Berbuat Baik kepada Ibu dan Selanjutnya kepada Bapak

Bimbingan Islam telah memerintahkan supaya berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua. Sebagian dari bimbingannya itu menganjurkan supaya berbuat baik dan berbakti kepada ibu dan bapak secara terpisah. Secara keseluruhan bimbingan Islam mengharuskan adanya keseimbangan bagi para putra maupun putri dalam berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua mereka, dan tidak menghendaki adanya pengutamaan satu atas yang lainnya. Sebagian nash menegaskan keharusan mendahulukan berbuat baik dan berbakti kepada ibu atau bapak.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya seseorang yang mendatanginya dan berbai’at untuk berjihad, “Apakah salah seorang dari orangtuamu masih hidup?” Demikian itu merupakan keputusan dari Rasulullah yang mewajibkan berbuat baik dan berbakti kepada keduanya tanpa adanya pilih kasih.

Sedangkan pada Asma’ yang disebutkan di atas, kita dapat melihat Rasulullah memerintahkannya untuk menyambung hubungan dengan ibunya meskipun dia orang yang musyrik.

Pernah datang juga kepada Rasulullah seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?”
Rasulullah menjawab, “Ibumu!”
Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu!”
Dia pun kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?”
“lbumu!” demikian jawaban yang diberikan Rasulullah.
Dan orang itupun bertanya lagi, “Lantas siapa?”
Beliau menjawab, “Bapakmu!”
(Muttafaq Alaih).

Dalam hadits di atas terdapat penekanan dari Rasulullah bahwa berbuat baik dan berbakti kepada ibu lebih didahulukan atas bapak. Para sahabat juga memberikan penegasan yang sama setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . Bahkan Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu menjadikan birrul-walidain sebagai amalan yang paling dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Pada suatu ketika pernah datang kepadanya seorang laki-laki dan mengatakan, “Aku telah melamar seorang wanita, tetapi wanita itu menolak menikah denganku. Lalu dia dilamar oleh laki-laki lain, dan dia senang untuk menikah dengannya, kemudian aku cemburu dengannya, lalu aku membunuh wanita itu. Apakah aku masih dapat bertaubat?
Beliau bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”
Dia menjawab, “Tidak!”
Selanjutnya beliau mengatakan, “Bertaubatlah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya semampu kamu!
Atha’ bin Yasar berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari lbnu Abbas.”
Lalu aku pergi menemui lbnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan mengenai hidup ibunya?”
Ibnu Abbas pun menjauwab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui Suatu amalan yang lebih dekat dengan Allah selain berbakti kepada ibu.”
(HR. Bukhari)

Oleh karena itu dalam bukunya yang berjudul Al-Adabul-Mufrad yang memuat masalah birul-walidain, kita melihat Imam Bukhari mendahulukan berbakti kepada ibu atas bapak, dengan demikian itu merealisasikan keselarasan dan keserasian antara kiasifikasi penulisan isi buku itu dengan kandungan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Al-Qur’an telah membangkitkan perasaan berbuat baik kepada kedua orangtua dalam jiwa anak-anak. Dan, mengingatkan keutamaan ibu atas bapak karena dia telah mengandung dan menyusui serta berbagai kesulitan dan penderitaan yang dirasakannya pada dua periode kehidupan (mengandung dan menyusui) yang menggambarkan kelembutan, pengorbanan yang besar, kasih sayang serta perasaan yang lembut:

Dan, Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yangbertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, Hanya kepada-Ku kamu kembali.” (Qs. Luqman: 14).

Firman Allah yang berbunyi, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tumu,” merupakan pendidikan yang sangat tinggi sekaligus sebagai bimbingan insani yang penuh kasih sayang. Syukur seorang anak kepada kedua orangtua menempati peringkat setelah syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, selain merupakan pangkal dan kebajikan dan amal shaleh. Begitu tinggi kedudukan yang diberikan Islam kepada orang tua.

Ibnu Umar pernah menyaksikan seorang laki-laki Yaman yang thawaf di sekeliling Baitul-Haram seraya menggendong ibunya dan mengatakan, “Aku ini hanyalah onta tumpangannya yang hina, aku telah menggendongnya lebih dari beliau mengandungku, tidakkah engkau melihatku telah membayar jasanya, wahai Ibnu Umar? Ibnu Umar menjawab, “Tidak, tidak sama sekali.” (HR. Bukhari)

Sedangkan Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada pasukan tentara bantuan penduduk Yaman setiap kali beliau bertemu mereka, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?”

Lalu beliau diantarkan menemuinya dan berkata, “Apakah benar engkau ini Uwais bin Amir?”

Uwais menjawab, “Benar!”

Lalu Umar bertanya, “Dan Murad suku Qaran?”

Uwais menjawab, “Benar!”

Kamu pernah terserang penyakit belang, kemudian sembuh kecuali tersisa sebesar logam dirham?” demikian lanjut Umar.

Uwais pun menjawab, “Benar!”

Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?

Dia menjawab, “Masih!”

Selanjutnya Umar bin Khaththab berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama balatentara bantuan penduduk Yaman dan Murad suku Qaran, dia pernah terserang penyakit belang dan kemudian sembuh kecuali bagian badannya sebesar logam dirham, dan dia juga masih mempunyai seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Apabila dia bersumpah karena Allah, niscaya dia diterima-Nya. Maka, apabila kamu dapat memintanya supaya memohonkan ampunan bagimu maka mintalah.’ Oleh karena itu, mohonkanlah ampunan bagiku, wahai Uwais! Lalu Uwais pun memohonkan ampunan baginya.”

Kemudian Uwais berkata kepada Umar bin Khaththab, “Ke mana engkau hendak pergi?”

Umar menjawab, “Aku hendak pergi ke Kufah!” Selanjutnya Umar berkata, “Maukah engkau kutuliskan surat untuk pemimpinnya?”

Uwais menjawab, “Aku lebih senang hidup di tengah-tengah masyarakat kecil.

Setinggi apa kedudukan yang telah didapat oleh Uwais Al-Qarni dalam berbakti kepada Ibunya sehingga Rasulullah berpesan kepada para sahabatnya untuk meminta doa darinya. Semuanya itu menunjukkan kedudukan yang sangat tinggi yang diberikan Islam kepada para ibu, dan menjadikannya lebih awal dari kedudukan para bapak, dengan tidak adanya pengecualian terhadap kedua kedudukan tersebut, dan harus tetap dihormati serta dijunjung tinggi.

Boleh jadi dunia tersenyum kepada para pemudi yang berlayar dalam bahtera rumah tangga yang penuh limpahan kenikmatan, memberikan perhatian hanya kepada suami dan anak cucunya, serta melupakan kedua orangtua dan tidak banyak memberikan perhatian dan tidak juga berbuat baik kepada keduanya serta tidak acuh kepada kondisi yang dialami keduanya.

Tetapi wanita Muslimah yang benar-benar sadar dan berada di bawah bimbingan Islam akan selamat dari kelengahan dan kealpaan itu, karena dia selalu mengingat pesan Al-Qur’an dan hadits nabawi mengenai birrul walidain, dan tanpa enggan dia menerima keberadaan kedua orangtuanya, memperhatikan keadaan kedua, segera berbakti dan berbuat baik kepada keduanya, kapan dan di mana saja, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

**********

Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 130-133)

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan