimat dalam memperlakukan generasi tua yang sudah banyak pengorbanan dan yang sudah mendekati akhir kehidlupan. Mereka ini sangat membutuhkan kata-kata lembut yang diwarnai kasih sayang, ucapan yang sejuk, tangan halus dan lembut, hati yang dipenuhi cinta dan kasih sayang serta senyuman yang dapat membangkitkan harapan.

Akhlak ini akan menjadi pelindung bagi setiap orang, laki-laki maupun perempuan, dan kekasaran hati, kekeringan perasaan, kedurhakaan dan kekufuran. Dan akhlak ini pula yang akan membantu membukakan pintu-pintu surga.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 133-136)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan